Jalur Cibodas Gunung Pangrango, Jalur Penguji Kaki dan Lutut

Link artikel lain:

1. Damai di Lembah Surya Kencana

2. Jelajah Pulau Weh (Bagian 1) : Pantai Anoi Itam, Pantai Berpasir Hitam

3. Menggapai Mahameru, Puncaknya Semeru

4. Rute Pendakian Gunung Kerinci

5. Headlamp Untuk Bapak Penambang Belerang Kawah Ijen

 


Setiap gunung memiliki kesulitan tersendiri untuk didaki. Mungkin itu sebabnya mengapa kita selalu dinasehati agar tidak menganggap remeh setiap gunung yang hendak didaki. Anda pernah melewati Jalur Cibodas saat mendaki Gunung Pangrango? Kali ini saya akan berbagi sedikit pengalaman mengenai salah satu jalur yang sudah sangat dikenal oleh para pendaki gunung, yakni Jalur Cibodas, Gunung Pangrango. Gunung Pangrango terletak di Jawa Barat. Gunung ini bertetangga dengan satu gunung lainnya yang juga sangat terkenal, yakni Gunung Gede. Jalur Cibodas merupakan salah satu jalur untuk mendaki kedua gunung ini. Jika kita mendaki Gunung Pangrango melalui Jalur Cibodas maka kita akan melewati Pos Panyangcangan, Kandang Batu, Kandang Badak hingga Puncak Pangrango. Dari Puncak Pangrango kita dapat meneruskan perjalanan ke Lembah Mandalawangi dengan turun sedikit dari Puncak Pangrango.


Saya bersama teman, Mimi dan Dwie Indrajie di awal-awal pendakian dalam perjalanan menuju Panyangcangan. Diambil dengan Kamera DSLR Canon

 

Gambaran umum mengenai jalur ini:

1. Jalur cenderung terus menanjak terutama mulai dari Kandang Batu hingga Puncak Pangrango


Diambil dengan Kamera Poket Panasonic DMC FT20

 

2. Jalurnya merupakan jalur-jalur akar dan air


Diambil dengan Kamera DSLR Canon

 

3. Jalur didominasi dengan melewati hutan. Di beberapa titik terutama selepas area Kandang Badak menuju puncak kita terkadang harus melewati pohon-pohon tumbang


Diambil dengan Kamera Poket Panasonic DMC FT20

 

4. Sumber air dapat ditemukan di Air Terjun Cibeureum di dekat Pos Panyangcangan dan di area Kandang Badak serta di Lembah Mandalawangi.

 

Jalur Cibodas cukup panjang. Diperlukan waktu kurang lebih sekitar 10-13 jam mulai dari bawah hingga ke Puncak Pangrango. Jalur yang panjang, cenderung terus menanjak, dan melewati hutan ini akan cukup menguras energi. Apalagi jika anda mendaki saat musim hujan. Saya pribadi sudah dua kali melewati Jalur Cibodas.

 

Ada sebuah pemandangan yang cukup menarik perhatian saya dari dua kali melewati Jalur Cibodas. Banyak pendaki yang terpincang-pincang atau mengalami cedera kaki saat turun melewati Jalur Cibodas. Beberapa diantaranya bahkan terpaksa harus menggunakan tongkat atau dipapah saat turun. Saat turun melewati Jalur Cibodas, maka kaki dan lutut kita akan diuji. Beberapa penyebabnya:

1. Jalur yang cukup panjang jelas akan menguras energi, meningkatkan pressure pada kaki dan lutut.

 

2. Pada beberapa bagian jalur, yakni dari Kandang Badak turun hingga ke bawah sebagian jalurnya merupakan jalur yang banyak ditanami dengan batu-batu besar. Hal ini akan semakin meningkatkan pressure dan beban pada kaki dan lutut, terutama saat turun gunung. Setiap kali melangkah turun kita mesti memilih pijakan pada batu. Demikian terus hingga kebawah. Tindakan memilih batu pijakan ini jelas meningkatkan tekanan pada kaki dan lutut. Berbeda halnya jika langsung berpijak pada tanah yang datar dimana kaki lebih rileks saat bertumpu.


Beginilah model batu yang ditanam pada beberapa bagian Jalur Cibodas

 

3. Karena adanya bagian jalur yang ditanami batu-batu ini, berpotensi mengakibatkan kaki terkilir atau keseleo apabila salah dalam melakukan pijakan atau bertumpu.

Jalur yang ditanami batu-batu ini tersebar mulai dari awal pos pendakian Cibodas hingga ke Kandang Badak. Dua kali melewati jalur ini, saya menjumpai umumnya pendaki mengalami cedera kaki dan terpincang-pincang saat perjalanan turun dari Kandang Badak hingga kebawah. Faktor stamina yang tentunya telah terkuras saat melakukan pendakian bisa membuat fokus dan konsentrasi berkurang sehingga kita bisa saja salah saat bertumpu dan melakukan pijakan di jalur berbatu ini. Selain itu, jalur yang relatif panjang sudah pasti akan menguji ketahanan kaki dan lutut kita.

 

Saat turun melalui Jalur Cibodas ini, usahakan jangan memaksakan diri anda untuk terus berjalan. Jika kaki anda sudah terasa lelah, beristirahatlah sambil melakukan gerakan-gerakan kecil untuk merilekskan kaki dan lutut anda. Hal ini untuk meminimalisir potensi cedera. Oya, jika memungkinkan sebaiknya gunakan sepatu gunung agar kaki anda lebih rileks saat bertumpu di jalur berbatu-batu ini.

 

Ketika anda sampai di Pos Panyangcangan, jangan senang dulu karena dari pos ini ke Pos Awal Pendakian dibawah kita masih akan melewati jalan yang ditanami batu-batu. Satu lagi catatan penting yang saya tangkap berdasarkan pengalaman adalah jangan lupakan headlamp anda. Tidak jarang kita baru sampai di Pos Panyangcangan saat hari sudah sore dan gelap. Nah, jika anda tidak membawa headlamp dan melakukan perjalanan malam dari Pos Panyangcangan kebawah, maka hal ini bisa menjadi salah satu faktor yang menyebabkan timbulnya cedera kaki. Berjalan pada malam hari di jalur yang ditanami batu-batu ini tanpa menggunakan headlamp tentunya akan semakin mempersulit langkah anda karena harus berhati-hati saat bertumpu dan memilih pijakan pada batu-batu tersebut. Salah-salah kita bisa terkilir atau terjatuh.

 

Jarak dari Pos Awal Pendakian menuju Pos Panyangcangan lebih kurang 2,5 km, ke Kandang Badak sejauh kurang lebih 7 km, sedangkan jarak menuju Puncak Pangrango sekitar 11 km. Cukup panjang bukan? Jadi persiapkan diri sebaik mungkin sebelum memulai pendakian. Selamat mendaki Gunung Pangrango. Salam lestari!

 

Disclaimer:

Tidak diperkenankan mengcopy paste tulisan ini ke website dan blog lain tanpa seizin penulis dan www.viewindonesia.com. Termasuk juga tidak diperkenankan menyadur maupun merubah-rubah urutan paragraf dalam tulisan ini dan mengcopy pastenya ke website atau blog lain tanpa seizin penulis dan www.viewindonesia.com. Copy paste tulisan ini ke website atau blog lain hanya dengan mencantumkan sumber saja juga tidak diperkenankan. Pelanggaran atas disclaimer ini dan segala bentuk copy paste tulisan ini ke website dan blog lain yang dilakukan tanpa seizin penulis dan www.viewindonesia.com dapat dikenai tuntutan hukum.

 

 

Add comment


Security code
Refresh