Menggapai Mahameru, Puncaknya Semeru

Hari sudah mulai terang dan pancaran cahaya sang surya sudah mulai terlihat dibalik punggungan. Saya masih disini. Mungkin baru dua pertiga perjalanan menuju ke atas sana; ke Mahameru. Puncaknya Semeru! Saya berhenti sejenak disebuah titik yang cukup datar. Berdiri dengan kaki gontai dan wajah yang mungkin kalau anda melihatnya sudah seperti orang yang akan pingsan mungkin. Sesekali saya melirik ke atas, ke arah puncak sambil bertanya dalam hati tentang seberapa jauh lagi jarak yang harus saya tempuh untuk bisa sampai di atas. Nafas saya terus memburu seperti kuda liar yang terus berlari kencang. Satu persatu pendaki lain lalu lalang membalap saya dari kiri dan kanan. Biasanya kalau sudah kelelahan seperti ini saya sering berpikir mungkin cukup sudah mendaki gunung. Saatnya menikmati jalan-jalan santai ke pulau atau pantai. Tapi pikiran-pikiran tersebut kembali pudar saat kembali ke rumah, kerinduan untuk kembali mendaki gunung itu selalu saja timbul.

Tiba-tiba saya berpapasan dengan seorang pendaki. Wajahnya sudah terlihat sangat kelelahan. Lebih kelelahan daripada saya. Saya sampai khawatir melihat kondisinya. Tapi yang membuat saya syok adalah saya tidak melihat yang bersangkutan membawa air minum sama sekali. Saya bisa memprediksi seperti itu karena melihat bawaan dan perlengkapan yang melekat di badan yang bersangkutan. Antara takjub atau "geram" sayapun memberanikan menanyakan apa yang bersangkutan membawa minuman. Dan benar saja, dia menjawab tidak. Saya sampai berpikir apa yang bersangkutan baru pertama kali mendaki gunung atau bagaimana. Akhirnya saya menawarkan air minum kepadanya. Saya tidak tahu apakah yang bersangkutan berhasil sampai ke puncak atau tidak.

Setelah beberapa waktu, saya kembali melanjutkan perjalanan. Tiap jalan beberapa langkah saya berhenti untuk sekedar menstabilkan pernapasan. Melangkah…berhenti…melangkah…berhenti. Tidak jarang saya menggunakan kedua tangan untuk bertumpu pada batu-batu lereng Semeru yang sepertinya sedang tertawa menyaksikan saya yang beberapa kali terpaksa harus merangkak dengan menggunakan tangan. Sesekali keraguan terbersit di benak ini, apa saya bisa sampai ke puncak atau tidak dengan kondisi yang lelah seperti ini. Hanya satu hal yang bisa membuat saya terus melangkah saat itu.. Namanya Semangat! Kalau dilihat dari segi fisik saya mungkin seharusnya sudah terhenti di tengah perjalanan yang seolah tak berujung ini. Tapi untung masih ada yang namanya Semangat. Saya terus mencoba memacu diri dan melakukan afirmasi berkali-kali. Sudah sejauh ini masa saya tidak sampai! I can do it!! Dan keajaiban itupun datang…Perlahan tapi pasti, langkah demi langkah, tabir Mahameru sedikit demi sedikit mulai terkuak dari kejauhan. Ujung perjalanan ini semakin jelas di depan mata saya. Semakin dekat menuju puncak, gantungan-gantungan lelah yang menempel di badan saya satu-persatu lepas dan berhamburan jatuh di hamparan pasir yang sesekali tersapu angin pagi Semeru. Wait for me…I will see you Mahameru! Within a few minutes!

Waktu yang dinanti itupun tiba….Kaki ini akhirnya berpijak juga di atas sana…di Mahameru….. Sudah lama saya mendengar pesona dan kharismamu, dan kini……..sambutlah tangan ini…..


Saya menginjakkan kaki di Mahameru. Foto oleh Dwie Indrajie

Saya dan teman-temanpun menikmati kebahagiaan itu…..


Kami bersembilan berfoto di Mahameru. Diambil dengan Canon EOS 500D

Diambil dengan Canon EOS 500D

Sampai juga di Mahameru. Diambil dengan Canon EOS 500D

 

Mahameru yang mempesona…..


 

Setelahnya yang ada di hati saya hanyalah bahagia….bahagia… dan gembira…..Bahagia dan gembira bisa menyaksikan keindahan dari salah satu puncak yang sangat terkenal di kalangan pendaki nusantara…


Perjalanan turun dari Mahameru ke bawah berbeda drastis dengan saat naik. Kalau saat naik membutuhkan waktu berjam-jam (5-7 jam), saat turun saya dan teman-teman hanya memerlukan waktu satu jam. Ini karena treknya berpasir sehingga kita dapat melangkah secara berirama dengan membenamkan kaki pada pasir yang empuk. Namun tetaplah berhati-hati saat turun, karena jika anda salah memilih jalur, maut bisa setiap waktu mengancam.


Turun dari Mahameru. Diambil dengan Canon EOS 500D

 

Saya (paling kiri, duduk di atas batu) dan rekan-rekan beristirahat sejenak di trek berpasir saat turun dari puncak. Foto oleh Wiwik Maya.

 

Jujur, dari beberapa gunung yang saya naiki, perjalanan menuju Mahameru adalah salah satu perjalanan paling melelahkan yang pernah saya lakoni. Tidak pernah sebelumnya saya sampai ada pemikiran untuk turun kembali ke bawah setelah berjalan sedemikian jauh menuju puncak. Baru disini! Di Semeru! Tentunya diluar faktor badai dan kendala alam lainnya. Bagi saya rasanya mendaki Semeru itu bukanlah hal yang mudah… Memang kalau dari Ranupane menuju Kalimati jika dibandingkan dengan beberapa gunung lainnya, treknya boleh dikatakan relatif tidak terlalu ekstrim dan banyak jalur landai. Tapi jangan pernah menganggap mendaki Semeru itu mudah! Anda akan segera sadar betapa dahsyatnya trek pendakian Semeru saat mulai melakukan perjalanan dari Kalimati menuju puncak. Jadi persiapkan diri sebaik-baiknya dan tetap berhati-hati mulai dari awal hingga akhir pendakian.

Comments   

 
0 #1 raksa 2013-08-23 03:01
bang niko asli org mana ,
Quote
 
 
0 #2 raksa 2013-08-23 03:07
bang niko asli org mana,
Quote
 
 
0 #3 niko 2013-08-23 13:43
Aslinya orang Minang Mas alias Sumatra Barat :-) ...
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh