12 Jam Menuju Desa Calabai, di Kaki Gunung Tambora

Oleh: Niko Tujuhlangit

Pagi itu, 20 Agustus 2018, saya dan istri bersiap-siap menuju ke Pulau Moyo. Pulau Moyo merupakan salah satu pulau yang terletak kurang lebih tiga jam perjalanan laut dari Kota Sumbawa Besar. Kota Sumbawa Besar merupakan salah satu kota besar di Pulau Sumbawa selain Bima dan Dompu. Sebenarnya saya sendiri sudah pernah ke Pulau Moyo di tahun 2013. Namun karena istri belum pernah kesana, jadi kami memasukkan Pulau Moyo sebagai salah satu destinasi dalam trip overland ini. Sedangkan untuk Pulau Sumbawa sendiri ini merupakan ketiga kalinya saya mengeksplor Pulau Sumbawa. Catatan-catatan perjalanan saya mengenai Sumbawa bisa di klik disini.

Dari Hotel Garuda di Kota Sumbawa Besar, kami menggunakan ojek menuju ke Pelabuhan Muara Kali. Kami memilih ojek dengan alasan efektivitas dan efisiensi waktu mengingat dari jalan utama Sumbawa Besar kita masih harus masuk ke dalam lagi untuk bisa sampai di Pelabuhan Muara Kali. F

Dermaga Muara Kali, Sumbawa Besar. Foto: Niko Tujuhlangit

Sesampainya di Pelabuhan Muara Kali kami bertanya kepada warga sekitar tentang ketersediaan perahu untuk menyeberang ke Pulau Moyo. Namun berdasarkan penjelasan warga kalau saya tidak salah ingat disebutkan bahwa hari itu belum ada kepastian mengenai perahu untuk menyeberang ke Pulau Moyo, karena cuaca dan gelombang laut yang tidak bersahabat. Selain itu belum lama ini terjadi Gempa di Lombok dan di sekitar kawasan kaki Gunung Tambora yang sedikit banyak berdampak terhadap penyeberangan ke Pulau Moyo. Bahkan hari sebelumnya juga terjadi gempa di Sumbawa yang terasa hingga Kota Sumbawa Besar. Saya dan istri mengalami langsung gempa tersebut.  

Jadi, di Pelabuhan Muara Kali belum tentu ada kapal atau perahu untuk menyeberang ke Pulau Moyo. Perahu yang digunakan untuk menyeberang ke Pulau Moyo biasanya adalah perahu rakyat yang digunakan untuk transportasi warga setempat yang sewaktu-waktu bisa saja batal menyeberang karena satu dan lain hal seperti faktor cuaca dan gelombang laut. Silahkan klik disini untuk melihat catatan saya tentang bagaimana cara menuju ke Pulau Moyo berdasarkan perjalanan saya kesana di tahun 2013 silam.

Akhirnya karena belum ada kepastian, saya dan istri memutuskan melewati jalur darat menuju sebuah desa kecil di kaki Gunung Tambora yang bernama Desa Calabai meskipun membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan lewat laut. Awalnya saya dan istri berencana ke Pulau Moyo terlebih dahulu baru kemudian menyewa perahu menuju Calabai. Namun karena dari awal memang sudah berencana menuju Desa Calabai, jadi kami pikir tidak ada salahnya kalau ke Desa Calabai dahulu baru kemudian dari sana menyewa perahu ke Pulau Moyo, meskipun agak sedikit memutar jadinya.

Kami menyewa ojek dari Pelabuhan Muara Kali menuju terminal bus Sumbawa Besar karena berdasarkan informasi dari warga ada bus menuju ke arah Dompu atau Bima. Syukurnya, sesampai di terminal masih ada bus yang dimaksud, dan masih kosong! Tarifnya Rp 60 ribu per orang.

Terminal Bus Sumbawa Besar. Foto: Niko Tujuhlangit
Saya di dalam bus menuju Dompu 🙂

Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya bus berangkat dan mulai membelah jalan trans Sumbawa. Jalan raya trans Sumbawa ini boleh dibilang sangat mulus dengan pemandangan yang keren di sepanjang perjalanan. Semakin jauh perjalanan semakin banyak penumpang yang naik. Bus yang awalnya kosong, lama-kelamaan menjadi penuh sesak. Awalnya saya pikir sopir pasti tidak akan menaikkan penumpang lagi. Tapi ternyata dugaan saya salah :D. Meskipun bus sudah penuh, penumpang terus bertambah hingga akhirnya banyak yang berdiri. Saya yang awalnya dudukpun akhirnya harus rela berdiri karena ada seorang ibu yang menggendong anak kecil tidak mendapatkan tempat duduk. Kalau tidak salah ingat, ada sekitar 2-3 jam saya berdiri sepanjang perjalanan dari Sumbawa Besar.

Di sepanjang perjalanan penumpang silih berganti turun naik, namun yang jelas bus selalu penuh sesak. Untungnya pemandangan alam selama di perjalanan cukup menyejukkan mata dan bisa sedikit menghilangkan rasa lelah.  Jalan Trans Sumbawa ini turun naik bukit dan berbelok-belok serta menyusuri pinggiran laut sehingga dibeberapa titik kita dapat melihat laut lepas.

Mungkin ada diantara anda yang bertanya mengapa busnya penuh sesak? Karena memang bus merupakan moda transportasi andalan di Sumbawa khususnya untuk perjalanan jarak jauh serta mungkin juga karena keterbatasan jumlah unit bus yang ada. Jadi kalau seandainya ketinggalan bus yang satu, bisa berjam-jam lagi untuk menunggu bus selanjutnya. Mungkin itu sebabnya kalau saya perhatikan selama dalam perjalanan, warga setempat sepertinya sudah paham kapan bus akan lewat dan mereka sudah stand by menunggu bus di pinggir jalan raya.

Sekitar jam 15.00 bus yang kami tumpangi sampai di Cabang Banggo. Cabang Banggo ini merupakan sebuah perempatan dan percabangan antara arah ke Calabai dan arah ke Dompu dan Bima. Saya dan istri turun disini karena bus yang kami tumpangi tujuannya bukan ke Calabai tapi ke arah Dompu. Sopir memberitahu kepada kami bahwa sekitar jam lima sore biasanya ada bus dari arah Dompu yang menuju Calabai, jadi kami diminta menunggu di Perempatan Cabang Banggo. Saya dan istri sempat makan dan sholat dulu di sebuah warung di dekat Cabang Banggo serta melepas penat perjalanan panjang dari Sumbawa Besar. Berarti kalau ditotal lama perjalanan kami dari Sumbawa Besar ke Cabang Banggo kurang lebih sekitar 6-7 jam, karena kalau tidak salah ingat bus yang kami tumpangi berangkat dari Sumbawa Besar sekitar pukul sembilan pagi. Lumayanlah :D. Jadi kalau anda berencana naik bus dari Sumbawa Besar menuju Calabai, jangan lupa siapkan stamina :D.

Berhenti sejenak di warung makan persis sebelum Perempatan Cabang Banggo. Foto: Niko Tujuhlangit

Cukup sampai disitu? Belum. Perjalanan kami masih panjang :D. Sekitar jam empat sore kami menunggu bus tujuan Calabai di perempatan Cabang Banggo. Disini ternyata sudah ada penduduk setempat yang juga sedang menunggu bus ke arah Calabai. Ada sekitar kurang lebih 1 jam kami menunggu bus disini. Sekitar jam 16.00 bus yang kami tunggu-tunggupun lewat. Saya pikir bus nya akan sepi, tapi ternyata tidak. Bahkan lebih padat dari bus sebelumnya :D. Saya dan istri bingung mesti naik disebelah mana karena dari luar terlihat bus sudah penuh sesak. Tidak cukup sampai disitu, keadaan semakin penuh sesak karena para penumpang membawa berbagai jenis barang mulai dari yang berukuran kecil sampai yang berukuran besar seperti kulkas dan sepeda motor, he..he..he. Untungnya sepeda motor ditaruh diluar bus, bukan di dalam :D. Jujur, selama saya berkeliling Indonesia, baru kali ini saya merasakan bus seperti ini dimana berbagai jenis barang tumpah ruah di dalam bus.

Menunggu bus ke Calabai di dekat Perempatan Cabang Banggo. Foto: Niko Tujuhlangit

Akhirnya karena tidak ada pilihan lain dan hari sudah sore, kami memutuskan naik bus tersebut. Untungnya istri masih dapat tempat duduk disamping sopir bus, saking sudah penuhnya bus. Bagaimana nasib saya? Saya terpaksa jadi “kenek”, berdiri di pintu belakang bus :D. Awalnya saya agak deg-degan berdiri di pintu sebelah kiri bus karena setiap kali jalan berbelok rasanya bus mau tumbang ke kiri. Tapi lama-kelamaan saya mulai terbiasa.

Saya terpaksa jadi kenek dadakan :). Dalam perjalanan menuju Calabai. Foto: Niko Tujuhlangit

Bus kemudian melaju menelusuri senja di kaki Gunung Tambora. Pemandangan sepanjang perjalanan sungguh indah. Kita dapat menyaksikan perpaduan savanna, pemandangan laut di sebelah kiri serta Gunung Tambora di sebelah kanan jalan. Sebuah perjalanan yang tidak akan pernah saya lupakan, apalagi bareng istri. Selama perjalanan dari Perempatan Cabang Banggo hingga ke Desa Calabai kita akan melewati banyak desa. Bus setiap sebentar berhenti untuk menurunkan dan menaikkan penumpang. Hal ini bisa dimaklumi karena seperti sudah saya jelaskan di atas bus merupakan moda transportasi andalan warga Sumbawa termasuk warga di kaki Gunung Tambora dan jumlah armada serta jadwalnya juga terbatas. Sehingga bus tidak hanya menjadi alat untuk mengangkut manusia tapi juga untuk mengangkut barang. Masyarakat yang ingin mengirimkan barang ke kerabatnyapun menggunakan jasa bus ini. Jadi, bisa anda bayangkan padatnya bus ini.

Salah satu hal yang saya salut dari warga disini adalah ketangguhan mereka dalam menjalani rutinitas harian dengan keterbatasan moda transportasi seperti ini. Mereka sudah terbiasa berdesak-desakan seperti ini setiap hari selama berjam-jam di atas bus. Sementara kita di kota besar misalnya di Jakarta masih sering mengeluh dan mudah sekali emosi di jalanan padahal menggunakan mobil pribadi ber-AC. Selain itu, mereka juga kuat berdiri berjam-jam di dalam bus. Bahkan di perjalanan ada seorang nenek yang duduk di sebelah saya yang terlihat sudah terbiasa dengan rutinitas seperti ini. Salut! Kadang-kadang saya berpikir bahwa kemajuan teknologi dan modernisasi di satu sisi dapat membuat kita menjadi manusia-manusia yang tidak tangguh, mudah menyerah dan gampang mengeluh sebagai akibat dari berbagai kenyamanan dan kemudahan yang sudah kita peroleh.

Sekitar jam 17 kurang bus yang kami tumpangi sampai di Pantai Hodo. Bus biasanya berhenti sejenak disini sebelum melanjutkan perjalanan menuju Desa Calabai. Disini ada beberapa warung yang menjual berbagai makanan. Saya dan istripun membeli beberapa cemilan sekedar untuk mengisi perut dan menambah energi. Kurang lebih bus berhenti disini selama 1 jam. F

Sore itu di Pantai Hodo. Foto: Niko Tujuhlangit
Inilah penampakan bus yang kami tumpangi menuju Desa Calabai. Foto: Niko Tujuhlangit
Saat istirahat di Pantai Hodo. Sudah kelihatan kusut karena perjalanan seru :D. Foto: Naili

Sebelum Maghrib, bus kembali malanjutkan perjalanan. Bus terus melaju membelah jalanan di balut senja yang indah di kaki Gunung Tambora. Hamparan padang ilalang dan pepohonan terlihat menguning dibalik balutan sinar mentari sore. Gunung Tambora tampak gagak berdiri meskipun letusan dahsyatnya di tahun 1815 mengakibatkan hampir sekitar setengah badan gunung hancur dan mengakibatkan “a year without summer” di Amerika Utara dan Eropa. Sebelum meletus gunung ini memiliki ketinggian sekitar 4300 meter diatas permukaan laut. Setelah meletus ketinggiannya menjadi 2800-an meter. Can you imagine that? Letusan Gunung Tambora di tahun 1815 ini merupakan salah satu erupsi terbesar dalam sejarah manusia, kekuatan letusannya digambarkan sepuluh kali letusan Gunung Krakatau. Akibat letusan ini tiga kerajaan di kaki Gunung Tambora yaitu Kerajaan Tambora, Pekat dan Sanggar tertimbun dan hancur. Kekuatan letusannya konon setara dengan 171.428 kekuatan bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima pada tahun 1945. Kalau teman-teman bermain di kawasan kaki Gunung Tambora maka kita akan menemukan banyak batu-batu berukuran kecil hingga besar yang bertebaran. Batu-batu tersebut merupakan sisa-sisa material vulkanik dari letusan Gunung Tambora. Dari batu-batu tersebut kita bisa membayangkan betapa dahsyat dan mengerikannya letusan tersebut.

Belum lama perjalanan dari Pantai Hodo, di sekitar Ndoro Canga tiba-tiba bus yang kami tumpangi terpaksa berhenti karena bannya meletus. Seluruh penumpang terpaksa turun dan duduk-duduk di pinggir jalan menunggu ban diganti. Meskipun demikian kejadian ini ada hikmahnya juga karena kami dapat menikmati indahnya pemandangan di Ndoro Canga saat matahari tenggelam. Selain itu posisi bus berhenti persis di depan Gunung Tambora sehingga kami dapat melihat pemandangan Gunung Tambora dengan begitu jelas. MasyaAllah….saya tidak henti-hentinya takjub. Berikut beberapa foto yang berhasil saya abadikan senja itu.

Senja di Ndoro Canga. Foto: Niko Tujuhlangit
Senja di Ndoro Canga. Foto: Niko Tujuhlangit
Senja di Ndoro Canga. Bus kami terpaksa berhenti karena ban pecah. Foto: Niko Tujuhlangit
Gunung Tambora terlihat gagah. Foto: Niko Tujuhlangit
Senja di Ndoro Canga. Foto: Niko Tujuhlangit
Senja di Ndoro Canga. Foto: Niko Tujuhlangit
Senja di Ndoro Canga. Foto: Niko Tujuhlangit
Senja di Ndoro Canga. Foto: Niko Tujuhlangit
Senja di Ndoro Canga. Foto: Niko Tujuhlangit
Senja di Ndoro Canga. Foto: Niko Tujuhlangit
Senja di Ndoro Canga. Foto: Niko Tujuhlangit

Ada kurang lebih sekitar setengah jam bus terhenti di Ndoro Canga. Setelah itu perjalananpun kembali dilanjutkan. Mengingat sudah malam, setelahnya tidak banyak pemandangan yang dapat kami saksikan selain naik turunnya penumpang dan siluet landscape ditengah gelap malam. Sekitar jam 21.00 sopirpun memberitahu kami bahwa sudah sampai di Calabai. Saya dan istripun turun dari bus. Karena sudah larut malam, Desa Calabai sudah terlihat sepi. Tidak banyak penduduk yang tampak diluar. Untungnya kami berhenti persis di depan sebuah warung makan. Saya dan istri memutuskan untuk membeli makan malam dulu di warung tersebut sekaligus berharap akan mendapatkan informasi tentang penginapan. Jadi, ceritanya saya dan istri sebenarnya sudah mencari-cari informasi penginapan di Calabai, tapi tidak berhasil mendapatkannya. Jadilah kami go show saja. Di warung tersebut kami bertemu dengan seorang bapak keturunan tionghoa yang kemudian memberitahu kami tentang sebuah penginapan tidak jauh dari warung tersebut. Akhirnya kami menyambut tawaran tersebut. Si Bapak yang baik hati bahkan mengantarkan kami ke penginapan tersebut. Ternyata penginapan tersebut sebenarnya merupakan kosan bulanan, sehingga jadinya kami menyewa kosan tersebut untuk sebulan! :D. Tapi untungnya harga sewa untuk sebulannya tidak semahal yang kami duga, cuma Rp 600 ribu untuk sebulan. Posisi kosan ini persis dibelakang Masjid Besar Fastabiqul Khairat, Calabai. Dari jalan raya anda tinggal masuk gang kecil disebelah kiri masjid, nanti posisi kosannya disebelah kiri dibelakang masjid.

Malam itu akhirnya kami bisa merehatkan diri setelah perjalanan panjang selama kurang lebih 12 jam dari Kota Sumbawa Besar menuju Desa Calabai. Sudah tidak sabar rasanya mengeksplor keindahan Calabai dan sekitarnya dalam beberapa hari kedepan.  Nantikan tulisan-tulisan saya selanjutnya tentang Calabai khususnya dan kisah-kisah lainnya dalam perjalanan kami menelusuri Lombok – Sumbawa – Sumba – Flores – Bali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *