Bromo, Gunung yang Tak Pernah “Tidur”

Ditulis oleh : Heni Mulyati

Keindahan Gunung Bromo dan sekitarnya telah memberikan magnet tersendiri bagi saya. Meski tahun 2009 silam pernah ke tempat ini dengan nebeng motor dari Probolinggo, tahun 2012 ini saya kembali diberi kesempatan langka menikmati suasana dan keindahan mahakarya Ilahi ini. Kenapa kesempatan langka? Karena saya kesana pada saat musim liburan Idul Fitri.Itu artinya kesempatan mendapatkan tiket kereta sangatlah langka. Harus berebut dengan ratusan ribu pemudik. Keberuntungan sedang berpihak pada saya rupanya. Hehehe… Alhamdulillah…. sesuatu. Kedua, ini kali pertama saya camping di Gunung Bromo. 

Kamis, 23 Agustus 2012 kereta ekonomi Kerta Jaya Lebaran meninggalkan Stasiun Pasar Senen menuju Stasiun Pasar Turi (Surabaya). Sistem kereta berdasarkan kartu identitas memberikan keuntungan lain yaitu tidak nampaknya penumpukan penumpang di dalam gerbong. 12 jam di perjalanan tidak terlalu terasa melelahkan. Sekitar jam 7 pagi saya tiba di Stasiun Pasar Turi lengkap dengan tas keril dan teman-temannya.

Dari stasiun saya pun bergegas ke Terminal Bungurasih. Karena saya tidak terlalu paham dengan kendaraan, saya pun naik ojek. Dengan jarak yang lumayan jauh tersebut, saya bayar 30 ribu. Tidak tega dengan si bapak tua pembawa ojek. Di terminal sudah menanti lima orang lainnya (Kris, Ana, Leo, Winda, dan Selni). Mayoritas adalah orang-orang yang pertama kali saya temui, kecuali Kris. Dari terminal, kami naik bus ke arah Probolinggo dengan biaya 23 ribu. Dari Probolinggo lanjut ke Bromo dengan elf.

Siang hari, sekitar jam 1 kami tiba di Cemoro Lawang (pintu masuk kawasan Bromo). Sempat diskusi dimana kami akan berkemah malam itu. Kami pun memutuskan ke Penanjakan 1 yang konon view paling bagus melihat keindahan alam disana. Sebelum Penanjakan 1 ada Penanjakan 2. Ojek dan elf sempat menawarkan kami sampai ke Penanjakan 2. Kami memutuskan jalan kaki karena jaraknya konon 3 km saja.

Kami pun mulai menyusuri jalan ke atas, atas, atas dan mulai ngos-ngosan juga. Apalagi beban kami tidak sedikit. Sempat menyesal juga menolak tawaran tadi… hahaha… Well, perjuangan harus dilanjutkan. Keindahan di kiri dan kanan kami menjadi hiburan tersendiri bagi kami. Akhirnya, mengingat waktu dan tenaga, kami memutuskan membuka tenda di Penanjakan 2. 

Dua tenda kami buka dan sama seperti aktivitas lainnya ketika camping adalah masak-masak. Sesi yang paling menyenangkan. Ditambah api unggun sebagai pengusir dinginnya udara kala itu. Di bawah sana saya bisa melihat pemandangan Cemoro Lawang di malam hari. Indah sekali. Bermandikan cahaya. Mengingatkan saya dengan kota Bandung malam hari. Momen ini pun saya abadikan dengan kamera saya.

Ada yang tak biasa, yaitu keindahan bulan di atas saya. Lingkaran di sekitar bulan menambah suasana malam itu semakin menakjubkan Bintang-bintang nampak jelas. Menunjukkan bahwa tidak adanya polusi di atas sana. Ah! sangat beda dengan Jakarta. Ramainya pengunjung saat itu membuat kota di bawah sana lebih hidup. Dari kejauhan nampak lampu sorot menembus padang pasir. Mereka dari berbagai arah, dari Pasuruan maupun Malang. Mungkin untuk satu tujuan mereka ke sini, sunrise

Camping memberikan keuntungan tersendiri untuk menikmati sunrise. Tinggal buka tenda dan… jreng..jreng… sudah banyak orang rupanya. Jam 4 pagi kami sudah mendengar langkah-langkah kaki dan orang bercakap-cakap dengan bahasanya masing-masing. Rupanya orang-orang bule ini tak mau kehilangan momen langka tersebut.

Kamera saya tak berhentinya mengabadikan pagi itu. Ramahnya penduduk, jaringan komunikasi yang baik, dan alam yang cantik, membuatnya jadi perpaduan yang sempurna. Ramainya pengunjung membuat gunung ini layak disebut gunung yang tak pernah ‘tidur’.  

Terlihat Pemandangan Gunung Bromo dan Semeru di kejauhan. (Foto oleh Heni Mulyati)
Bulan di atas Bromo. (Foto oleh Heni Mulyati)
Cemoro Lawang di malam hari. (Foto oleh Heni Mulyati)
Suasana menjelang sunrise. (Foto oleh Heni Mulyati)
Mengintip Cemoro Lawang. (Foto oleh Heni Mulyati)
Awan sore di Bromo. (Foto oleh Heni Mulyati)

Kontributor : Heni Mulyati

Heni Mulyati telah bergelut dengan dunia sosial lebih dari 10 tahun. HIV & AIDS, konseling remaja, lapas anak, maupun kesehatan reproduksi adalah bidang yang pernah digelutinya. Selain hobby bergaul dengan banyak orang, diapun suka bergaul dan bercengkerama dengan alam. Mengagumi ciptaan-Nya membuat  dirinya merasa kerdil di hadapan-Nya. Saat ini  Heni menjadi konselor sekolah di salah satu sekolah swasta Islam. Selain terlibat dalam berbagai kegiatan sosial, ia juga menjadi MC atau fasilitator berbagai event.  “Hidup adalah pelajaran, maka jangan pernah lelah belajar dari kehidupan”, “Sedang belajar dengan hidup dan kehidupan”, demikian beberapa mottonya.

Please follow and like us:
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *