Menggapai Puncak Rinjani

Link artikel lainnya:

1. Dari Pasar Bubrah Menuju Puncak Merapi

2. Pesona Pagi, Senja dan Malam di Merbabu

3. Menerobos 5 Gunung Menuju Puncak Tertinggi Guntur

4. Oro-Oro Ombo..Serpihan Surga yang Jatuh di Semeru

5. Mendaki Gunung Tampomas

6. Damai di Lembah Surya Kencana

7. Artikel fotografi: Tips Memotret Orang: Tatapan Mata, Senyum, Tawa, Ekspresi dan Cahaya

8. 18 Tips Memotret Saat Mendaki Gunung


 

Oleh: Niko TujuhLangit

 

Hari itu, 17 Mei 2012 dini hari, saya dan tiga orang teman lainnya sudah bersiap-siap di Plawangan Sembalun, Rinjani. Apalagi kalau bukan untuk menuju Puncak Anjani. Puncak yang telah menyihir banyak pendaki lokal dan luar negeri. Dengan izin-Nya akhirnya keinginan saya untuk menginjakkan kaki lagi di gunung ini kesampaian juga. Awalnya pada kunjungan kali ini saya tidak berniat untuk ke puncak lagi. Namun sesampainya disana, saya akhirnya memutuskan untuk ke puncak lagi. Sekitar jam 02.00 dini hari kami sudah mulai trekking dari Plawangan Sembalun. Cuaca agak sedikit berbeda dalam perjalanan menuju puncak kali ini. Dari awal pendakian hujan ternyata masih sering terjadi. Perkiraan awal saya agak meleset. Awalnya saya pribadi berharap cuaca sudah cerah di Rinjani. Namun ternyata sesampainya disana, musim hujan belum sepenuhnya reda. Dan benar saja, klimaksnya terjadi dalam perjalanan kami menuju puncak. Diketinggian sekitar 3100-3200 mdpl kami diterjang cuaca buruk. Angin berhembus sangat kencang. Udara terasa sangat dingin. Membuat tangan dan jari-jari saya terasa kaku. Akhirnya saya dan satu orang teman memutuskan berhenti sejenak dan berlindung dibalik sebuah batu untuk mengurangi terpaan angin yang membawa hawa dingin. Disini kami berbagi tempat dengan seorang pendaki lainnya, yang ternyata sedang menunggu istrinya yang dengan berani memutuskan melanjutkan perjalanan menuju puncak. Cukup lama kami berlindung dibalik batu berharap cuaca buruk segera berhenti. Namun hingga matahari mulai terbit dan naik, langit masih sangat gelap dan berkabut tebal. Jarak pandangpun terbatas. Beberapa pendaki terlihat satu-persatu mulai turun dari arah puncak. Kami sempat bertemu dengan pendaki asing yang mengatakan kalau dia sudah sampai di 3.4 (maksudnya ketinggian 3400 mdpl), namun memutuskan turun lagi karena keadaan cuaca diatas sangat tidak bersahabat. Satu persatu pendaki mulai terlihat turun kebawah. Porter yang kami jumpaipun menyarankan untuk tidak melanjutkan perjalanan menuju puncak. Setelah menunggu dan menunggu, cuaca buruk sepertinya belum juga berubah. Akhirnya kami berdua memutuskan untuk tidak menuju puncak dan kembali turun ke Plawangan Sembalun. Dua orang teman lainnya yang telah lebih dahulu berada didepanpun akhirnya tidak sampai ke puncak. Padahal satu diantaranya sudah sampai di ketinggian 3400 - 3500 mdpl. Akhirnya hari itu kami berempat harus melupakan niat menuju puncak dan melanjutkan perjalanan menuju Danau Segara Anakan. Namun meskipun begitu, di hari terakhir pendakian (hari keempat) kami melakukan percobaan kembali menuju puncak dan akhirnya sampai juga. Percobaan ini kami lakukan setelah melihat cuaca agak mengalami perubahan dibanding hari pertama. Dan benar saja sepanjang perjalanan menuju puncak cuaca cukup cerah.

 Akhirnya kami bertiga menginjakkan kaki di Puncak Rinjani

 

Berfoto di Puncak Rinjani. Disebelah kanan foto adalah Danau Segara Anakan. Foto oleh Niko TujuhLangit

Berfoto bersama pendaki dari luar negri. Gunung Rinjani merupakan salah satu gunung yang paling ramai dikunjungi oleh pendaki dari luar. Foto oleh Niko TujuhLangit

 

Puncak Anjani adalah sebutan untuk puncak Gunung Rinjani yang terletak di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Puncak ini memiliki ketinggian 3726 meter dari permukaan laut. Dengan ketinggian tersebut menempatkan Gunung Rinjani sebagai gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia setelah Gunung Kerinci. Untuk bisa mencapai puncak ini diperlukan waktu kurang lebih 1 hari 1 malam termasuk istirahat. Anda dapat mencapai puncak ini melalui dua jalur pendakian utama Gunung Rinjani, yakni melalui Jalur Senaru atau melalui Jalur Sembalun. Jalur Senaru secara keseluruhan sedikit lebih terjal jika dibandingkan Jalur Sembalun. Soal pemandangan, keduanya sulit dibandingkan. Masing-masing memiliki kelebihan tersendiri. Sama-sama indah! Kedua jalur ini nantinya akan bertemu di Plawangan Sembalun; area terakhir atau pos keempat sebelum menuju puncak. Plawangan Sembalun sendiri merupakan area yang cukup terbuka dan memanjang. Disinilah para pendaki biasa mendirikan tenda dan beristirahat sebelum bersiap menjajal trek menuju puncak. Keindahan pemandangan dari tempat ini benar-benar sangat memukau. Dari sini kita dapat melihat Danau Segara Anakan dengan jelas. Bayangkan anda sedang bercengkerama dengan rekan-rekan anda saat senja di pelataran tenda, ditemani secangkir teh atau susu atau kopi hangat, dengan pemandangan pegunungan dan danau yang tengah disirami oleh hangatnya suasana senja sambil menunggu matahari tenggelam. Seru bukan?

Menikmati senja. Danau Segara Anakan. Foto oleh Niko TujuhLangit

 

Salah satu tempat mendirikan tenda di Plawangan Sembalun. Pemandangan hamparan awan saat senja terlihat disebelah kiri foto. Foto oleh Niko Tujuhlangit

 

Berfoto di area Plawangan Sembalun. Foto oleh Niko TujuhLangit

 

Saya dan teman-teman baru sampai di Plawangan Sembalun. Jika kita mendaki melalui Jalur Sembalun maka kita akan keluar dari sisi sebelah kiri foto. Biasanya pendaki mendirikan tenda ke arah Utara foto ini dengan berjalan kaki sekitar 15-30 menit lagi dari tempat di foto ini. Foto oleh Niko TujuhLangit

 

Masih di area Plawangan Sembalun. Terlihat di kejauhan adalah bibir kawah yang memanjang. Saat menuju puncak kita akan melewati bibir kawah tersebut. Foto oleh Niko TujuhLangit.

 

Lantas Sepeti Apa Perjalanan Menuju Puncak?

Perjalanan dari Plawangan Sembalun menuju puncak adalah salah satu bagian terberat dalam pendakian Rinjani. Perbanyaklah istirahat di Plawangan Sembalun agar anda fit dan siap saat menjajal trek berpasir Rinjani. Berpasir? Yup, selepas dari Plawangan Sembalun menuju puncak, pertama-tama kita akan langsung berhadapan dengan trek berpasir dan berbatu dan merupakan area terbuka dengan kemiringan bervariasi sekitar 30-40 derajat.

 

Beginilah kira-kira jalur berpasir yang pertama akan kita lewati selepas Plawangan Sembalun hingga sampai di bibir kawah. Foto oleh Niko TujuhLangit

 

Perjalanan melewati trek berpasir ini sedikit banyak akan menguras energi. Jika memungkinkan lakukan sedikit pemanasan dan gerakan-gerakan kecil sebelum memulai perjalanan dari Plawangan Sembalun agar nafas anda tidak terlalu terkejut, terutama jika anda baru pertama kali melakukan pendakian di gunung ini. Trek selepas Plawangan Sembalun ini sebenarnya sudah cukup jelas dan anda dapat mengikuti pendaki lain yang sedang menuju ke puncak. Namun tetaplah berhati-hati dan jangan mengambil jalur terlalu ke kiri atau ke kanan yang dekat dengan jurang untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Karena trek menuju puncak ini berpasir dan berbatu maka jangan lupa siapkan masker untuk menghindari debu yang terlalu berlebihan. Selepas 1,5-3 jam perjalanan maka kita sudah bisa sampai di atas, di salah satu sisi bibir kawah. Dari sini kita sudah dapat menyaksikan pemandangan Danau Segara Anakan dan Gunung Barujari, yang posisinya terletak di tengah-tengah. Nah, untuk bisa sampai ke puncak, dari sini (dari titik pertama kali anda sampai dibibir kawah) maka kita harus menyusuri bibir kawah yang memanjang ini lagi dengan waktu tempuh sekitar 3-4 jam.

 

 Beginilah kira-kira trek menuju puncak. Kita akan menyusuri bibir kawah. Foto ini diambil dari arah berlawanan dengan menuju puncak. Foto oleh Niko TujuhLangit

 

Pada saat melakukan pendakian pertamakali saya merasakan perjalanan ini terasa sangat panjang dan seolah-olah tidak ada habisnya. Pemandangan cahaya-cahaya headlamp para pendaki terlihat di kejauhan membuat saya semakin sadar kalau perjalanan masih jauh. Kita harus bergerak terus menyusuri bibir kawah hingga sampai ke puncak. Disebelah kanan terhampar pemandangan Danau Segara Anakan dan Gunung Barujari sedangkan disebelah kiri jurang dan pemandangan laut terlihat di kejauhan. Saat menyusuri bibir kawah ini, tetaplah waspada dan berkonsentrasi karena di beberapa titik jalurnya cukup tipis.

 

Dalam perjalanan menuju puncak. Terlihat di kejauhan para pendaki lain. Foto oleh Niko TujuhLangit.

 

Mulai di ketinggian sekitar 3100 mdpl jalur semakin menyempit. Treknya hampir sama; berbatu dan berpasir hingga menuju puncak. Disini anda harus lebih ekstra hati-hati lagi apalagi jika dalam perjalanan menuju puncak masih dalam keadaan gelap gulita. Perhatikan gerakan pendaki dari arah berlawanan, karena terkadang beberapa pendaki yang turun dari puncak ada yang berlari turun kebawah.

 

Foto oleh Niko TujuhLangit

 

Foto oleh Niko TujuhLangit

Trek menuju Puncak Rinjani. Foto oleh Niko TujuhLangit

 

Puncak Anjani sebagaimana telah disebutkan di atas berada pada ketinggian 3726 mdpl. Area puncak ini tidak terlalu luas, namun bisa menampung sekitar 10-20 orang. Secara keseluruhan diperlukan waktu sekitar 4-8 jam untuk bisa sampai ke puncak dari Plawangan Sembalun tergantung stamina dan kecepatan setiap pendaki serta kondisi cuaca. Ada pendaki yang berangkat sekitar pukul 01.00 dini hari (dari Plawangan Sembalun) sudah bisa sampai di puncak sebelum matahari terbit dan ada juga yang baru sampai di puncak sekitar pukul tujuh atau delapan pagi.

Di area Puncak Rinjani. Foto oleh Niko TujuhLangit

 

 Bersama teman saya di Puncak Rinjani. Dibelakang terlihat pendaki-pendaki lainnya. Foto oleh Niko TujuhLangit

 

Meskipun perjalanan menuju puncak ini amat melelahkan, namun yakinlah, setiap perjuangan pasti ada balasannya ^_^. Keindahan di atas sana akan membuat anda terpesona dan bukan tidak mungkin akan menarik anda kembali kesana lagi suatu saat nanti. Tunggu apa lagi. Siapkan keril dan perlengkapan anda. :)


Salam keindahan Indonesia! Nantikan beberapa tulisan dan foto-foto berikutnya masih tentang pendakian Gunung Rinjani.

 

Comments   

 
0 #1 hema prasetya 2013-06-03 09:16
:oops: keren banget sumpah. :)
Quote
 
 
0 #2 Niko 2013-06-04 11:21
Terimakasih @hema.... Salam..
Quote
 
 
0 #3 cica 2013-06-06 16:28
kereeeeeeeeeeee eeeeeeeeeeeeeen nn,,,, :eek:
Quote
 
 
0 #4 arihanda 2013-07-26 00:57
Wooow,.
indahnya Indonesia ;-)
Quote
 
 
0 #5 niko 2013-07-26 10:56
@CIca; Terimakasihhh.. . @arihanda: yup benar ... :)
Quote
 
 
0 #6 cici 2013-07-31 04:24
ih, sumpah keren! alam nya keren bgt! itu di foto pake apaan sih? bisa2 nya lapang pandang luas gt
Quote
 
 
-1 #7 niko 2013-07-31 16:21
@Cici: terimakasih.... . :) Untuk foto lebar di atas saya salah satunya pakai Lensa Ultra Wide mbak... Yakni Lensa Canon 10-22 mm
Quote
 
 
0 #8 deni 2013-08-14 14:36
kereeenn bgt bro..lgi persiapan nih september mau landing rinjani..hhe :lol:
Quote
 
 
0 #9 niko 2013-08-16 16:55
@Mas Deni: Terimakasih Mas.... Selamat mendaki Rinjani Mas. Semoga lancar dan selamat menikmati keindahannya :-)
Quote
 
 
0 #10 ain 2013-10-01 08:34
wow indah bangat....bru pulang dr rinjani 22 september lpas...sangat cantik ya di sana. syg sekali x punya wide lense seperti kamu...
Quote
 
 
0 #11 niko 2013-10-03 12:37
ain: trims ain
Quote
 
 
0 #12 arie 2014-04-10 10:42
awawawwwww....s aya kapan bisa perjalanan seperti itu.. :cry:
Quote
 
 
0 #13 niko 2014-04-20 10:04
Mas Arie: trimakasih sudah berkunjung Mas.... Saya doakan semoga Mas bisa berkunjung kesana suatu saat nanti...
Quote
 
 
0 #14 Nanang 2015-03-04 03:30
baca ini jadi teringat pendakian ke rinjani mei 2014 kemarin...melih at jalur menuju puncak memang benar2 butuh perjuangan extra...tapi alhamdulillah dengan usia yg hampir setengah abad akhirnya berhasil juga juga sampai ke puncak...salam kenal dr kediri jatim
Quote
 
 
0 #15 Niko 2015-03-21 07:39
Wah...luar biasa mas... Masih kuat nanjak di umur segitu... Salam kenal juga Mas Nanang
Quote
 
 
0 #16 Suwandi Chen 2015-09-29 20:44
Mantap bro.
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh