Pendakian Paling Was-Was Dalam Hidup Saya

Penulis : Niko Tujuhlangit

Dulu, ketika masih single, salah satu impian saya adalah ingin membawa istri mendaki gunung. Di dalam benak saya, pasti seru mendaki bareng istri. Setelah menikah, akhirnya impian itu kesampaian, dalam sebuah pendakian Semeru.

Berbekal pengalaman dua kali mendaki Semeru sebelumnya, saya yakin bisa membawa istri sampai ke Danau Ranukumbolo. Saya memang cuma membatasi pendakian sampai Danau Ranukumbolo dengan beberapa pertimbangan.

Saya di Oro-Oro Ombo, Semeru. Waktu pendakian kedua.
Foto oleh Dahlia Kosasih

Pendakian kali ini adalah pendakian yang membuat saya was-was. Dan tentunya paling “berat” dari pendakian yang pernah saya jalani sebelumnya. Was-was karena kali ini saya bawa istri. Mendaki bareng teman saja kita tetap bertanggung jawab atas keselamatan teman, apalagi bawa istri! Beban mental dan tanggung jawabnya lebih besar. Maklum belahan jiwa soalnya. Apalagi yang namanya suami adalah pemimpin, jadi mesti tanggung jawab atas keselamatan istri :D. Ditambah istri memang selama ini tidak hobby mendaki gunung. Selain itu sebagai suami, saya tahu persis seperti apa kemampuan istri baik dari sisi fisik maupun mental. Faktor lainnya yang membuat saya was-was, karena sudah cukup lama saya tidak mendaki gunung. Tentunya fisik dan stamina tidak sesegar dahulu ketika masih single.

Demi menjaga tanggung jawab sebagai suami dan fokus menjaga istri selama pendakian, akhirnya saya memutuskan menyewa porter untuk membawa barang2 (*Alasan klise sebenarnya. Padahal memang sudah gak kuat bawa keril. Maklum sudah berumur..ha..ha..:D). .

Bersama istri di Pasar Tumpang. Foto oleh salah seorang teman yang kmai temui di Pasar Tumpang

Singkat cerita (kisah lengkapnya akan saya tulis di tulisan terpisah nanti), pendakian ternyata tidak berjalan semulus yang saya perkirakan. Niat awal saya ingin memulai pendakian sepagi mungkin agar bisa santai. Akan tetapi karena berbagai hal, jadilah kami berdua baru memulai pendakian sekitar pukul 15.00 :(. Kondisi semakin menantang ketika kacamata saya hilang di Musholla Ranu Pane, persis sebelum saya dan istri memulai pendakian. Ini juga salah satu faktor yang membuat pendakian menjadi molor. Dengan mata minus, tentu akan semakin challenging.

Akhirnya setelah mempertimbangkan berbagai hal, saya memutuskan melanjutkan pendakian. Alhamdulillah, meskipun memakan waktu lama, saya dan istri sampai juga di Danau Ranukumbolo. Dan salutnya istri ternyata kuat selama dalam perjalanan. Di atas ekspektasi yang saya perkirakan. Bahkan istri jarang sekali minum. Ini diluar dugaan saya, karena prediksi saya istri pasti akan banyak minum karena belum terbiasa mendaki gunung.

Kami hanya semalam di Danau Ranukumbolo. Meskipun sebentar, namun saya bahagia bisa membawa istri menyaksikan indahnya Danau Ranukumbolo dan Oro-Oro Ombo, serta merasakan syahdunya udara dan nuansa pegunungan.

Mimpi saya selanjutnya ingin membawa istri mendaki Gunung Rinjani. Semoga kesampaian. Bagaimana dengan kamu? Sudah pernahkan mendaki gunung bersama pasanganmu (suami atau istri)?

Please follow and like us:
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *