12 Tips Berkunjung Ke Desa Waerebo

Oleh: Niko Tujuhlangit 

Desa Waerebo merupakan sebuah kampung adat yang terletak di Flores, Nusa Tenggara Timur. Persisnya di Desa Satar Lenda, Kecamatan Satarmese Barat, Kabupaten Manggarai Barat. Penghuni desa ini berasal dari Suku Modo. Desa ini pernah mendapatkan penghargaan dari PBB. Rumah tradisional Mbaru Niang, Waerebo, pernah mendapatkan penghargaan dari UNESCO dalam kaitannya dengan konservasi warisan budaya. Masyarakat disini masih mempertahankan tradisi dan budaya lama secara turun temurun. Saat ini Desa Waerebo menjadi salah satu destinasi wisata di Flores yang cukup banyak menarik perhatian wisatawan terutama wisatawan mancanegara. Dari buku tamu yang kami lihat disana, salah satunya pengunjung terbanyak datang dari Belanda. Dari hari ke hari jumlah pengunjung terus bertumbuh.

Desa Waerebo

Nah, jika anda berniat ingin mengunjungi Desa Waerebo, berikut beberapa tips berdasarkan perjalanan saya dan tiga orang teman kesana.

1. Waktu

Hal pertama yang perlu diperhatikan ketika berkunjung ke Waerebo adalah waktu. Topografi Flores berbukit-bukit dengan jalan-jalan yang berbelok-belok. Untuk mencapai Desa Waerebo akan memakan waktu berjam-jam. Apalagi jika anda menggunakan angkutan umum.

Berikut gambaran rute ke Waerebo. Waerebo dapat dicapai dari berbagai arah. Bisa dari Labuan Bajo bisa juga dari Ruteng. Silahkan anda lihat peta sederhana berikut untuk lebih memahami posisi daerah-daerah tersebut.

Waktu itu kami berempat menuju Waerebo dari Labuan Bajo, karena waktu itu sebelum ke Waerebo kami sailing selama dua hari satu malam ke beberapa pulau salah satunya ke Pulau Komodo. Nah, rute yang kami tempuh waktu itu adalah Labuan Bajo-Lembor-Pela-Todo-Narang-Dintor-Denge-Waerebo. Dibutuhkan waktu kurang lebih 6 jam dari Labuan Bajo hingga ke Denge (dengan menyewa mobil). Desa Denge merupakan desa terakhir sebelum Waerebo. Dari Denge ke Waerebo kita sudah harus berjalan kaki. Dalam waktu normal perjalanan dari Denge ke Waerebo dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 3,5 jam.

Nah, secara total jika misalnya anda start dari Labuan Bajo, dibutuhkan waktu kurang lebih 8-10 jam untuk bisa sampai di Desa Waerebo. Artinya apa? Jika anda katakanlah berangkat jam enam pagi dari Labuan Bajo, maka secara hitungan kasar anda baru akan sampai di Waerebo sekitar pukul 14.00-16.00 siang. Itu jika anda terus tanpa berhenti. Bagaimana jika seandainya anda menggunakan angkutan umum? Tentunya anda harus mencadangkan waktu lebih dari waktu normal. Mengingat masih minimnya transportasi dari Labuan Bajo ke Denge. Jalan menuju Desa Denge juga tidak begitu mulus terutama selepas Pela.

Mengingat waktu tempuh yang berjam-jam, maka ada baiknya mencadangkan waktu lebih untuk berkunjung ke Waerebo agar anda dan rombongan bisa lebih santai dan tidak terburu-buru. Selain itu tentunya anda bisa lebih menikmati keasrian dan tradisi Waerebo yang menarik itu.

2. Transportasi

Seperti sudah disebutkan diatas, transportasi umum di Flores dan ke Waerebo khususnya boleh dikatakan masih minim. Berdasarkan informasi yang kami peroleh saat berkunjung kesana, angkutan umum langsung dari Labuan Bajo ke Denge belum ada. Jika anda berangkat dari Labuan Bajo menuju Denge, maka anda harus melewati Ruteng terlebih dahulu. Artinya akan sedikit berputar. Berdasarkan informasi dari masyarakat setempat yang kami peroleh saat berkunjung kesana, dari Ruteng ke Denge jadwal angkutan umumnya adalah jam 11.00. Dari Ruteng ke Denge bisa memakan waktu kurang lebih 4-5 jam. Sedangkan angkutan umum dari Denge ke Ruteng berangkat jam 04.00 dini hari. Mohon dicek kembali kalau anda hendak kesana karena bisa saja jadwal dan rutenya berubah. Bagi anda yang memiliki keterbatasan waktu tentunya pilihan angkutan umum mungkin kurang efektif.

Salah satu solusi dari hal di atas adalah menyewa mobil. Kekurangannya kalau menyewa mobil tentunya diperlukan extra budget. Tapi jika anda pergi beramai-ramai dengan teman, katakanlah misalnya berempat hingga berenam, maka mungkin opsi menyewa mobil lebih efektif. Dengan pergi beramai-ramai biaya sewa mobil dapat dibagi sehingga biaya dapat ditekan. Anda dapat lebih menghemat waktu dan tentunya lebih leluasa.

3. Penginapan

Mencari penginapan di sepanjang rute dari Labuan Bajo hingga Denge tidaklah mudah. Oleh karena itu, jadwal keberangkatan anda menuju Waerebo akan sangat berpengaruh terhadap penentuan penginapan. Penginapan diantaranya dapat ditemukan di Desa Dintor dan Desa Denge. Jika memungkinkan, usahakan anda sudah sampai di Desa Denge sebelum matahari tenggelam. Desa Denge adalah desa terakhir sebelum ke Waerebo. Jalan menuju Denge masih dapat dilalui mobil. Nah di Desa Denge anda dapat menginap di rumah Pak Blasius Monta (0812339350775). Kami waktu itu menginap semalam di rumah beliau sebelum menuju Desa Waerebo. Sebaiknya anda menelpon atau sms terlebih dahulu kepada beliau sebelum kesana. Terkadang beliau sulit ditelpon karena sinyal yang kurang bagus di Denge. Kalau anda tidak berhasil menelpon, sms saja. Di rumah Pak Blasius terdapat 11 kamar. Waktu itu kami dikenai tarif Rp 150 ribu per orang. Jika anda menginap di Dintor, anda harus menuju Denge tentunya. Dari Dintor menuju Denge anda dapat menyewa ojek. Jaraknya kurang lebih 20-30 menit dari Dintor ke Denge.

Jika anda bisa sampai katakanlah siang di Denge, mungkin anda dapat langsung melanjutkan trekking menuju Waerebo tanpa menginap di Denge. Tentunya ini sangat tergantung dari berbagai faktor seperti stamina anda. Silahkan anda cek kembali poin nomor satu di atas tentang estimasi waktu menuju Waerebo. Tapi jika anda sampai katakanlah di Denge sore hari misalnya sekitar jam 16.00 sore ke atas, mungkin ada baiknya menginap terlebih dahulu di Denge. Karena seperti saya jelaskan di atas, dari Denge menuju Waerebo diperlukan waktu kurang lebih 3,5 jam berjalan kaki mendaki bukit serta melewati hutan. Kelebihan lain jika anda menyewa kamar di Denge adalah anda dapat menaruh barang-barang bawaan yang tidak terlalu perlu sehingga beban anda saat trekking dari Denge menuju Waerebo lebih ringan.

Di Desa Waerebo sendiri kita juga bisa menginap. Jika menginap disini dikenai tarif 250 ribu per orang permalam (per Agustus 2013). Kita akan menginap di salah satu rumah yang disediakan khusus untuk pengunjung. Didekat rumah ini juga sudah tersedia WC yang lumayan bersih.

4. Membawa Rombongan

Jika anda membawa rombongan menuju Waerebo, pertimbangkanlah berbagai faktor seperti waktu, kemungkinan untuk menginap di Denge terlebih dahulu, serta stamina tim anda. Jika anda sampai di Desa Denge sudah kesorean atau kemalaman, mungkin ada baiknya mempertimbangkan untuk menginap terlebih dahulu di Denge karena belum tentu semua anggota tim anda memiliki stamina fisik atau terbiasa trekking melewati bukit dan hutan. Trek menuju Waerebo mungkin bagi yang sudah terbiasa mendaki gunung tidaklah terlalu berat dan mengejutkan. Namunkan belum tentu semua peserta anda terbiasa trekking melewati bukit dan hutan.

5Jalur Dari Desa Denge Menuju Waerebo

Jalur trekking dari Denge menuju Waerebo didominasi jalan-jalan berpasir dan berbatu. Melewati pinggir-pinggir bukit dan hutan. Terkadang menanjak terkadang turun. Di beberapa tempat anda akan melewati sungai dan jembatan. Ada banyak titik longsor mulai dari Denge hingga Waerebo. Oleh karena itu, siapkan perlengkapan dan stamina anda. Jangan terlalu berlama-lama di titik-titik bekas longsor. Hal ini untuk meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan. Jika anda berkunjung ke Waerebo pada musim hujan, perjalanan tentunya akan semakin berat karena apabila hujan turun, jalan-jalan bertanah tentunya akan becek dan berlumpur.

6. Upacara Waelu

Setiap tamu yang berkunjung ke Waerebo wajib melalui Upacara Waelu. Intinya upacara ini semacam penyambutan bagi pengunjung dimana kepala adat akan menyampaikan sambutan dan mendoakan pengunjung agar selamat, aman dan tidak ada gangguan selama berkunjung. Pak Yosef, salah satu generasi Suku Modo; suku asli Waerebo, bercerita kepada kami bahwa pernah kejadian ada rombongan kameramen dan fotografer yang datang melakukan liputan di Waerebo. Namun mereka tidak mengikuti Upacara Waelu. Saat pulang dan memeriksa hasil dokumentasi ternyata semua hasil jepretan hilang sama sekali. Terlepas kejadian ini ada atau tidak ada kaitannya dengan Upacara Waelu, namun tentunya ada baiknya kita menghormati tradisi masyarakat dimana kita berkunjung.

7. Pakaian

Pak Yosef bercerita pernah ada wisatawan mancanegara yang datang ke Waerebo menggunakan pakaian yang minim dan kurang etis. Akibatnya wisatawan tersebut beserta trip arrangernya ditegur oleh masyarakat setempat. Tentunya sangat tidak menyenangkan bukan kalau kita sampai ditegur oleh masyarakat dimana kita berkunjung. Selain masalah pakaian, di Waerebo bahkan suami istri dianjurkan untuk tidak bermesraan.

8. Memotret Warga

Di Waerebo memotret diperkenankan. Namun ada baiknya ketika hendak memotret anda melihat situasi dan jika perlu meminta izin terlebih dahulu. Sebagai contoh saat berkunjung kesana saya melihat seorang bapak tua yang sedang menjemur kopi. Ketika hendak memotret saya meminta izin dan menanyakan ke bapak tersebut apakah dia berkenan jika saya potret. Ternyata bapak tersebut menolak untuk difoto dengan alasan bahwa dia mengenakan celana pendek dan katanya kurang etis untuk difoto.

9. Dapatkan Cerita

Mungkin tidak sedikit pengunjung yang datang ke Waerebo yang hanya datang untuk berfoto-foto. Datang, foto dan pergi. Tidak ada yang salah memang karena itu hak setiap pribadi. Namun disarankan sebaiknya jangan lewatkan kesempatan untuk mendapatkan informasi tentang kehidupan masyarakat di Desa Waerebo termasuk filosofi dan pemikiran mereka. Datangilah warga disana yang menurut anda bisa menjelaskan dengan asyik dan gamblang tentang Waerebo. Informasi seperti ini tentunya merupakan pelajaran dan ilmu yang berharga bagi kita. Banyak ilmu yang bisa kita peroleh dengan berkunjung ke desa-desa adat.

10. Mungkin Mahal, Tapi Lupakan Itu Semua..

Sebelum berkunjung ke Waerebo, saya sempat membaca berbagai artikel tentang Waerebo. Salah satunya adalah tentang mahalnya biaya untuk berkunjung ke Waerebo. Setiap orang yang menginap di Waerebo dikenakan biaya Rp 250 ribu perorang. Pikiran-pikiran komersialisasi desa adat sempat menggelayut di benak saya. Tapi setelah datang sendiri ke Waerebo, semua pikiran itupun lenyap. Apalagi setelah obrolan malam dengan Pak Yosef yang bercerita banyak tentang kehidupan di Waerebo. Pikiran seperti itu mungkin juga bisa hinggap di benak anda. Ketika kita datang ke Waerebo ada sesuatu yang kita dapatkan disana, mulai dari kesenangan berkunjung, berfoto-foto, menginap, makanan yang disajikan oleh warga setempat, suasana alami desa, hingga informasi-informasi dan ilmu berharga. Anggap saja uang yang anda keluarkan adalah imbal balik dari apa yang telah anda dapatkan dengan berkunjung ke Waerebo. Selain itu anggap saja uang tersebut sebagai bagian untuk pembangunan dan pengembangan masyarakat disana. So, lupakan uang yang anda keluarkan untuk menginap disana. Intinya: make yourself fun there, and forget about the money.

11. Dingiiinnn..

Desa Waerebo terletak ditengah perbukitan. So, pastinya dingiiiiin. Siapkan jaket, kupluk dan perlengkapan yang anda rasa perlu untuk menghangatkan badan.

12. Sinyal Handphone

Sinyal di Flores umumnya dan di Desa Dintor, Denge dan Waerebo serta desa-desa sekitarnya memang tidak sebagus di kota-kota besar di Pulau Jawa. Berdasarkan pengalaman kami kesana kami menganjurkan anda menggunakan simcard dari provider Telkomsel. Di Desa Denge sendiri sinyal memang sulit namun kadang-kadang bisa kita dapatkan. Dalam perjalanan menuju Waerebo jika anda memang ada hal-hal mendesak, maka anda dapat mencoba mencari sinyal di Poco Roko (Pos 2 menuju Waerebo). Di Poco Roko terkadang kita bisa mendapatkan sinyal. Dari Poco Roko ini kita dapat menyaksikan pemandangan laut di kejauhan.

Poco Roko (Pos 2). Tempat yang sering dijadikan untuk mencari sinyal
Please follow and like us:
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *