Headlamp Untuk Bapak Penambang Belerang Kawah Ijen

Foto: Niko Tujuhlangit

“Dimana belinya dan berapa harganya?” Begitu kira-kira bapak tersebut bertanya kepada saya tentang headlamp yang saya kenakan. Sebaris pertanyaan yang terlontar dalam sebuah percakapan singkat antara saya dan seorang bapak penambang Belerang Kawah Ijen, dalam pendakian menuju Kawah Gunung Ijen.

Meskipun tidak terlontar pernyataan secara eksplisit dari mulutnya, namun dari tutur kata, raut wajah dan binar matanya saya bisa menangkap bahwa beliau tertarik dengan headlamp yang melekat di kepala saya. Saat itu, entah bagaimana terbersit keinginan di hati saya untuk memberikan headlamp tersebut kepada beliau. Namun sayang, hingga percakapan berakhir sebersit niat tersebut tidak terealisasi karena ”ego” di dalam diri saya. Sebuah keputusan yang akhirnya membuat saya menyesal setelah pulang dari sana. Harga headlamp tersebut hampir sama dengan tiga atau empat kali upah beliau membawa puluhan kilo Belerang dari Kawah Gunung Ijen! Yup, Bapak tersebut harus turun naik Gunung Ijen sekitar tiga atau empat kali sambil membawa puluhan kilo Belerang untuk bisa mendapatkan headlamp yang melekat di kepala saya!

Ketika hari masih gelap dan matahari belum bangun dari peraduannya, saya dan beberapa orang teman sudah mulai berjalan mendaki menuju Kawah Gunung Ijen. Dinginnya udara pegunungan begitu terasa menusuk tulang. Di sepanjang perjalanan, selain pemandangan alam, ada satu hal menarik yang menyedot perhatian saya. Kami sering berpapasan dengan sejumlah pria yang membawa dua buah bakul yang dihubungkan dengan sebatang kayu antara satu dengan yang lainnya. Bakul-bakul ini ditaruh di pundaknya. Mereka adalah para penambang Belerang Kawah Ijen.

Hampir sebagian besar penambang tersebut atau mungkin seluruhnya adalah laki-laki. Tidak sedikit diantara mereka sudah berusia lanjut dan sudah berpuluh-puluh tahun menjalani profesi sebagai penambang Belerang di Kawah Ijen. Setiap harinya mereka harus mendaki Gunung Ijen untuk mengambil bongkahan Belerang yang terdapat di Kawah Ijen. Bongkahan tersebut kemudian dibawa kebawah dengan menggunakan bakul untuk disetorkan kepada perusahaan yang akan mengolah bongkahan-bongkahan Belerang tersebut.

Kawah Ijen yang kaya akan Belerang
Foto: Niko Tujuhlangit

Anda tahu berapa berat bongkahan Belerang yang dipikul oleh para penambang Belerang ini? Rata-rata seorang penambang bisa membawa 60-70 Kg bongkahan Belerang dalam satu kali sesi bahkan ada yang bisa lebih dari itu! Beberapa orang diantara mereka ada yang bisa turun naik Gunung Ijen sebanyak dua hingga tiga kali dalam sehari. Itu artinya dalam sehari mereka bisa mengangkut sekitar 150-200 Kg bongkahan Belerang! Sebuah hal yang menurut saya luar biasa. Bagaimana tidak, selain beban yang berat dan menuruni gunung, cuaca yang dingin, para penambang ini juga rentan terhadap serangan penyakit akibat terlalu banyak menghirup asap Belerang.

Hal lain yang membuat saya kagum adalah beberapa penambang ini ada yang mendaki pada dini hari disaat orang lain masih tertidur lelap. Dalam gelapnya malam. Saat saya dan teman-teman lainnya baru saja memulai pendakian menuju Kawah Ijen di pagi buta, beberapa penambang justru sudah turun sambil membawa bongkahan Belerang.

Anda tahu berapa mereka dibayar untuk setiap kilogram bongkahan Belerang yang berhasil dibawa turun kebawah? Untuk setiap kilogram bongkahan Belerang para penambang ini mendapatkan upah sekitar 600-700 perak (tahun 2010)! Itu artinya kalau dalam sekali angkut (sekali turun naik Gunung Ijen) mereka bisa membawa 70 kilogram, upah yang mereka terima adalah sekitar Rp 45.000,-! Jika mereka sanggup turun naik sebanyak tiga kali dalam sehari, berarti mereka bisa membawa pulang sekitar Rp 150.000,- per hari. Jumlah yang masih kurang dari harga headlamp yang saya bawa saat berkunjung kesana!

Pekerjaan yang berat memang. Tapi apa hendak dikata. Begitulah hidup. Tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk merasakan pekerjaan yang menyenangkan dengan penghasilan yang melimpah.

Banyak hal menarik dan pelajaran yang bisa kita temukan saat menjelajah berbagai tempat di negeri ini. Bertemu beraneka ragam orang, suku, serta gaya hidup yang berbeda-beda membuat langit terasa lapang. Pengalaman yang tidak bisa dibeli dengan apapun. Terjun menyusuri alam, menikmati udara pegunungan, merasakan hangatnya mentari pagi tanpa ada hiruk pikuk kendaraan, membuat saya selalu sadar bahwa ada banyak hal menarik diluar sana, jauh dibalik tingginya gedung-gedung pencakar langit dan rutinitas harian yang mungkin sering membuat saya lupa akan harmoni dan nyanyian kehidupan. 

Please follow and like us:
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *