Jelajah Pulau Weh (Bagian 1): Pantai Anoi Itam

Oleh: Niko Tujuhlangit

Pagi itu selepas sarapan, saya berbincang sejenak dengan Mr. Freddie dan seorang pekerjanya di salah satu ruangan di area bungalow miliknya. Mr Freddie sudah bertahun-tahun menetap di Pulau Weh atau pulau yang sering juga orang menyebutnya dengan Sabang. Ia cukup terkenal disana. Saya sempat berpikir apa yah yang membuat seorang Freddie ini mau pergi jauh-jauh dari kampung halamannya dan memilih tinggal bertahun-tahun lamanya di sebuah pulau yang bernama Pulau Weh, yang notabene nun jauh disana diseberang samudra. Jauh dari kampung halamannya dan sanak kerabatnya. Saya aja baru duduk setengah hari di teras warung makannya yang kebetulan langsung menghadap laut, sudah rindu untuk bertemu kawan-kawan dan saudara. Meskipun tidak bisa dipungkiri rasanya memang tempat ini cocok sekali untuk menyepi dan menentramkan hati. Freddie merupakan pemilik bungalow Freddies Santai Sumur Tiga. Sumur Tiga adalah nama sebuah daerah di Kota Sabang, Pulau Weh dan bungalow-bungalownya tersebut dibangun persis di salah satu pesisir Pantai Sumur Tiga. Jadi kalau anda menginap disini, maka bungalow-bungalownya akan langsung berhadapan dengan laut dan pantai yang indah….hmmm…. Penginapan yang asyik bukan? 

Pemandangan Pantai Sumur Tiga diambil dari Bungalow Freddies Santai Sumur Tiga tempat saya menginap

Pagi itu saya bertanya-tanya sedikit kepada mereka berdua tentang Pulau Weh, khususnya objek-objek wisatanya. Pekerjanya memberikan selembar kertas seukuran A4 yang berisikan peta Pulau Weh dimana didalamnya tercantum berbagai objek wisata. Peta ini cukup membantu saya dalam mengeksplor Pulau Weh dan memberikan gambaran arah dan posisi objek-objek wisata tersebut. Setelah berbincang-bincang, akhirnya sayapun bergegas menggeber sepeda motor pinjaman salah seorang pekerja disana. Sebenarnya waktu itu tidak ada lagi sepeda motor yang free. Jadi, beruntung sekali saya mendapatkan pinjaman tersebut. Karena kalau tidak, saya mesti mencari-cari lagi dan itu pasti akan menyita waktu karena posisi Freddies Santai Sumur Tiga yang cukup jauh dari pusat kota dan minimnya transportasi umum menuju kesana. Saat pertama kali sampai di Pulau Weh, saya menuju Freddies Santai Sumur Tiga dengan menggunakan ojek dari Pelabuhan Balohan.

Biaya sewa sepeda motor tersebut 100 ribu perhari. Sebenarnya bisa saja saya menawar, tapi saya pribadi memang pada “saat-saat tertentu” lebih memilih untuk tidak menawar. Hari itu saya mengunjungi beberapa objek salah satunya adalah sebuah pantai yang katanya berpasir hitam. Yup, pasirnya berwarna hitam. Berdasarkan peta, sepertinya pantai ini tidak terlalu sulit untuk dicapai dari Sumur Tiga. Dan benar saja. Jalan menuju kesana cukup mulus dan sepi. Saya benar-benar menikmati bersepeda motor. Jalan-jalannya terbentang menyusuri pinggir-pinggir pulau. Jadi kalau dari Freddies Santai Sumur Tiga, kita dapat menyaksikan pemandangan laut yang indah di sebelah kiri. Saya bahkan berkali-kali tidak sanggup menahan godaan untuk menoleh dan menoleh lagi ke arah laut. Selain itu, jalannya yang berbelok-belok membuat perjalanan terasa semakin asyik.

Beginilah model jalan menuju Pantai Anoi Itam dari Sumur Tiga

Setelah kurang lebih 30 menit bersepeda motor akhirnya saya sampai juga di Pantai Anoi Itam. Tapi, kok sepi? Tidak satu orangpun saya temui disana. Hmmm..ada apakah gerangan? Deng….deng…Eehh..Ternyata gak ada apa-apa …he..he…Kata salah seorang ibu di warung yang saya singgahi sepulangnya dari Pantai Anoi Itam, pantai ini memang biasanya baru ramai dikunjungi saat weekend atau hari libur. Jadi ceritanya teman-teman, waktu itu saya solo-traveling ke Pulau Weh memang bukan pada hari libur alias saat weekdays.

Pantai Anoi Itam terletak di Desa Anoi Itam, Kota Sabang, Pulau Weh. Pantai ini berjarak kurang lebih 12 km dari pusat Kota Sabang. Untuk menuju kesini berdasarkan pengamatan saya, tidak ada transportasi umum. Jadi ada baiknya anda menyewa mobil atau sepeda motor. Di Pulau Weh, seru loh bersepeda motor. Simak tulisan saya tentang bersepeda motor di Pulau Weh. Klik disini dan disini.

Hal yang membuat unik pantai ini adalah pasirnya yang berwarna hitam dan berukuran sedikit lebih besar. Jarang sekali kita bisa menjumpai pasir pantai yang berwarna hitam. Biasanya yang ada di pikiran kita adalah pantai itu berpasir putih. Konon katanya pasir pantai ini berwarna hitam karena mengandung komposisi Nikel yang cukup tinggi. Pantai ini merupakan pantai berkarang dengan ombak yang cukup besar.

Pantai Anoi Itam

Disekitar pantai terdapat warung-warung yang menjajakan makanan dan aneka cemilan. Tidak jauh dari pantai terdapat sebuah tebing atau bukit. Disini kita bisa menjumpai sebuah benteng peninggalan Jepang. Untuk menuju kesana dari Pantai Anoi Itam kita berbalik arah kembali sekitar 100 meter. Disebelah kanan jalan raya terdapat jalan setapak menuju ke atas bukit. Waktu itu saya membawa motor agak ke dalam menyusuri jalan setapak hingga di kaki bukit. Dari situ kita kemudian dapat berjalan kaki menaiki anak tangga sejauh kurang lebih 100 meter ke atas bukit.

Jalan menuju benteng

Begitu sampai kita dapat menyaksikan sebuah bunker dan meriam. Dari sini kita dapat menyaksikan hamparan Samudra Hindia. Mungkin bisa jadi dulu benteng ini digunakan sebagai menara pengawasan oleh tentara Jepang.

Selain itu, dari atas bukit ini kita juga dapat menyaksikan Pantai Anoi Itam dengan jelas.
Pantai Anoi Itam dilihat dari lokasi benteng

Perjalanan di Pantai Anoi Itam hari itu saya tutup dengan makan di warung yang terletak persis di pinggir jalan masuk ke area benteng.

Please follow and like us:
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *