Pertemuan dengan Seorang Bapak di Selayar

Link artikel lain:

1. Mengintip Selayar; Kepulauan di Ujung Selatan Sulawesi

2. Menggapai Puncak Rinjani

3. Tegal Panjang: Lembah Tersembunyi di Dekat Gunung Papandayan

4. Serba-Serbi 3 Gili

5. Teluk Kabui; Surga Pembuka Menuju Wayag, Raja Ampat


Setiap perjalanan selalu meninggalkan cerita dan kesan yang menarik dan tak terduga. Salah satunya adalah tentang pertemuan. Yup, pada saat traveling ke suatu tempat kita pasti akan menjumpai banyak orang di daerah yang kita kunjungi. Ada pertemuan yang memang sudah kita rencanakan dan ada pula yang tidak direncanakan alias diluar perkiraan. Itulah yang saya alami saat berkunjung ke Selayar, sebuah kepulauan di ujung Selatan Sulawesi. Saya yakin anda yang hobby jalan-jalanpun pasti pernah mengalami pengalaman berkesan bertemu dengan orang-orang baru di tempat yang sedang anda kunjungi.

Cerita ini berawal di Bulan Oktober 2012 lalu saat saya dan tiga orang teman melakukan perjalanan ke Raja Ampat. Sepulangnya dari Raja Ampat saya menyempatkan diri untuk singgah ke Kepulauan Selayar mumpung masih ada waktu kosong sekitar satu minggu lagi. Perjalanan saya ke Selayar ini dipenuhi dengan sejuta kegalauan karena rasanya sudah rindu untuk kembali ke Jakarta setelah sekitar semingguan menikmati keindahan Raja Ampat. Saya tidak pernah merasa ingin pulang ke Jakarta sebegitu besarnya saat 'ngetrip'. Tenyata ibukota yang terkenal dengan kemacetannya tersebut bisa juga membuat saya rindu dan hamper “menyia-nyiakan” waktu seminggu..he..he..


Singkat cerita Selasa pagi 9 Oktober 2012 saya sudah siap dengan sepedamotor sewaan yang saya peroleh atas bantuan Kak Evy, salah seorang teman di Selayar. Pagi itu cuaca sangat cerah. Birunya langit semakin membuat saya bersemangat untuk segera tancap gas. Jalan-jalan berliku dan keindahan alam sudah menanti disana :). Sudah tidak sabar rasanya mengeksplor pulau ini. Apa hubungannya birunya langit dengan semangat ya? He..he..Yang senang motret biasanya pada suka langit biru. Begitu juga dengan saya. Sebelum berangkat saya pamitan dengan Irwan yang menjaga Tinabo Dive Center tempat dimana saya menginap. Tinabo Dive Center ini letaknya persis di dekat Pelabuhan Kota Benteng, Ibukota Kabupaten Kepulauan Selayar.


Sepeda motor sudah siap, peralatan kamera juga, mandipun sudah (he..he..he..hush jangan ketawa ^_^). Pertanyaannya sekarang, saya mau kemana????? Ups, saya datang kesini memang tanpa persiapan. Perginya saja sudah dalam keadaan galau :). Target awal saya sebenarnya adalah Tanjung Bira, namun secara mendadak saya merubah haluan ke Selayar. Tadi malamnya saya sempat ngobrol-ngobrol dengan beberapa teman di Sileya Dive tentang destinasi wisata yang ada di Selayar. Namun meskipun begitu tetap saja masih membuat saya bingung karena saya belum mengenal daerah ini terutama jalan-jalannya. Apalagi pulau ini cukup luas dengan jarak dari ujung ke ujung sekitar 100 kilometer. Ah, nekat saja pikir saya. Paling nanti kalau bingung tinggal tanya-tanya. Kalau sesat ya tinggal balik arah. Ada pepatah menyebutkan: "malu bertanya saat ngetrip ke pulau,ya muter-muter di pulau". Emang ada pepatah seperti itu ya? Ya jelas nggak ada. Itu buatan saya sendiri..he..he..Jangan diikutin! :) . Tapi jujur saja, terkadang indahnya "ngetrip" itu datang dari hal-hal yang tidak dipersiapkan dan tidak diduga-duga. Surprise-surprise yang membuat jiwa kembali terasa “muda”.


Akhirnya saya melaju juga di atas sepeda motor dengan ditemani udara sejuk khas pulau dan indahnya langit biru. Pantai Baloiya menjadi target pertama saya berdasarkan hasil ngobrol-ngobrol tadi malam di Cafe Tempat Biasa. Eh, belum jauh dari tempat penginapan ke arah keluar Kota Benteng, saya sudah berhenti di sebuah persimpangan. Ngapain???Yup, gak salah lagi. Nanya! :) Kebetulan ada seorang Bapak yang sepertinya sedang menunggu angkutan umum. Sayapun menepi dan bertanya kepada Bapak tersebut. "Pak, Pantai Baloiya ke arah mana ya?". Bapak tersebut kemudian menunjukkan arah jalan ke Pantai Baloiya. "Mau ngapain kesana Nak?", tanya Bapak tersebut. "Gak ada Pak, jalan-jalan aja", jawab saya. Kemudian Bapak tersebut menjelaskan kalau dia sebenarnya juga mau ke Baloiya. Kebetulan nih pikir saya. Akhirnya sayapun menawarkan angkutan kepada Bapak tersebut sekalian menjadi penunjuk jalan. Bapak tersebutpun menerima tawaran saya.


Sepanjang perjalanan kami larut dalam percakapan. Barulah saya tahu kalau Si Bapak ternyata bekerja borongan di beberapa tempat. Menyelesaikan beberapa proyek bangunan.  Salah satunya di Baloiya. Dan angkutan menuju ke Baloiya memang tidak banyak. Hal ini terbukti sepanjang perjalanan saya tidak melihat angkutan umum. Jalannya mulus tetapi cukup sepi. Dikiri-kanan jalan semak dan hutan. Kalau malam pasti suasananya semakin mencekam. Menyusuri jalan-jalan di Selayar ini membuat saya teringat akan perjalanan ke Pulau Weh di Propinsi Nangroe Aceh Darussalam. Jalannya mulus dan berbelok-belok dan juga sepi! Sepanjang perjalanan saya juga bercerita ke Bapak tersebut kalau saya hobbynya jalan-jalan dan memotret. Itu jugalah tujuan saya datang ke Selayar ini. Tidak terasa 30 menit waktu berlalu akhirnya kami sampai juga di Baloiya. "Kita berhenti disini sebentar ya Pak. Nanti saya antar ke tempat Bapak", tutur saya. Sayapun menepikan sepeda motor didekat sebuah pohon dipinggir jalan. Pemandangan Pantai Baloiya dan hamparan laut biru sudah terlihat dengan jelas. Si Bapak dengan semangat menuntun saya ke arah pantai melewati semak belukar. Sesampainya di pantai saya langsung mempersiapkan kamera dan mulai memotret. Disini sebenarnya terdapat resort, namun saya tidak singgah ke resort tersebut namun lebih memilih pesisir pantai di sebelah resort. Mungkin ada diantara pembaca yang berpikir: ah, bilang aja gak punya duit untuk masuk ke resort! He…he..he..Ada benarnya dan ada juga enggaknya :).


Puas memotret sayapun langsung bergegas kembali ke sepeda motor. "Tempat Bapak dimana?" Tanya saya. "Gak jauh dari sini", sahutnya. "Oke pak, mari saya antar", timpal saya. Si Bapakpun bilang, "gak usah nak". Loh? Ternyata Bapak tersebut tiba-tiba malah menawarkan diri untuk menemani dan menjadi guide saya untuk menyusuri Selayar. Saya jadi bingung-bingung sendiri. "Bukannya bapak harus bekerja hari ini?", tanya saya. "Iya, benar, tapi gak apa-apa, nanti saya bicara sama bos saya kalau hari ini izin gak kerja. Gak masalah itu". Sayapun berkali-kali meyakinkan Bapak tersebut atas keputusannya tersebut. Namun jawabannya tetap sama. Akhirnya jadilah Bapak tersebut menemani saya menyusuri Selayar hari itu. Dari Baloiya kamipun mulai bergerak ke arah Patumbukkang.


"Kalau ada tempat bagus disepanjang jalan nanti, kasih tau ya Pak", ujar saya sambil terus menggedor mesin sepeda motor. Pemandangan sepanjang perjalanan semakin membuat saya bersemangat dan tak sabar menanti seperti apa tempat-tempat berikutnya yang akan saya lewati. Belum jauh dari Baloiya kami melewati sebuah kampung yang bernama Tile-Tile. Pohon-pohon kelapa yang menjulang tinggi di kiri dan kanan jalan yang terletak persis dipinggir pantai kembali harus "memaksa" saya untuk berhenti sejenak dan kembali memotret. Butuh sekitar 10 menit saja untuk mengabadikan tempat ini. Perjalanan kembali kami lanjutkan, menyusuri banyak desa/dusun. Disini banyak sekali desa/dusun. Setiap 1-2 kilometer hampir selalu ada desa/dusun lagi. Biasanya antara satu desa/dusun dengan desa/dusun lainnya ditandai dengan batas berbentuk tugu batu yang dipasang dipinggir jalan. Setiap masuk suatu desa/dusun saya selalu bertanya kepada Bapak nama desa/dusun tersebut. Karena banyaknya tidak semuanya saya ingat. Adapun rute yang kami tempuh dari Tile-Tile: Tile-tile-Lakiung-Pariangan-Laiolo-Pagarangan-Kampung Lebo-Kalepe-Bahorea-Kunyik-Binanga benteng-Tongke-tongke-Patumbukang. Di Patumbukkang saya diperkenalkan oleh Bapak tersebut kepada seorang Bapak Tua yang sudah berusia diatas 70-an. Saya dipersilahkan masuk kedalam rumahnya yang terletak persis di dekat gerbang Dermaga Patumbukkang. Ada dua rumah kecil yang berbentuk gubuk. Sederhana sekali. Terletak di area yang sangat sepi. Sejenak terlintas di benak saya, saya mungkin tidak akan sanggup jika disuruh tinggal di tempat seperti ini. Sepi, jauh dari keramaian, rumah yang sangat sederhana, disekitarnya hanya ada semak belukar, tanpa koneksi internet, dan berbagai "kemewahan" dan teknologi yang sudah membuat kita berada dalam ketergantungan. Namun meskipun begitu, disisi lain disana saya merasakan ada kesederhanaan dalam hidup. Kesederhanaan yang semakin lama semakin tergilas oleh laju dan hiruk pikuk perkembangan zaman.


Di dalam rumah bertebaran barang-barang. Kain-kain bertumpukan. Ada sekitar satu jam lebih kami bertiga larut dalam percakapan. Bapak tua tersebut bercerita tentang berbagai hal. Dulu, katanya, beliau pernah menemukan banyak barang-barang peninggalan sejarah seperti nekara, perkakas-perkakas, dll, di daerah perbukitan dekat rumahnya tersebut. Namun barang-barang tersebut diambil alih oleh petugas yang berwenang. Beliau juga menunjukkan kepada saya sebuah cincin yang baunya wangi. Saya dipersilahkan untuk membuktikannya. Dan benar saja bau batu cincin tersebut sangat wangi. Banyak peninggalan sejarah di Selayar karena berdasarkan cerita dari orang-orang yang saya temui selama disana dulunya Selayar sering dijadikan tempat persinggahan pelaut-pelaut Cina, Belanda dan Portugis. Salah satu peninggalan yang cukup terkenal adalah Gong Nekara. Bapak tersebut juga bercerita tentang anak-anaknya yang sudah bekerja di berbagai bidang dan menetap di berbagai daerah. Sempat terlintas di benak saya, kalau anak-anaknya sudah sukses, mengapa Bapak ini masih memilih bertahan di rumahnya yang sederhana ini, yang maaf, hampir mirip seperti gubuk. Padahal mungkin anak-anaknya pasti bisa memberikan kehidupan yang lebih baik di masa tuanya. Entahlah, pasti ada alasan-alasan yang tidak bisa ditakar semata hanya dengan ukuran material.


Matahari sudah meninggi di atas langit saat saya berpamitan kepada Bapak tua tersebut untuk kembali melanjutkan perjalanan. Dari Patumbukkang kami berdua menuju ke Appatana, bagian ujung pulau ini. Dari Appatana karena waktu yang terbatas saya memutuskan untuk langsung kembali ke Kota Benteng. Si Bapak mengajak saya untuk singgah kerumahnya sebentar. Rumahnya masih terletak di dalam Kota Benteng. Rumah yang sederhana, pikir saya. Bentuknya berupa rumah panggung yang terbuat dari kayu. Di dinding di ruang tamu terpampang foto-foto anak-anak bapak tersebut. Setelah sekitar 15 menit berbincang-bincang, saya segera berpamitan untuk kembali ke penginapan karena hari sudah sore.

Foto oleh Niko TujuhLangit

Tahukah anda esok harinya Bapak tersebut kembali menawarkan diri untuk menjadi guide saya menyusuri tempat-tempat ke arah Pamatata; arah berlawanan dengan rute saya sebelumnya. Pada hari kedua ini kami menyinggahi beberapa tempat disepanjang perjalanan seperti makam beberapa tetua yang katanya merupakan perintis pertama di pulau tersebut, Pantai Pabakdilang, Kampung Padang, Gong Nekara dan Mesjid Gantarang yang terletak di atas bukit melewati hutan-hutan.

Tidak pernah terpikirkan oleh saya akan menjumpai Bapak tersebut, yang akhirnya menjadi teman saya menyusuri berbagai tempat di Selayar. Pertemuan di tempat yang tidak pernah saya duga. Yang bahkan rela meninggalkan pekerjaannya hanya untuk menemani saya yang baru saja dikenalnya. Inilah pertemuan. Salah satu hal indah yang kita dapatkan dalam setiap perjalanan. Bertemu banyak orang dan menyaksikan keseharian serta kondisi mereka setiap kali ber-traveling membuka ruang pikir dan kesadaran saya bahwa ada banyak hal lain dan indah diluar sana. Ada banyak orang-orang yang mungkin jauh lebih tidak beruntung atau dengan kata lain hidup tidak seenak dan semudah yang mungkin sudah saya peroleh saat ini. Ada banyak pelajaran-pelajaran berharga yang bisa kita temui dalam setiap perjalanan. Pelajaran-pelajaran yang akan terus memperkaya dan menyegarkan hati kita.

Sebuah pantai di Appatana

Have great traveling then...See you..

Comments   

 
0 #1 bernard roeng 2013-11-07 10:17
wooowwww....
Quote
 
 
0 #2 niko 2014-07-12 03:32
wow juga mas :D
Quote
 
 
0 #3 NUR ALIM BAHRI 2015-04-10 07:47
sip...memang jos.Kepulauan Selayar adalah Kampung halaman saya mas #2niko :-)
Quote
 
 
0 #4 niko 2015-04-12 11:08
Yup mas nur. Ini salah satu trip berkesan bagi saya. Selayar itu terasa tenang dan damai. Salam kenal mas..
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh