Pelampung "First"...Tips Aman Berlibur ke Laut

  • Print

Link artikel lainnya:

1. Cara Menuju ke Pulau Moyo

2. 10 Tips Menyewa Kapal Untuk Sailing Pulau Komodo

3. Pulau Kanawa dan Pulau Kenawa; Eksotisme Timur Indonesia

4. 12 Tips Berkunjung ke Desa Waerebo

5. Rute Pendakian Gunung Kerinci

 


 

Masih lekat dibenak saya kenangan beberapa tahun lalu saat menyeberang dari salah satu pulau di Kepulauan Seribu (Maaf, saya lupa persisnya dari pulau apa, Tidung atau Pramuka kalau tidak salah) menuju Pelabuhan Muara Angke. Waktu itu, di tengah perjalanan ombak ternyata cukup besar dan tidak bersahabat. Perahu yang berisi mungkin ratusan orang itupun mulai oleng ke kiri dan ke kanan. Rasanya itu perahu akan jatuh dan terbalik saja setiap kali menerobos ombak. Terasa sekali hantamannya yang cukup kuat. Saya yang duduk di bagian atas perahupun mulai gelisah. Raut-raut wajah penumpang lainnyapun mulai sedikit berubah. Terdengar bisikan-bisikan kecil disana-sini. Sepertinya mereka juga mulai gelisah seperti saya. Bagaimana tidak teman-teman? Perahu ini terasa begitu sesak oleh penumpang yang sebagian besar adalah muda-mudi yang ingin menghabiskan waktu weekend dengan berlibur di Kepulauan Seribu. Saya bisa membayangkan waktu itu kepanikan seperti apa yang akan terjadi jika seandainya perahu yang kami tumpangi terbalik karena dihantam ombak. Ada ratusan jiwa di atas sana! Saat itu yang melekat erat di pikiran saya cuma satu; pelampung! Yup, dimana pelampung? Tapi apa dikata. Anda mungkin tahu sendiri, standar keselamatan transportasi di negeri kita ini secara keseluruhan masih belum memadai jika dibandingkan negara-negara lain diluar sana. Kalau berlibur ke laut atau pantai, jangan terlalu berharap akan tersedia pelampung. Kalaupun ada, mungkin perlu dipastikan apakah jumlah pelampung yang tersedia sama dengan jumlah penumpang yang ada di kapal/perahu tersebut. Akhirnya sepanjang perjalanan saya cuma bisa berdoa semoga tidak terjadi apa-apa. Dan syukurnya, saya masih disini! Tidak terjadi apa-apa waktu itu.

 

Sejak kejadian di Kepulauan Seribu tersebut, saya bertekad membeli pelampung. Dan sekarang hampir setiap kali berlibur atau traveling ke laut, saya selalu membawa pelampung. Kecuali jika saya yakin seyakin-yakinnya bahwa di lokasi yang saya akan saya tuju atau pihak kapal/perahu yang akan saya tumpangi menyediakan pelampung. Tapi jika saya tidak yakin maka saya lebih memilih membawa sendiri pelampung yang saya miliki.

 

Pelampung sangat penting saat berlayar dan bermain di laut. Kesadaran akan pentingnya peran pelampung dalam menunjang keselamatan saat berlayar dan berlibur ini perlu terus ditingkatkan.

 

Pelampung? Mahal!

Mungkin mahalnya harga pelampung sering jadi hal yang memberatkan bagi kita untuk membeli pelampung meskipun mungkin kita sadar betapa pentingnya pelampung saat bermain di laut. Tapi, mari kita pikir-pikir lagi. Sudah berapa kali kira-kira anda berlibur dan traveling serta berlayar ke laut, pulau atau pantai? Mungkin yang maniak jalan-jalan bisa jadi sudah puluhan kali bermain ke laut. Selama itu, sudah berapa kali pula anda menyewa pelampung? Bisa jadi kalau di total jangan-jangan uang yang sudah kita keluarkan untuk menyewa pelampung selama ini sudah bisa digunakan untuk membeli sebuah pelampung. Yuk, mari kita hitung-hitungan. Harga sewa pelampung saat ini untuk satu hari di berbagai destinasi wisata di Indonesia berkisar di harga Rp 15.000,- Rp 30.000 perhari. Sudah berapa kali anda menyewa pelampung selama menjalani hobby traveling? Sudah sampaikah 15 kali? Mari kita hitung kasar saja. Katakanlah selama ini anda sudah 15 kali menyewa pelampung. Kalau misalnya kita ambil tarif sewa pelampung sebesar Rp 15.000,- , berarti uang yang sudah kita habiskan untuk menyewa pelampung telah mencapai 15 x Rp 15.000,-, berarti sebesar Rp 225.000,-. Dengan uang sebesar itu, kita sudah bisa membeli sebuah pelampung. Pelampung sudah bisa kita dapatkan di pasaran dengan kisaran harga sekitar 200-450 ribu.

 

Jika anda memang pecinta traveling berat dan sering jalan-jalan ke berbagai penjuru negeri ini, maka ada baiknya mempertimbangkan kembali untuk menginvestasikan sedikit uang yang anda miliki untuk membeli pelampung. Yakinlah, tidak akan rugi. Banyak manfaatnya. Trust me, it works! #eh…berasa iklan :D…

 

Ribet Bawa Pelampung!

Jujur saja, dulu ini adalah alasan yang sering saya lontarkan pada diri saya saat traveling ke laut. Ribet! Namun lama-kelamaan saya sering berpikir apalagi ketika berada di atas kapal atau perahu bahwa betapa berisikonya kita berada di tengah laut lepas tak bertepi tanpa membawa pelampung. Padahal alam tidak pernah bisa diprediksi. Ombak besar bisa datang sewaktu-waktu tanpa diduga dan bisa membalikkan kapal atau perahu yang kita tumpangi! Akhirnya sekarang saya tidak pernah lagi menjadikan alasan “ribet ah bawa pelampung” sebagai pembenaran untuk tidak membawa pelampung. Sekarang setiap kali traveling yang berbau-bau “laut” saya hampir selalu membawa serta pelampung. Kecuali…. Lagi-lagi kecuali jika saya yakin seyakin-yakinnya di tempat yang saya tuju menyediakan pelampung.

 

Sebagai contoh, terakhir saya traveling ke Sumbawa selama lebih kurang delapan hari. Kalau dipikir-pikir pasti anda semua sepakat betapa ribetnya bawa-bawa pelampung dari Jakarta sampai ke Sumbawa untuk selama delapan hari perjalanan. Waktu itu kami bertiga mengunjungi beberapa pulau seperti Pulau Kenawa, Pulau Paserang, Pulau Namu, dan beberapa pulau lainnya, Pulau Bedil, Pulau Keramat, dan Pulau Temudung, serta Pulau Moyo. Semuanya berbau-bau “laut”. Namun saya tetap memutuskan membawa pelampung dengan pertimbangan karena saya yakin di destinasi-destinasi yang akan saya kunjungi tersebut tidak bisa dipastikan tersedia pelampung. Hal ini dapat dimaklumi karena dunia pariwisata kita mungkin belum se-established negara-negara maju diluar sana.

 

Pelampung yang sering saya bawa kemana-mana :). Foto di Sumbawa. Oleh Kang Yudi

 

Sekarang tidak ada lagi kata “ribet” di pikiran saya. Supaya tidak terlalu menyusahkan, pelampung saya taruh di dalam case bersama peralatan snorkeling sehingga packingnya terlihat lebih simpel. “Ribet” dan safety adalah pilihan. Setiap orang berhak memilih mana yang dia suka. Tapi ingat bahwa setiap pilihan juga memiliki konsekuensi masing-masing. Bagi saya, pilihan membawa pelampung jauh membuat saya lebih nyaman dan yakin saat traveling ke laut, meskipun itu akan membuat barang bawaan saya terkesan lebih ribet dibandingkan teman-teman yang tidak membawa pelampung.

 

Cuaca Akan Baik-Baik Saja Kok!

Berhati-hatilah dengan paradigma ini. Kita mungkin sering berpikir bahwa cuaca akan baik-baik saja. Salah satu prinsip penting harus selalu diingat saat bermain di alam adalah bahwa alam tidak bisa diprediksi. Meskipun katakanlah prakiraan cuaca laut di destinasi yang akan anda tuju cerah dan sebagainya, hal ini sebaiknya tidak dijadikan pembenaran untuk tidak membawa/memakai pelampung. Gunakan prediksi cuaca itu sebagai informasi untuk mempersiapkan diri kita sebaik mungkin dan bukan justru untuk mengabaikan standar-standar keselamatan yang ada. Bawalah pelampung entah itu dengan menyewa ataupun dengan membawa pelampung sendiri. Sudah banyak contoh kejadian dimana kapal atau perahu terbalik dihantam ombak besar yang datang tiba-tiba dan penumpangnya tewas tenggelam karena tidak dilengkapi standar keamanan yang memadai, termasuk salah satunya tanpa dilengkapi pelampung.

 

Cuaca tidak bisa diprediksi secara pasti. Oleh sebab itu, maka dibuatlah standar-standar keselamatan dalam melakukan kegiatan di alam bebas. Ke gunung, ke laut, ke goa, dan lain sebagainya pasti ada standar-standar keselamatan yang mesti dipatuhi. Mengapa dibuat kesepakatan ada sebuah standar keselamatan? Salah satunya karena alam tidak bisa diprediksi. Ketika ke gunung ada standar bahwa misalnya kita dianjurkan membawa jaket. Maka kemudian jika ada teman anda yang berdalih bahwa dia tidak perlu bawa jaket saat mendaki gunung karena mengaku tahan terhadap dinginnya hawa di gunung, maka jangan jadikan itu sebagai patokan dan pembenaran anda untuk ikut-ikutan tidak membawa jaket. Karena standarnya adalah kalau ke gunung itu ya bawalah jaket. Mengapa? Karena secara umum tubuh manusia tidak tahan terhadap cuaca dingin dan rentan terhadap penyakit saat diserang hawa dingin yang berlebihan. Standar keselamatan dibuat tidak melihat pada pengecualian-pengecualian tapi melihat kepada kondisi manusia secara umum tentunya dilandasi dengan data-data yang memadai.

 

Jago Berenang Kok, Jadi Gak Perlu Bawa/Pakai Pelampung Segala…

Berenang di laut jelas berbeda dengan berenang di kolam renang. Salah satu perbedaannya adalah karena di laut terdapat arus kuat yang bisa saja menarik kita setiap waktu ke tengah lautan lepas dan membuat kita kelelahan. Selain itu ombak besar bisa saja menerjang sewaktu-waktu. Kondisi terburuk/darurat bisa saja terjadi setiap waktu. Peluang itu ada meskipun mungkin kecil. Kapal/perahu yang kita tumpangi bisa saja terbalik karena dihantam ombak. Pada kondisi terburuk seperti itu kemampuan berenang saja tidak cukup untuk bisa bertahan di tengah lautan lepas yang demikian luas. Ditengah lautan lepas kita bisa saja kelelahan. Itu sebabnya mengapa saat berlayar kita dianjurkan membawa pelampung. Dengan pelampung kalaupun kondisi terburuk itu terjadi, kita tetap dapat mengapung tanpa perlu mengeluarkan energi berlebihan. Bayangkan jika anda terombang-ambing ditengah laut lepas yang tepinya tak kelihatan dan saat itu anda tanpa pelampung! Sehebat-hebatnya kita berenang, pasti akan kelelahan.

 

Siapkanlah selalu pelampung saat berlibur atau berlayar. Foto oleh Niko TujuhLangit

 

Sudah Sering Gak Bawa Pelampung, Tapi Aman-Aman Aja Kok..

Memang benar bahwa peluang terjadinya kecelakaan secara umum pasti lebih kecil dari peluang tidak terjadi apa-apa. Tapi perlu diingat bahwa setiap kali kita berlibur ke laut peluang untuk terjadinya kondisi terburuk itu tetap ada, karena bagaimanapun risiko bermain di laut itu tetap ada, diantaranya datangnya ombak besar dan arus kuat yang setiap saat bisa mengancam keselamatan jiwa kita. Nah, kalaupun selama ini kita aman-aman saja tanpa pelampung, hal itu bukan jaminan untuk trip-trip selanjutnya yang akan kita jalani. Itu sebabnya lagi-lagi mengapa safety first harus selalu dikedepankan.

 

Prinsip Safety First

Kita mungkin sudah kenal sekali dengan himbauan atau slogan “safety first”. Kalau diterjemahkan ke Bahasa Indonesia berarti “dahulukan keselamatan”. Mengapa “first”? Mengapa bukan “later” (kemudian)? “Safety first” berarti kita dihimbau untuk menempatkan keselamatan di atas hal-hal lainnya saat melakukan sesuatu, termasuk saat traveling dan bermain di alam bebas. “Safety First” berarti kita harus mendahulukan keselamatan kita dibandingkan keyakinan tinggi kita bahwa kita mampu mengatasi cuaca buruk di alam tanpa perlengkapan yang memadai, diatas keyakinan berlebihan kita bahwa cuaca akan baik-baik saja kok, di atas keinginan kita untuk menekan biaya traveling semurah-murahnya, dan lain sebagainya. Saat bermain di alam bebas entah itu di gunung, pulau, pantai, maka keselamatan jiwa kita adalah prioritas penting yang harus didahulukan. Kalau cuaca badai saat dalam perjalanan anda menuju puncak gunung, jangan paksakan diri. Keselamatan adalah hal yang utama. Tak akan lari gunung dikejar. Masih ada lain waktu. Ingat.. keluarga kita, yang menyayangi kita, akan selalu menanti kita pulang dalam keadaan selamat. Bermain di alam bebas bukanlah permainan sembarangan. Ada standar-standar yang harus diterapkan agar keselamatan jiwa kita bisa terjaga.

 

Prinsip “safety first” saat bermain di alam bebas tidak lantas hilang hanya karena katakanlah kita merasa selama ini aman-aman saja kok ngetrip tanpa pelampung. Prinsip ini mengajarkan kita tentang mitigasi atau pencegahan dan persiapan. Mengapa mitigasi dan persiapan? Karena kondisi alam yang akan kita hadapi pada setiap perjalanan yang kita lalui berbeda-beda. Kemarin anda berlibur ke Pulau A mungkin aman-aman saja, tetapi siapa yang bisa menjamin kalau besok anda ke Pulau A lagi atau Pulau B cuaca akan baik-baik saja? Tidak ada yang bisa menjamin. Itu sebabnya “safety first” harus selalu dikedepankan. Sehingga kalaupun seandainya kondisi terburuk itu terjadi (tentunya kita berdoa jangan sampai itu terjadi) kita sudah siap dengan perlengkapan yang memadai.

 

Sebagai penutup, berikut beberapa tips terkait pelampung saat berlayar dan berlibur di laut:

  1. Jika anda berlibur ke laut tentunya bawalah pelampung. Bagaimana kalau tidak punya pelampung? Solusinya adalah dengan menyewa pelampung. Pastikan di destinasi yang hendak anda tuju terdapat penyewaan pelampung.
  2. Bagaimana kalau seandainya di tempat yang akan saya tuju tidak terdapat penyewaan pelampung? Cobalah pinjam kepada teman anda yang memiliki pelampung. Tapi kalau tidak ada yang bisa dipinjami bagaimana? Disinilah mengapa jika memungkinkan sangat disarankan anda membeli pelampung sendiri. Jadi anda tidak perlu repot-repot lagi dan selalu siap setiap waktu kalau ternyata di tempat yang akan anda tuju tidak tersedia pelampung.
  3. Saat berada di atas kapal/perahu dalam perjalanan di tengah laut katakanlah menuju pulau, pastikan akses anda ke tempat penyimpanan pelampung di kapal/perahu yang anda tumpangi mudah. Saya pribadi setiap kali naik kapal atau perahu, maka hal pertama yang akan saya cari tahu adalah dimana letak penyimpanan pelampung. Dari situ saya bisa memastikan akses ke arah pelampung tersebut. Mengapa hal ini saya lakukan? Pada kondisi terburuk misalnya kapal/perahu yang kita tumpangi diterjang ombak besar, maka biasanya akan timbul kepanikan yang luar biasa. Pada saat seperti itu akan sulit sekali bagi kita untuk berpikir jernih dan tenang.
  4. Kita mungkin sering bertanya cuaca atau kondisi perairan kepada pemilik kapal/petugas kapal/perahu yang kita sewa. Informasi itu pastinya sangat berguna. Tapi jangan jadikan informasi tersebut sebagai pembenaran untuk tidak membawa atau menyewa pelampung. Memang benar bahwa biasanya warga lokal yang menyewakan kapal/perahu paham mengenai kondisi cuaca dan perairan di daerah tersebut, tetapi lagi-lagi tidak ada yang bisa menjamin pada saat anda benar-benar sudah berlayar di tengah laut pasti akan 100% aman. Lagi-lagi ingat selalu bahwa alam tidak bisa diprediksi dengan detail dan pasti. Meskipun cuaca secara umum cerah dan baik, itu tidak menutup kemungkinan peluang terjadinya kondisi terburuk seperti ombak besar yang tiba-tiba menerjang. Intinya, selalu siap sedialah dengan pelampung anda.