Jalan-Jalan ke Jembatan Ampera Palembang

Oleh: Niko Tujuhlangit

Hobby memang kadang tidak kenal waktu. Itulah juga yang saya rasakan. Meskipun tidak punya banyak waktu, sempat-sempatnya saya berkunjung ke salah satu jembatan “legendaris” dan kebanggan masyarakat Palembang satu ini; Jembatan Ampera.

Singkat cerita, hari itu saya mendarat juga di Palembang setelah kurang lebih 1 jam menaiki burung besi dari Jakarta. Dari bandara sayapun melanjutkan perjalanan menuju Hotel Grand Zuhri, Palembang, tempat dimana saya akan menginap. Ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Kota “Empek-Empek”. Ada yang berbeda dari kota ini karena beberapa waktu lagi kota ini akan menggelar salah satu event olahraga terakbar di Asia Tenggara, SEA Games. Banyak terlihat pembangunan disana-sini.

Setelah kurang lebih satu jam perjalanan, akhirnya saya sampai juga di hotel. Hmm..tidak terlalu besar, tapi lucu dan minimalis. Itu kesan pertama saya tentang hotel satu ini. Setelah check-in saya langsung bergegas ke kamar. Sudah tidak sabar ingin merebahkan badan. Hari itu saya tidak kemana-mana karena waktu yang juga agak mepet. Jadi lebih baik istirahat sambil ngemil :).

Yang namanya kunjungan singkat dan tanpa persiapan, maka bisa dipastikan tidak banyak info mengenai tempat pariwisata yang saya ketahui..he..he.. Jujur, cuma satu objek yang melekat di kepala saya sebelum berangkat ke Palembang; Jembatan Ampera! 🙂 . Jadilah saya membulatkan tekad untuk berkunjung ke Jembatan Ampera. Objek lainnya? Nanti saja pikir saya…

Hari yang dinantipun tiba, karena tidak banyak persiapan, akhirnya saya terpaksa mengeluarkan jurus pamungkas. Apa itu? Apalagi kalau bukan nanya sana-sini :). Dan pertanyaanpun berawal dari hotel tempat saya menginap. Setelah bertanya kepada petugas hotel, ternyata saya bisa menaiki angkot yang lewat di depan hotel. Setelah kurang lebih 25 menit naik angkot akhirnya saya turun di sebuah area pasar yang sangat ramai. Saya juga sudah lupa persis apa namanya. Dari situ saya lanjutkan berjalan kaki menyusuri keramaian. Di kiri-kanan jalan banyak bertebaran pedagang. Mobil dan sepeda motor berseliweran dimana-dimana.

Ada sekitar kurang lebih 200 meter saya berjalan kaki sebelum akhirnya sampai di sebuah bundaran. Didekat bundaran ini terdapat sebuah mesjid yakni Mesjid Agung Palembang. Dari sini maka kita sudah bisa menyaksikan Jembatan Ampera itu.

Saya sempat berputar-putar dulu di area bundaran dan sekitar mesjid sebelum menuju ke jembatan. Dari bundaran saya kemudian berjalan kaki ke arah jembatan. Ramai orang lalu lalang. Auman kendaraan bermotor semakin membuat riuh suasana sore itu. Tak perlu waktu lama, akhirnya saya menginjakkan kaki juga di jembatan ini. Dari atas terlihat dengan jelas gagahnya Sungai Musi. Di sebelahnya sepertinya pasar karena ramai orang berjualan. Deretan perahu dan kapal juga terlihat dipinggiran sungai.

Saya terus berjalan kaki hingga ke bagian ujung jembatan yang satunya lagi sambil sesekali berhenti untuk memotret. Jembatan Ampera (singkatan dari Amanat Penderitaan Rakyat) merupakan salah satu jembatan yang sangat terkenal di tanah air. Jembatan ini dibangun pada tahun 1962 dan diresmikan pada tahun 1965. Atas keinginan masyarakat, jembatan ini akhirnya berhasil didirikan setelah mendapat persetujuan dari Presiden Indonesia kala itu, Bung Karno. Jembatan yang dibangun di atas salah satu sungai terpanjang di Indonesia ini menghubungkan daerah Seberang Ulu di bagian Selatan dan Seberang Ilir di Utara. Awalnya dulu jembatan ini dinamai Jembatan Bung Karno namun kemudian diganti menjadi Jembatan Ampera. Dulu jembatan ini bisa diangkat bagian tengahnya sehingga kapal-kapal yang berukuran tinggi dan besar bisa lewat. Namun sekarang tidak bisa lagi. Salah satu penampakan yang menonjol dari jembatan ini adalah adanya dua menara yang berjarak sekitar 70-an meter satu sama lainnya. Melihat dua menara ini mungkin mengingatkan kita pada salah satu jembatan terkenal di Amerika; Jembatan Golden Gate di San Fransisco :).

Sesampainya di bagian ujung jembatan, saya kembali menyempatkan diri memotret. Setelah itu saya kembali naik ke jembatan kembali lagi ke arah bundaran. Hari sudah hampir gelap. Mataharipun sudah mulai turun ke peraduan. Hari semakin gelap tapi justru itu semakin indah suasana di jembatan ini. Ketika sampai ditengah jembatan saya kembali memotret.

Perjalanan ke Jembatan Ampera hari itu saya tutup dengan singgah di Mesjid Agung.

Please follow and like us:
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *