Takat Segele, Tempat Snorkeling Keren di Pulau Moyo

 

Link artikel lainnya:

1. Laguna, Pesona Lain Teluk Kiluan

2. Cara Menuju ke Pulau Moyo

3. Pulau Kanawa dan Pulau Kenawa, Eksotisme Timur Indonesia

4. Tempat-Tempat Menarik di Maumere dan Sekitarnya

5. Gili Kapal, Surga Kecil Yang Timbul Tenggelam


Pagi itu saya bersama dua orang teman wanita yang jadi partner dalam menikmati keindahan Sumbawa kali ini; telah bersiap-siap menuju salah satu spot snorkeling di Pulau Moyo. Bagi anda yang masih bingung bagaimana cara menuju ke Pulau Moyo, klik disini. Rencananya sesuai kesepakatan dengan Pak Amin sang pemilik perahu, kami akan mengunjungi sebuah tempat yang bernama Takat Segele. Cuaca yang cerah dan langit Pulau Moyo yang terlihat biru membuat saya sangat bergairah dan bersemangat. Tak disangka sejak hari pertama kami menginjakkan kaki di Pototano hingga berada di Pulau Moyo cuaca sangat-sangat bersahabat. Padahal kami datang di bulan-bulan musim penghujan.

 

Saya pertama kali mendengar nama Takat Segele justru dari Pak Alex, pemilik perahu yang kami tumpangi saat menyeberang dari Sumbawa Besar menuju Pulau Moyo. Tempat ini awalnya tidak masuk dalam daftar destinasi yang ingin kami jelajahi. Tapi karena penasaran dengan apa yang disampaikan oleh Pak Alex, kamipun akhirnya memutuskan singgah. Sebenarnya dari pelataran rumah Pak Amin tempat kami menginap selama di Pulau Moyo, kita sudah bisa menyaksikan Takat Segele di kejauhan. Seonggok pasir telihat di kejauhan. Kebetulan rumah Pak Amin persis berada di pinggir pantai Pulau Moyo, tidak jauh dari Dermaga Labuan Aji, Pulau Moyo. Dari rumahnya kami dapat menyaksikan hamparan laut luas. Duduk-duduk di depan rumahnya saja sudah terasa menyenangkan. Apalagi saat senja turun. Indah!

pulau moyo

Teman dengan latar belakang rumah warga di Pulau Moyo. Dibelakang adalah rumah tempat kami menginap. Foto oleh Niko Tujuh Langit. Single Photograph. Canon EOS 500D.

 

Sekitar pukul tujuh pagi kami bertigapun menuju ke perahu kecil milik Pak Amin yang tertambat di pantai di depan rumahnya. Meskipun ukurannya kecil, tapi ternyata perahu ini cukup nyaman.

Perahu milik Pak Amin. Foto oleh Niko TujuhLangit. Single Photograph. Canon EOS 500D

 

 

 

Gak butuh waktu lama untuk sampai ke tempat ini. Hanya sekitar 20-30 menit saja dari Dermaga Labuan Aji, Pulau Moyo.

takat segele

Takat Segele terlihat dari kejauhan. Foto oleh Niko TujuhLangit. Single Photograph. Canon EOS 500D

 

Sampai di Takat Segele. Foto oleh Niko TujuhLangit. Single Photograph. canon EOS 500D.

 

Ternyata gundukan putih yang terlihat dari kejauhan itu bukan gundukan pasir loh kawan-kawan! Itu tumpukan pecahan karang-karang! Pak Amin bercerita bahwa dulu memang sering terjadi pengeboman ikan ditempat ini. Akibatnya banyak karang yang rusak dan hancur. Karang yang rusak dan hancur tersebut kemudian terdorong ombak dan tertahan oleh pasir timbul yang ada di tempat ini sehingga lama-kelamaan karang-karang tersebut bertumpuk membentuk semacam gundukan bukit kecil.

 

Takat Segele. Foto oleh Niko TujuhLangit. Single Photograph. Canon EOS 500D.

 

Setelah turun dari perahu saya nanya-nanya ke Pak Amin, spot yang oke disebelah mana. Pak Aminpun menjelaskan kita bisa snorkeling di sekeliling gundukan tumpukan karang ini. Awalnya saya agak ragu kalau melihat sekilas tempat ini. Apa benar tempat ini keren? Soalnya dari permukaan saja sepertinya sudah tidak meyakinkan. Karang-karangnya bisa terlihat dengan jelas sudah banyak yang hancur. Pesimis rasanya kalau bisa menemukan banyak ikan di tempat ini.

takat segele

Takat Segele. Mbak Fit sedang menikmati indahnya Takat Segele :) . Foto oleh Niko Tujuhlangit. Single Photograph. Canon EOS 500D

 

Serasa Berenang di "Rumah Ikan"

Sayapun mulai berenang dari pinggir. Tak ada hal yang istimewa rasanya. Setidaknya itulah kesan pertama saya ketika pertama menceburkan diri ditempat ini. Terlihat jelas sekali bagaimana efek yang ditimbulkan oleh aktivitas pengeboman di tempat ini. Saya terus berenang dan berenang, menjauh dari tumpukan karang. Tak butuh waktu lama. Tidak jauh dari pinggir Takat, pesona tempat ini mulai kelihatan.

 

Aahhhh…. Indahnya! Tapi bukan karangnya! Ikan-ikannya ituloh. Banyak sekali! Dan yang lebih membuat hati terkagum-kagum adalah ikannya berwarna-warni. Berenang di tempat ini serasa berada di “rumah” atau “kota ikan”. Berbagai jenis ikan dengan warna-warni yang menyejukkan mata bisa ditemukan disini. Memang ukuran ikannya tidak besar-besar, tapi menawan. Soal karangnya memang banyak yang hancur. Meskipun demikian dibeberapa titik kita masih bisa menemukan karang-karang hidup individual yang berwarna-warni.

 

Menikmati indahnya Takat Segele. Foto oleh Niko TujuhLangit. Single Photograph. Canon EOS 500D

 

Di kejauhan Mbak Fit dan Erny sepertinya sudah “sibuk” berenang kesana kemari. Saya kemudian berputar arah ke sisi satunya lagi. Kami berenang menyusuri pinggir-pinggir tumpukan karang. Kedalaman spot snorkeling di sekitar Takat ini hanya sekitar 1-3 meter. Sangat asyik sekali untuk bersnorkeling ria. Kami bertiga berenang menyusuri lorong-lorong karang yang terasa seperti menyusuri labirin. Ikan-ikan kecil bertebaran disepanjang jalan. Indahnya! Ketakjuban terus menggema dalam hati saya. Syukur rasanya bisa menikmati semua keindahan ini. Di beberapa titik saya menjumpai beberapa ikan unik. Salah satunya ikan kecil berwarna kecokletan yang pintar sekali berkamuflase. Hampir-hampir saya tidak menyadari kalau itu ikan. Saya sampai berteriak-teriak memanggil Mbak Fit untuk melihat ikan ini. Namun sayang, ikan tersebut kemudian menghilang L… Di beberapa titik dengan kedalaman sekitar 2-3 meter saya beberapa kali sedikit menyelam untuk menyaksikan lebih dekat beberapa ikan kecil yang cantik.

 takat segele

Tumpukan karang yang hancur membentuk gundukan bukit. Foto oleh Niko TujuhLangit. Canon EOS 500D.

 

Mungkin hampir sekitar 2 jam kami bertiga menghabiskan waktu di tempat ini. Jujur saja saya masih belum puas. Pengen berlama-lama di tempat ini. Tapi sayang waktu kami terbatas. Setelah menyaksikan keindahan tempat ini saya menerawang membayangkan bagaimana keindahan tempat ini dahulu sebelum pengeboman terjadi. Bayangkan saja, dengan karang-karang yang sudah hancur seperti ini saja ikan-ikannya sangat banyak dan berwarna-warni. Apalagi dahulu ketika karang-karangnya masih bagus dan banyak. Hmmm…. Tidak percuma kami bertiga datang ke tempat ini. Setimpal rasanya apa yang kami dapatkan. Saya bermimpi dan berharap suatu saat nanti masih bisa berkunjung ke tempat ini lagi.

 

Menyesal….sal…sal…..

Ada satu penyesalan dan kesalahan fatal yang saya lakukan dalam trip kali ini. Apa itu? Tidak membawa kamera underwater! Maka jangan heran kalau anda tidak mendapati satu foto ikanpun dalam tulisan ini. Maaf, sekali lagi maaf….   Penyesalan yang beberapa kali saya ungkapkan ke Mbak Fit. Dengan kedalaman hanya sekitar 1-3 meter dan ikan-ikan yang banyak dan berwarna-warni, tentunya sangat mudah dan menyenangkan untuk memotret ikan tersebut. Ah, sudahlah! Nasi sudah menjadi nasi goreng! Gak bisa dirubah lagi jadi nasi “gak” goreng…he…he…he… Saya berbisik dalam hati, mungkin ini pertanda kalau saya harus kembali lagi ke tempat ini suatu saat nanti. InsyaAllah jika Tuhan mengizinkan. ^_^

 

Comments   

 
0 #1 Akbar 2014-11-30 08:25
Terimakasih atas artikel mas Niko, sangat bermanfaat... :-)
Quote
 
 
0 #2 niko 2014-12-02 00:21
Mas Akbar: sama sama Mas :)...terimakasi h sudah berkunjung..
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh