Naringgul...My Secret Hidden Paradise..


Oleh: Nadya

Silahkan cek blognya di: http://dyaiganov.wordpress.com


Pertamakali lewat di tempat ini tahun 2009 lalu karena penasaran ingin tahu ujung jalannya sampai kemana. Setelah bertanya kesana- kemari ternyata ujung jalannya ada di sebuah pantai di daerah Cianjur Selatan. Untuk kedua kalinya lewat disini, cuma bermodal nekat & diem-diem aja. Eh, ternyata benar-benar nggak sia-sia lewat disini, sepanjang jalan sampai ke pinggir pantai full shock therapy dari mulai pemandangannya yang benar-benar bagus, jalanannya yang rusak parah, tikungan & tanjakannya yang sadis, sampai ombak khas pantai selatan yang bikin merinding. Sayangnya ada beberapa hal yang membuat saya ga bisa balik lagi kesini untuk waktu yang belum bisa ditentukan. Ketiga kalinya kesini, hanya untuk ambil barang yang ketinggalan di salah satu rumah penduduk yang tertinggal saat perjalanan kedua.

Foto oleh Nadya

Foto oleh Nadya

Tahun 2011 saya kembali kesini. Awalnya hanya untuk foto-foto dan "piknik" di jembatan di dasar tebing yang air sungainya super jernih dengan pemandangan yang masih tetap menarik untuk dinikmati. Tapi, karena penasaran, akhirnya perjalanan saya lanjutkan sampai ke pantai. Untuk kali ini akhirnya perjalanan saya benar-benar sampai di ujung, hingga ke tepi pantainya. Pada saat berkunjung untuk yang kelima kalinya, saya mengambil jalur yang sedikit berbeda. Biasanya tempat ini jadi start untuk pergi, namun kali ini jadi jalur untuk pulang selepas susur pantai dari Santolo-Jayanti, tentunya dengan semua tantangan & pengalaman yang berbeda. Keenam kalinya kesini hanya sampai sebatas Balegede sekedar mengantar teman dari Jogja untuk jalan-jalan, foto-foto & "kenalan" sama Jawa Barat karena kondisi yang belum memungkinkan untuk sampai ke pantai di Selatan sana.

Foto oleh Nadya

Foto oleh Nadya


Ketujuh kalinya kesini hanya untuk foto-foto saja sebatas Cibuni & bukan tujuan utama ke arah Cianjur Selatan lainnya. Kedelapan kalinya kesini hanya sampai di Cibuni untuk menenangkan hati & menyegarkan pikiran yang mumet & untuk pertama kalinya lewat disini dengan mengendarai sepeda motor dan ditemani oleh seorang teman cewek. What a wondergirl! Kesembilan kalinya kesini lagi-lagi hanya berhasil sampai sebatas Cibuni, padahal niat awal ingin sampai ke jembatan di dasar tebing. Meskipun hanya sampai di Cibuni, tapi kali ini lumayan sukses nganterin & ngasih foto-foto untuk dua orang teman yang kebetulan sedang hunting foto.

Foto oleh Nadya

Foto oleh Nadya

Cukup sembilan kali? Ternyata tidak. Pada kunjungan kesepuluh akhirnya saya sukses mengambil foto-foto landscape & melihat 'wajah' asli Naringgul!! Meskipun tidak sampai ke pantai, tapi rasa penasaran terbayar sudah & berhasil mengabadikan keindahan tempat ini lewat beberapa jepretan. Puaaas rasanya!!!

Foto oleh Nadya

 

Terimakasih untuk teman-teman yang pernah saya ajak kesini, semoga ga kapok buat balik lagi.

 

Kepada alam,

Terimakasih buat kabut super tebel di perbatasan Kab. Bandung-Kab. Cianjur

Terimakasih buat angin & udara supeeerr dingin yang mulai datang diwaktu Magrib….

Terimakasih buat tanjakan & tikungan sadis sepanjang Cibuni-Cidaun..

Terimakasih buat jalanan rusak di beberapa titik rawan sepanjang Cibuni-Cidaun..

Terimakasih buat tanah dan tebing yang rentan longsor sampai putus akses masuk ke Naringgul

Terimakasih buat suasana mistis di beberapa titik di sepanjang jalur dari Cibuni-Cidaun

Terimakasih buat aliran sungai yang mengerikan dikala hujan deras di Desa Naringgul

 

Kenapa? Karena telah menyembunyikan 'wajah' asli Naringgul yang cantik jadi tidak terjamah modernisasi yang malah acapkali merusak. Membutuhkan perjuangan untuk bisa sampai disini, tidak semudah melihat landscapenya dari sebuah foto karena harus mengandalkan faktor keberuntungan & pintar-pintar mencari waktu yang tepat supaya bisa 'mulus' datang kesini.

 

Semoga......Hingga beberapa tahun kedepan bahkan seterusnya, suasana dan landscape di jalur ini tetap cantik dengan hijaunya pepohonan di tebing-tebing di kedua sisi jalan. Tetap cantik dengan puluhan air terjun alami dari rembesan air hujan di hutan-hutan di tebing-tebing di kedua sisi jalan. Tetap berwarna dengan hamparan undak-undak sawah yang hijau dan kuning disisipi putih air saluran irigasi dan sungai. Tetap memanjakan mata dengan hamparan landscape hutan, tebing, air terjun, sawah, sungai, jalan berkelok-kelok, pemukiman yang tidak seberapa banyak dan terkumpul, garis pantai selatan di kejauhan sana, hamparan pola-pola alami perkebunan teh, kabut yang selalu betah untuk mampir disini, dan sinar mataharinya yang jatuh di tebing.


Profil Nadya

Nad, panggilan sehari-hari Nadya. Seorang perempuan yang berasal dari Bandung yang memiliki hobby travelling. Penyuka warna Ungu ini lumayan sedikit tomboy, agak cuek dan pelupa. Sehari-harinya Nad bekerja sebagai pegawai di sebuah kantor konsultan yang menangani semua hal tentang tranportasi laut. Nad merupakan penyuka segala macam kegiatan travelling mulai dari touring, hunting air tejun, mendaki gunung, camping ceria, main ke pantai atau hanya sekedar mengeksplor jalur karena penasaran. Ia mempunyai sebuah mimpi besar tentang travelling yang belum tercapai, yaitu bisa mendatangi satu persatu pulau-pulau terdepan Indonesia & berfoto di tugunya.


Link artikel lainnya:

1. Melihat Rehabilitasi Elang di Pulau Kotok Besar

2. Teluk Kabui; "Surga" Pembuka Menuju Wayag, Raja Ampat

3. 12 Tips Tentang Tersesat Saat Mendaki Gunung

4. Pertemuan dengan Seorang Bapak di Selayar

5. Pesona Pagi, Senja dan Malam di Merbabu

 

Pertamakali lewat di tempat ini tahun 2009 lalu karena penasaran ingin tahu ujung jalannya sampai kemana. Setelah bertanya kesana- kemari ternyata ujung jalannya ada di sebuah pantai di daerah Cianjur Selatan. Untuk kedua kalinya lewat disini, cuma bermodal nekat & diem-diem aja. Eh, ternyata benar-benar nggak sia-sia lewat disini, sepanjang jalan sampai ke pinggir pantai full shock therapy dari mulai pemandangannya yang benar-benar bagus, jalanannya yang rusak parah, tikungan & tanjakannya yang sadis, sampai ombak khas pantai selatan yang bikin merinding. Sayangnya ada beberapa hal yang membuat saya ga bisa balik lagi kesini untuk waktu yang belum bisa ditentukan. Ketiga kalinya kesini, hanya untuk ambil barang yang ketinggalan di salah satu rumah penduduk yang tertinggal saat perjalanan kedua.

 

Tahun 2011 saya kembali kesini. Awalnya hanya untuk foto-foto dan "piknik" di jembatan di dasar tebing yang air sungainya super jernih dengan pemandangan yang masih tetap menarik untuk dinikmati. Tapi, karena penasaran, akhirnya perjalanan saya lanjutkan sampai ke pantai. Untuk kali ini akhirnya perjalanan saya benar-benar sampai di ujung, hingga ke tepi pantainya. Pada saat berkunjung untuk yang kelima kalinya, saya mengambil jalur yang sedikit berbeda. Biasanya tempat ini jadi start untuk pergi, namun kali ini jadi jalur untuk pulang selepas susur pantai dari Santolo-Jayanti, tentunya dengan semua tantangan & pengalaman yang berbeda. Keenam kalinya kesini hanya sampai sebatas Balegede sekedar mengantar teman dari Jogja untuk jalan-jalan, foto-foto & "kenalan" sama Jawa Barat karena kondisi yang belum memungkinkan untuk sampai ke pantai di Selatan sana.

 

Ketujuh kalinya kesini hanya untuk foto-foto saja sebatas Cibuni & bukan tujuan utama ke arah Cianjur Selatan lainnya. Kedelapan kalinya kesini hanya sampai di Cibuni untuk menenangkan hati & menyegarkan pikiran yang mumet & untuk pertama kalinya lewat disini dengan mengendarai sepeda motor dan ditemani oleh seorang teman cewek. What a wondergirl! Kesembilan kalinya kesini lagi-lagi hanya berhasil sampai sebatas Cibuni, padahal niat awal ingin sampai ke jembatan di dasar tebing. Meskipun hanya sampai di Cibuni, tapi kali ini lumayan sukses nganterin & ngasih foto-foto untuk dua orang teman yang kebetulan sedang hunting foto.

 

Cukup sembilan kali? Ternyata tidak. Pada kunjungan kesepuluh akhirnya saya sukses mengambil foto-foto landscape & melihat 'wajah' asli Naringgul!! Meskipun tidak sampai ke pantai, tapi rasa penasaran terbayar sudah & berhasil mengabadikan keindahan tempat ini lewat beberapa jepretan. Puaaas rasanya!!!

 

Terimakasih untuk teman-teman yang pernah saya ajak kesini, semoga ga kapok buat balik lagi.

 

Kepada alam,

Terimakasih buat kabut super tebel di perbatasan Kab. Bandung-Kab. Cianjur

Terimakasih buat angin & udara supeeerr dingin yang mulai datang diwaktu Magrib….

Terimakasih buat tanjakan & tikungan sadis sepanjang Cibuni-Cidaun..

Terimakasih buat jalanan rusak di beberapa titik rawan sepanjang Cibuni-Cidaun..

Terimakasih buat tanah dan tebing yang rentan longsor sampai putus akses masuk ke Naringgul

Terimakasih buat suasana mistis di beberapa titik di sepanjang jalur dari Cibuni-Cidaun

Terimakasih buat aliran sungai yang mengerikan dikala hujan deras di Desa Naringgul

 

Kenapa?

Karena sudah menyembunyikan 'wajah' asli Naringgul yang cantik jadi tidak terjamah modernisasi yang malah acapkali merusak. Membutuhkan  perjuangan untuk bisa sampai disini, tidak semudah melihat landscapenya dari sebuah foto karena harus mengandalkan faktor keberuntungan & pintar-pintar mencari waktu yang tepat supaya bisa mulus datang kesini

 

Semoga......Hingga beberapa tahun kedepan bahkan seterusnya, suasana dan landscape di jalur ini tetap cantik dengan hijaunya pepohonan di tebing-tebing di kedua sisi jalan. Tetap cantik dengan puluhan air terjun alami dari rembesan air hujan di hutan-hutan di tebing-tebing di kedua sisi jalan. Tetap berwarna dengan hamparan undak-undak sawah yang hijau dan kuning disisipi putih air saluran irigasi dan sungai. Tetap memanjakan mata dengan hamparan landscape hutan, tebing, air terjun, sawah, sungai, jalan berkelok-kelok, pemukiman yang tidak seberapa banyak dan terkumpul, garis pantai selatan di kejauhan sana, hamparan pola-pola alami perkebunan teh, kabut yang selalu betah untuk mampir disini, dan sinar mataharinya yang jatuh di tebing.

 

Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4

Add comment


Security code
Refresh