Adventures In The Land of The Dragon


Oleh Fitri Hawa N


Perjalanan menuju negeri sang dragon ini bermodalkan awal tiket (promo Air Asia Bandung – Denpasar pulang pergi  tanggal 26 Mei 2010 dan 2 Juni 2010 seharga Rp 228.000,- dan tiket Merpati Airlines rute Maumere – Denpasar tanggal 2 Juni 2010 seharga Rp 628.000,-), itinerary & tentunya rasa penasaran akan keunikan timur Indonesia. Perjalanan ini saya lakoni bersama dengan beberapa rekan saya; Mbak Ririn & Kurnia yang terhasut untuk berpetualang bersama. Disepakati waktu itu meeting point di Mataram, karena tiket mereka langsung ke Mataram.


Hari Kamis, 27 Mei 2010 sekitar jam 14.00 saya sampai di Pelabuhan Lembar, Lombok. Beberapa saat kemudian Mbak Ririn & Kurnia muncul dengan diantar oleh Iin, seorang teman saya di Mataram. Dari sana kami meneruskan perjalanan menuju Terminal Bis Mandalika. Terminal ini benar-benar crowded, dari awal masuk terminal para calo sudah mengikuti kendaraan yang kami naiki, sampai akhirnya parkir dan keluar dari mobil mereka para calo & porter yang berjumlah lebih dari lima orang ini sibuk menarik tas-tas kami sementara yang lain menawarkan tiket menuju Bima. Akhirnya kami pasrah barang-barang dibawa oleh mereka. Setelah tawar-menawar dengan calo bis, akhirnya disepakatilah harga Mataram - Bima Rp 130.000,- per orang. Sebelum berangkat kami cipika-cipiki dengan Iin, teman yang menjemput dan mengantar kami. Jam 16.00 bis merayap meninggalkan Mandalika. Bis Mataram - Bima yang kami tumpangi ini melaju dengan kencang & ngepot habis sepertinya bis terasa melayang di udara. Hari menjelang senja ketika kami sampai di Labuhan Lombok (Kayangan), penumpang diminta turun dari bis karena bis akan masuk ke ferry yang akan menyeberangi Selat Alas menuju Sumbawa. Penyeberangan Labuhan Lombok (Kayangan) menuju Poto Tano (Sumbawa) memakan waktu sekitar 1-1,5 jam.  


Setelah kurang lebih 10 jam perjalanan, sampailah kami di Terminal Bima sekitar jam 04.00. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Sape menggunakan bis mikro (bis kecil berpintu dua) dengan tarif Rp 20.000,- per orang. Sekitar dua jam perjalanan, akhirnya sampai juga di Pelabuhan Sape (Indonesia Ferry ASDP, Kantor Cabang Sape, Jl. Yos Sudarso Pelabuhan Sape-Bima 84182 telp 0374-71075). Pelabuhan ini lumayan besar, banyak truk-truk berdatangan & parkir di sekitar pelabuhan. Setelah istirahat sejenak sambil clingak-clinguk mencari loket yang ternyata tidak jauh dari tempat kami duduk, kami mengantri tiket kapal penyeberangan ke Labuan Bajo. Harga tiketnya Rp 40.000,- per orang. Pelabuhan ini selain menyediakan jasa penyeberangan ke Labuan Bajo (Flores) juga melayani penyeberangan ke Sumba. Setelah membeli bekal makanan berupa nasi bungkus & minuman kami segera menuju kapal ferry KMP Cengkih Afo, di sebelahnya KMP Cakalang juga sedang bersandar entah kapan lepas jangkar menuju Sumba. Jam 08.00 KMP Cengkih Afo lepas jangkar menuju Labuan Bajo. Cuaca pagi itu cerah dan terang sehingga saat melewati Selat Sape pemandangan bukit-bukit hijau & coklat di sepanjang selat itu yang berlatar langit biru cerah & laut biru, terlihat begitu memukau dan menawan.


Setelah delapan jam akhirnya kapal bersandar di Labuan Bajo, ibukota Kab. Manggarai Barat, Flores Barat. Kami disambut dengan pemandangan berbukit yang dihiasi kapal beraneka rupa & yacht. Benar-benar landscape yang cantik. Kota Labuan Bajo sendiri merupakan kota dengan kontur daratan yang berbukit-bukit dan merupakan pintu masuk ke Taman Nasional Komodo.

Pelabuhan Labuan Bajo. Foto oleh Fitri Hawa N


Dermaga Labuan Bajo. Foto oleh Fitri Hawa N.


Masih di Labuan Bajo. Foto oleh Fitri Hawa N.


Turun dari kapal kami berjalan menuju Bank NTT atas saran teman untuk mencari penginapan. Setelah mencari  dan mencari, kami belum juga menemukan penginapan yang cocok. Teman lain menyarankan untuk menghubungi  Mbak Maryam, dan akhirnya  kami menginap di Penginapan 32, tempat kakaknya karena di tempat beliau sudah penuh. Sore itu kami menyempatkan berkeliling disekitar pelabuhan sebentar dan kembali ke penginapan saat Maghrib. Tepat jam 19.00 kami janjian makan malam dengan Mbak Maryam di tepi pelabuhan. Maknyuss enaknya makan ikan bakar yang segar dan sambal yang pedas. Tidak begitu mahal, hanya sekitar Rp 18 ribuan per orang. Setelah selesai makan malam kami berangkat menuju rumah Bapak Dahri (0812-37974000); pemilik kapal yang hendak kami sewa. Setelah bernegosiasi disepakatilah Rp 1,1 juta untuk mengantarkan kami sampai ke Loh Liang (Pulau Komodo) dengan rute Loh Liang, Pink Beach & Loh Buaya. Kami berangkat sekitar jam 07.00 karena Loh Liang cukup jauh, memakan waktu sampai empat jam-an dengan catatan arus laut sedang bersahabat.

 

BERTEMU SANG DRAGON

Keesokan harinya, sekitar jam 08.00 kapalpun lepas sauh, setelah terlebih dahulu mencari perbekalan untuk perjalanan menuju Loh Liang (Pulau Komodo). Di perjalanan Pak Dahri menawarkan untuk menginap di kapal dengan tambahan Rp 200 ribu dari harga yang disepakati. Jadi total Rp 1,3 juta dengan fasilitas menginap, sudah disediakan matras & selimut, makan siang dua kali, sarapan & disediakan coffee break beserta cemilan. Akhirnya kami sepakat untuk menginap di kapal, dengan rute Loh Liang, Pink Beach, Loh Buaya (sandar & menginap) & Pulau Bidadari. Sepanjang perjalanan kami menikmati teh dan cemilan sambil disuguhi pemandangan bukit-bukit khas Flores yang hijau menyejukkan mata kontras dengan lautnya yang biru ditambah angin semilir. Aahh.....Nikmatnya...Apalagi yang akan didustakan... Apalagi kapal kayu atau bahasa kerennya LOB (live on board) ini sebenarnya bisa memuat sampai dengan 10 orang.

Untuk menuju Loh Liang kita terlebih dahulu melewati Pink Beach. Tepat sebelum pantai ini terdapat pertemuan arus yang lumayan deras, tetapi jangan terlalu khawatir karena para nakhoda disini telah terbiasa melewati arus ini. Sekitar jam 12 siang sampailah kami di Loh Liang. Setelah melakukan registrasi masuk Taman Nasional Komodo (yang termasuk wilayah Manggarai Barat, Flores Barat) sebesar Rp 75 ribu, ditambah dengan biaya retribusi, dll, total jadinya sekitar Rp 87 ribu. Sepertinya ini taman nasional termahal yang pernah saya datangi tetapi terbayar lunas setelah melihat pesona alam & Komodo Sang Dragon (Varanus Komodoensis)  tentunya. Perjalanan kami kemudian dilanjutkan dengan short trek sekitar satu jam. Disini terdapat pilihan short trek, medium trek, long trek & adventure trek.

Komodo lebih suka tempat yang panas dan kering dan biasanya tinggal di padang rumput kering terbuka, savana dan hutan tropis pada ketinggian rendah. Mereka mampu berlari cepat sampai 20 kilometer per jam (12.4 mph), menyelam sampai dengan 4,5 meter (15 kaki) dan mahir memanjat pohon ketika masih muda menggunakan cakar mereka yang kuat. Komodo termasuk jenis hewan carnivora, meskipun mereka kebanyakan memakan bangkai hewan. Mereka menggunakan penciumannya untuk menemukan hewan mati atau sekarat sampai jarak 9.5 km dan mereka juga dapat merobohkan babi besar dan rusa dengan menggunakan ekornya yang kuat. (sumber: wikipedia)

Bersama ranger dari taman nasional yang membawa tongkat kayu dengan ujung bercabang dua kamipun memulai trekking. Rute berawal dari samping kantor taman nasional menuju arah belakang hutan yang tidak begitu lebat. Disitu terdapat semacam kolam atau tepatnya kubangan, yang menurut ranger dibuat dan digunakan untuk memanggil Komodo apabila kapal cruise dan sejenisnya bersandar. Area tersebut digunakan untuk memancing Komodo datang dengan umpan berupa bangkai sapi, rusa dll, karena walaupun di Loh Liang habitat komodo terbesar ada di sini, tetapi karena luas tanah & hutannya masih banyak akibatnya Komodo jarang terlihat sehingga dibutuhkan pancingan tersebut, padahal menurut ranger pancingan tersebut, apabila sering dilakukan akan membuat Komodo enggan mencari makan sendiri. Selanjutnya kami menaiki bukit gersang dan terlihat ada Komodo sedang berteduh menikmati semilir angin dengan mata awas nya. Inikah Komodo Sang Dragon si binatang purba itu? Hmm..Sepertinya sedang tidak ingin diganggu dan akhirnya kami melipir melanjutkan perjalanan.  

Komodo Sang Dragon. Foto oleh Fitri Hawa N.

 

 

Beberapa meter setelahnya terlihat dermaga Pulau Komodo dari atas bukit yang begitu eksotis.

Dermaga Loh Liang (Pulau Komodo). Foto oleh Fitri Hawa N.


Trek di Pulau Komodo ini agak sedikit rindang karena banyak pohon walaupun panas tak terelakkan juga. Setelah berjalan beberapa lama tak satupun Komodo terlihat kecuali yang lagi ngadem tadi. Setelah beberapa waktu sampailah kami di penghujung trek, disini terdapat suatu bangunan semacam guest house yang terlihat memiliki 6 pintu, kemudian restaurant yang tampaknya masih tutup atau memang sepi entahlah, Rusa yang sedang bersantai & ada beberapa rumah panggung yang kemungkinan adalah tempat tinggal para jagawana atau pegawai dari taman nasional. Wow, di sekitar rumah panggung ini ada beberapa Komodo sedang bersantai mulai dari yang berukuran kecil hingga besar. Komodo menyukai aroma makanan terutama yang berbahan ikan, daging dan sejenisnya karena itu mereka suka berkumpul di bawah rumah panggung yang kemungkinan besar ada dapurnya.

Di akhir trek ada semacam tempat jualan souvenir mulai dari kaos sampai hasil kerajinan tangan. Tidak ada paksaan untuk membeli tetapi sebaiknya membawa buah tangan buat orang di rumah. Ups, tak terasa ternyata nyaris jam 14.00, kamipun segera balik ke kapal & melanjutkan perjalanan ke Pink Beach.

 

PINK SAND

Pink Beach atau Pantai Merah sebenarnya masih satu rangkaian dengan Loh Liang (Pulau Komodo) tetapi di sisi yang berbeda, kurang lebih 30 menit kita sudah bisa sampai di tempat ini. Tidak sabar rasanya ingin menginjakkan kaki di pasir-pasirnya. Untuk menuju pantainya kami harus berenang dulu karena kapal tidak bisa merapat karena pantainya landai dan tidak ada dermaga serta tidak ada kapal kecil untuk merapat ke pantainya. Bulan Mei sepertinya bukan bulan yang ramai bagi kunjungan turis terutama domestik. Saat saya dan Kurnia akhirnya memberanikan diri berenang sekalian snorkling & kemudian mendarat dengan sukses di Pink Beach kami hanya bertemu satu orang turis dari Amerika. Serasa pantai milik sendiri. Uhuhuy,, Penasaran dengan warna pink-nya, ternyata warna ini sepertinya terbentuk karena pasir putih bercampur dengan semacam pecahan koral (karang) berwarna Merah atau semacamnya sehingga dari kejauhan warnanya menjadi pink. Snorkling disini lumayan bagus dengan terumbu & ikan warna-warni tetapi cukup berarus. Walaupun kami belum puas, waktu tampaknya tak mau berkompromi. Hari sudah menjelang sore saat kami balik ke kapal & menuju Loh Buaya.

Pink Beach. Foto oleh Fitri Hawa N.


LIVE ON BOARD; SERUU..!

Setelah dua jam perjalanan, tibalah kami di suatu teluk yang merupakan dermaga Loh Buaya, kapal bersandar & kamipun bergantian membilas dengan air bersih. Oya, di kapal yang kami tumpangi ada toilet kecil di bagian ujung belakangnya & sebuah drum berisi air bersih. Di sisi lain ada dapur kecil tempat memasak. Senja hari kami nikmati di dermaga Loh Buaya yang dikelilingi bebukitan hijau & laut tenang. Sesekali bunyi air memecah dinding kapal. Sesuatu banget deh... Malam itu hanya ada satu kapal kecil pembawa material bangunan yang juga bersandar untuk menginap. Ngeri juga sebenarnya kalau-kalau ada Komodo yang berkunjung. Hmm.. Tapi menurut informasi walaupun Komodo bisa melihat hingga sejauh 300 meter, namun karena retinanya hanya memiliki sel kerucut hewan ini agaknya tak begitu baik melihat di kegelapan malam (sumber: wikipedia). Ini berarti cukup aman karena komodo tidak akan berkeliaran kalau malam. Walaupun gak yakin banget & masih sedikit was-was juga.

Dermaga Loh Buaya (Pulau Rinca). Foto oleh Fitri Hawa N.


Loh Buaya (Pulau Rinca). Foto oleh Fitri Hawa N.


Setelah makan malam, kapalpun disulap jadi tempat nge-camp, matras digelar dilapisi selimut garis-garis merah, kapal ditutup dengan tirai-tirai dari terpal plastik yang ternyata sudah ada sebelumnya, hanya saja digulung ke atas jadi tidak terlihat saat siang hari. Senja berganti malam & bintang-bintang bertaburan di langit, bulan sabit menampakkan diri dari balik awan. Menikmati malam bertabur bintang di atas laut Flores sepertinya sayang untuk dilewatkan...Namun akhirnya kami terlelap juga...

Saat pagi menjelang, saat membuka tenda eh tirai, terasa segarnya udara pagi yang jauh dari polusi, sambil termangu di buritan kapal memandang teluk yang tenang, menanti mentari bersinar. Satu kata yang tepat buat menggambarkannya; damai rasanya.....Setelah sarapan kami bersiap memasuki gerbang Loh Buaya. Pak Dahri sang nakhoda sudah siap dengan tongkat kayu berujung dua (seperti huruf Y) untuk mengantar kami sampai ke dalam.

 

NARSIS DENGAN KOMODO SANG DRAGON

Gerbang Loh Buaya tertutup bukit di belakangnya sehingga kami tidak bisa melihat langsung dataran pulaunya. Setelah belok ke arah kanan & kiri mengitari bukit kecil sampailah di dataran luas & gersang Loh Buaya. Tampak di kejauhan bangunan taman nasional. Ups, sebelum sampai di kantor taman nasional ada Komodo yang sedang leyeh-leyeh, tapi sepertinya dia hanya melirik kami saja. Saat masuk ke area bangunan yang tampaknya sedang direnovasi kami bertemu dengan petugas taman nasional. Karena kami sudah membeli tiket di Loh Liang maka petugas hanya memeriksa  tiket dan menyiapkan seorang ranger untuk mengantarkan kami trekking keliling pulau. Masuk lagi ke arah dalam terdapat kumpulan tengkorak binatang-binatang yang telah disantap Komodo. Ada Sapi, Banteng, Rusa, dll. Ada juga guest house disini, siapa yang berani ya menginap disini?? Di kejauhan terdapat rumah-rumah panggung tempat tinggal jagawana. Nah, disini Komodo lebih banyak terlihat, ada sekitar delapan Komodo sedang berkumpul di area rumah panggung, selain karena pulaunya lebih kecil dari Loh Liang disini savananya lebih luas. Saatnya narsis bareng Komodo Sang Dragon walaupun sambil dag-dig-dug & ngelirik-lirik si dragon. Takut kalau dia mendekati, sambil meminta si bapak ranger agar jangan jauh-jauh dan yang memotret segera menjepret. Loh Buaya (Pulau Rinca) merupakan pulau yang menurut saya merupakan tempatnya untuk bernarsis bersama Komodo Sang Dragon, karena selain lebih banyak jumlahnya yang sedang berkumpul, lokasinya lebih lapang sehingga terlihat dengan jelas.  

Komodo Sang Dragon. Foto oleh Fitri Hawa N.


Trek kali ini pun kami mengambil short trek. Dari arah belakang kantor menuju bukit tandus ada satu pohon yang tegak berdiri sedangkan lainnya berupa rumput. Sampai di puncak bukit kami berbelok ke kiri menuruni bukit. Di sepanjang jalur trek kita harus waspada karena banyak ‘ranjau’ (kotoran sapi) yang masih setengah kering. Masuk ke area yang banyak pohon & rimbun, ranger menunjukkan dua bekas galian lubang. Dia menjelaskan di salah satu dari lubang itu terdapat telur-telur Komodo. Lantas satunya lagi? Satunya lagi ternyata sebagai tipuan!

Musim kawin Komodo terjadi antara bulan Mei dan Agustus, dengan musim bertelur pada bulan September (Seekor komodo bisa bertelur 15-30 butir telur). Selama periode ini, jantan berebut betina dan wilayah dengan bergulat satu sama lain menggunakan kaki belakang mereka dengan pecundang yang dirobohkan ke tanah (sumber: wikipedia). Setelah telur menetas biasanya anak-anak Komodo ini akan naik di batang pohon paling atas untuk menghindari dimangsa oleh Komodo dewasa atau hewan lain. Oya, ranger menjelaskan kalau musim kawin Komodo akan lebih jarang menampakkan diri dibanding musim lainnya karena si betina akan bersembunyi sementara si jantan menunggu sampai si betina keluar. Meskipun kami datang saat musim kawin, kami beruntung bisa bertemu dengan Komodo-Komodo tersebut.

Jalur trek terakhir yang kami tempuh agak rimbun & sudah terlihat rumah-rumah panggung. Ternyata banyak Komodo yang dari jauh terlihat berjalan-jalan. Disini Komodo memang terlihat lebih banyak. Ranger sempat bercerita kepada kami bahwa pada waktu shooting salah satu minuman berenergi beberapa bulan lalu yang diperankan oleh beberapa artis ibukota, nyaris semua kru jagawana menonton, sehingga lupa mengunci pintu dapur (belakang). Nah pada saat asyik menonton ternyata ada satu Komodo berhasil masuk ke dapur & sukses mengobrak-abrik dapur. Habislah isi dapur berantakan.... O_o .

Savana Loh Buaya. Foto oleh Fitri Hawa N.


Bukit-bukit di Loh Buaya. Foto oleh Fitri Hawa N.


 

ANGEL OH ANGEL....

Selesai trekking, kami kembali ke kapal menuju ke Pulau Bidadari. Di perjalanan kami banyak bertemu dengan turis asing & hanya beberapa turis domestik. Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya bukit-bukit savana yang eksotis menyejukkan mata. Ditemani angin semilir, secangkir kopi & sepiring pisang goreng hangat menu coffee break, kapal melaju menuju pulau tujuan.

Pulau Bidadari. Foto oleh Fitri Hawa N.


Sampai di Pulau Bidadari, terlihat pantainya tidak sebersih pantai yang kami kunjungi sebelumnya. Dari sini Labuan Bajo hanya selemparan pandang. Menurut info kru kapal sisi pulau satunya dikelola oleh bule & dibuat resort, makanya sampah-sampah dibuang ke arah belakang, biasanya kalau ada satpamnya malah tidak diperbolehkan bersandar. Cerita klasik seperti di Pulau Seribu saja. Kami snorkling hanya sebentar saja karena spotnya terasa kurang oke. Terumbunya & ikannya sedikit. Selain itu keseringan menabrak sampah plastik & dedaunan serta ranting pohon. Ah.. tak terasa ternyata waktu sudah mendekati jam 12 siang, kami harus segera kembali ke Labuan Bajo. Another day ended perfectly...Masih belum puas rasanya, tapi suatu pengalaman tersendiri bisa bertemu Komodo Sang Dragon; binatang purba, di habitat aslinya. Binatang yang sempat menjadi kontroversi dalam pemilihan New 7 Wonders of Nature. “Someday i’ll be back...”, satu kalimat  muncul saat kapal merapat kembali di dermaga Labuan Bajo .


viewindonesia.com....Berbagi Informasi Travel & Fotografi... Sekecil & Sesederhana Apapun Itu...

 

Kontributor: Fitri Hawa Nurhayati

Nama panggilan kecilnya Vita. Pemilik akun facebook dan email: This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. ini sehari-hari bekerja sebagai Internal Auditor di sebuah perusahaan swasta. Pekerjaannya tersebut memberikan kesempatan baginya untuk mengenal kota-kota di berbagai propinsi di tanah air. Hobby-nya ber-traveling dimulai sejak tujuh tahun lalu setelah bergabung dengan milis Indobackpacker. Indonesia Timur adalah salah satu destinasi favoritnya. Selain tempat tinggi dan dingin, dunia bawah laut juga menarik minatnya. Salah satu pengalaman paling seru dan berkesan baginya adalah saat mencoba underwater di Wakatobi dan saat itu segerombolon Ikan Baracuda melintas di atas kepalanya. Penikmat alam sekaligus kuliner ini terobsesi mencicipi kopi dari seluruh nusantara. Traveling membuat dia lebih mengenal berbagai warna kehidupan dan membuatnya semakin merasa kecil dihadapan-Nya.


Link artikel lainnya:

1. Serunya Menyusuri Pulau Weh dengan Sepeda Motor

2. Bromo: Gunung yang Tak Pernah "Tidur"

3. Pesona Pagi, Senja dan Malam di Merbabu

4. Keindahan 4 Gili

5. Pancaran Cahaya Goa Grubug


Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE

Perjalanan menuju negeri sang dragon ini bermodalkan awal tiket (promo Air Asia Bandung – Denpasar pulang pergi  tanggal 26 Mei 2010 dan 2 Juni 2010 seharga Rp 228.000,- dan tiket Merpati Airlines rute Maumere – Denpasar tanggal 2 Juni 2010 seharga Rp 628.000,-), itinerary & tentunya rasa penasaran akan keunikan timur Indonesia. Perjalanan ini saya lakoni bersama dengan beberapa rekan saya; Mbak Ririn & Kurnia yang terhasut untuk berpetualang bersama. Disepakati waktu itu meeting point di Mataram, karena tiket mereka langsung ke Mataram.

Hari Kamis, 27 Mei 2010 sekitar jam 14.00 saya sampai di Pelabuhan Lembar, Lombok. Beberapa saat kemudian Mbak Ririn & Kurnia muncul dengan diantar oleh Iin, seorang teman saya di Mataram. Dari sana kami meneruskan perjalanan menuju Terminal Bis Mandalika. Terminal ini benar-benar crowded, dari awal masuk terminal para calo sudah mengikuti kendaraan yang kami naiki, sampai akhirnya parkir dan keluar dari mobil mereka para calo & porter yang berjumlah lebih dari lima orang ini sibuk menarik tas-tas kami sementara yang lain menawarkan tiket menuju Bima. Akhirnya kami pasrah barang-barang dibawa oleh mereka. Setelah tawar-menawar dengan calo bis, akhirnya disepakatilah harga Mataram - Bima Rp 130.000,- per orang. Sebelum berangkat kami cipika-cipiki dengan Iin, teman yang menjemput dan mengantar kami. Jam 16.00 bis merayap meninggalkan Mandalika. Bis Mataram - Bima yang kami tumpangi ini melaju dengan kencang & ngepot habis sepertinya bis terasa melayang di udara. Hari menjelang senja ketika kami sampai di Labuhan Lombok (Kayangan), penumpang diminta turun dari bis karena bis akan masuk ke ferry yang akan menyeberangi Selat Alas menuju Sumbawa. Penyeberangan Labuhan Lombok (Kayangan) menuju Poto Tano (Sumbawa) memakan waktu sekitar 1-1,5 jam.  

Setelah kurang lebih 10 jam perjalanan, sampailah kami di Terminal Bima sekitar jam 04.00. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Sape menggunakan bis mikro (bis kecil berpintu dua) dengan tarif Rp 20.000,- per orang. Sekitar dua jam perjalanan, akhirnya sampai juga di Pelabuhan Sape (Indonesia Ferry ASDP, Kantor Cabang Sape, Jl. Yos Sudarso Pelabuhan Sape-Bima 84182 telp 0374-71075). Pelabuhan ini lumayan besar, banyak truk-truk berdatangan & parkir di sekitar pelabuhan. Setelah istirahat sejenak sambil clingak-clinguk mencari loket yang ternyata tidak jauh dari tempat kami duduk, kami mengantri tiket kapal penyeberangan ke Labuan Bajo. Harga tiketnya Rp 40.000,- per orang. Pelabuhan ini selain menyediakan jasa penyeberangan ke Labuan Bajo (Flores) juga melayani penyeberangan ke Sumba. Setelah membeli bekal makanan berupa nasi bungkus & minuman kami segera menuju kapal ferry KMP Cengkih Afo, di sebelahnya KMP Cakalang juga sedang bersandar entah kapan lepas jangkar menuju Sumba. Jam 08.00 KMP Cengkih Afo lepas jangkar menuju Labuan Bajo. Cuaca pagi itu cerah dan terang sehingga saat melewati Selat Sape pemandangan bukit-bukit hijau & coklat di sepanjang selat itu yang berlatar langit biru cerah & laut biru, terlihat begitu memukau dan menawan.

Setelah delapan jam akhirnya kapal bersandar di Labuan Bajo, ibukota Kab. Manggarai Barat, Flores Barat. Kami disambut dengan pemandangan berbukit yang dihiasi kapal beraneka rupa & yacht. Benar-benar landscape yang cantik. Kota Labuan Bajo sendiri merupakan kota dengan kontur daratan yang berbukit-bukit dan merupakan pintu masuk ke Taman Nasional Komodo. Turun dari kapal kami berjalan menuju Bank NTT atas saran teman untuk mencari penginapan. Setelah mencari  dan mencari, kami belum juga menemukan penginapan yang cocok. Teman lain menyarankan untuk menghubungi  Mbak Maryam, dan akhirnya  kami menginap di Penginapan 32, tempat kakaknya karena di tempat beliau sudah penuh. Sore itu kami menyempatkan berkeliling disekitar pelabuhan sebentar dan kembali ke penginapan saat Maghrib. Tepat jam 19.00 kami janjian makan malam dengan Mbak Maryam di tepi pelabuhan. Maknyuss enaknya makan ikan bakar yang segar dan sambal yang pedas. Tidak begitu mahal, hanya sekitar Rp 18 ribuan per orang. Setelah selesai makan malam kami berangkat menuju rumah Bapak Dahri (0812-37974000); pemilik kapal yang hendak kami sewa. Setelah bernegosiasi disepakatilah Rp 1,1 juta untuk mengantarkan kami sampai ke Loh Liang (Pulau Komodo) dengan rute Loh Liang, Pink Beach & Loh Buaya. Kami berangkat sekitar jam 07.00 karena Loh Liang cukup jauh, memakan waktu sampai empat jam-an dengan catatan arus laut sedang bersahabat.

 

BERTEMU SANG DRAGON

Keesokan harinya, sekitar jam 08.00 kapalpun lepas sauh, setelah terlebih dahulu mencari perbekalan untuk perjalanan menuju Loh Liang (Pulau Komodo). Di perjalanan Pak Dahri menawarkan untuk menginap di kapal dengan tambahan Rp 200 ribu dari harga yang disepakati. Jadi total Rp 1,3 juta dengan fasilitas menginap, sudah disediakan matras & selimut, makan siang dua kali, sarapan & disediakan coffee break beserta cemilan. Akhirnya kami sepakat untuk menginap di kapal, dengan rute Loh Liang, Pink Beach, Loh Buaya (sandar & menginap) & Pulau Bidadari. Sepanjang perjalanan kami menikmati teh dan cemilan sambil disuguhi pemandangan bukit-bukit khas Flores yang hijau menyejukkan mata kontras dengan lautnya yang biru ditambah angin semilir. Aahh.....Nikmatnya...Apalagi yang akan didustakan... Apalagi kapal kayu atau bahasa kerennya LOB (live on board) ini sebenarnya bisa memuat sampai dengan 10 orang.

Untuk menuju Loh Liang kita terlebih dahulu melewati Pink Beach. Tepat sebelum pantai ini terdapat pertemuan arus yang lumayan deras, tetapi jangan terlalu khawatir karena para nakhoda disini telah terbiasa melewati arus ini. Sekitar jam 12 siang sampailah kami di Loh Liang. Setelah melakukan registrasi masuk Taman Nasional Komodo (yang termasuk wilayah Manggarai Barat, Flores Barat) sebesar Rp 75 ribu, ditambah dengan biaya retribusi, dll, total jadinya sekitar Rp 87 ribu. Sepertinya ini taman nasional termahal yang pernah saya datangi tetapi terbayar lunas setelah melihat pesona alam & Komodo Sang Dragon (Varanus Komodoensis)  tentunya. Perjalanan kami kemudian dilanjutkan dengan short trek sekitar satu jam. Disini terdapat pilihan short trek, medium trek, long trek & adventure trek.

Komodo lebih suka tempat yang panas dan kering dan biasanya tinggal di padang rumput kering terbuka, savana dan hutan tropis pada ketinggian rendah. Mereka mampu berlari cepat sampai 20 kilometer per jam (12.4 mph), menyelam sampai dengan 4,5 meter (15 kaki) dan mahir memanjat pohon ketika masih muda menggunakan cakar mereka yang kuat. Komodo termasuk jenis hewan carnivora, meskipun mereka kebanyakan memakan bangkai hewan. Mereka menggunakan penciumannya untuk menemukan hewan mati atau sekarat sampai jarak 9.5 km dan mereka juga dapat merobohkan babi besar dan rusa dengan menggunakan ekornya yang kuat. (sumber: wikipedia)

Bersama ranger dari taman nasional yang membawa tongkat kayu dengan ujung bercabang dua kamipun memulai trekking. Rute berawal dari samping kantor taman nasional menuju arah belakang hutan yang tidak begitu lebat. Disitu terdapat semacam kolam tepatnya kubangan, yang menurut ranger digunakan untuk memanggil Komodo. Area tersebut digunakan untuk memancing Komodo datang dengan umpan berupa bangkai sapi, rusa dll, karena walaupun di Loh Liang habitat komodo terbesar ada di sini, tetapi karena luas tanah & hutannya masih banyak akibatnya Komodo jarang terlihat sehingga dibutuhkan pancingan tersebut, padahal menurut ranger pancingan tersebut, apabila sering dilakukan akan membuat Komodo enggan mencari makan sendiri. Selanjutnya kami menaiki bukit gersang dan terlihat ada Komodo sedang berteduh menikmati semilir angin dengan mata awas nya. Inikah Komodo Sang Dragon si binatang purba itu? Hmm..Sepertinya sedang tidak ingin diganggu dan akhirnya kami melipir melanjutkan perjalanan.  Beberapa meter setelahnya terlihat dermaga Pulau Komodo dari atas bukit yang begitu eksotis. Trek di Pulau Komodo ini agak sedikit rindang karena banyak pohon walaupun panas tak terelakkan juga. Setelah berjalan beberapa lama tak satupun Komodo terlihat kecuali yang lagi ngadem tadi. Setelah beberapa waktu sampailah kami di penghujung trek, disini terdapat suatu bangunan semacam guest house yang terlihat memiliki 6 pintu, kemudian restaurant yang tampaknya masih tutup atau memang sepi entahlah, Rusa yang sedang bersantai & ada beberapa rumah panggung yang kemungkinan adalah tempat tinggal para jagawana atau pegawai dari taman nasional. Wow, di sekitar rumah panggung ini ada beberapa Komodo sedang bersantai mulai dari yang berukuran kecil hingga besar. Komodo menyukai aroma makanan terutama yang berbahan ikan, daging dan sejenisnya karena itu mereka suka berkumpul di bawah rumah panggung yang kemungkinan besar ada dapurnya.

Di akhir trek ada semacam tempat jualan souvenir mulai dari kaos sampai hasil kerajinan tangan. Tidak ada paksaan untuk membeli tetapi sebaiknya membawa buah tangan buat orang di rumah. Ups, tak terasa ternyata nyaris jam 14.00, kamipun segera balik ke kapal & melanjutkan perjalanan ke Pink Beach.

 

PINK SAND

Pink Beach atau Pantai Merah sebenarnya masih satu rangkaian dengan Pulau Komodo tetapi di sisi yang berbeda, kurang lebih 30 menit kita sudah bisa sampai di tempat ini. Gak sabar rasanya ingin menginjakkan kaki di pasir-pasirnya. Untuk menuju pantainya kami harus berenang dulu karena kapal tidak bisa merapat karena pantainya landai dan tidak ada dermaga serta tidak ada kapal kecil untuk merapat ke pantainya. Bulan Mei sepertinya bukan bulan yang ramai bagi kunjungan turis terutama domestik. Saat saya dan Kurnia akhirnya memberanikan diri berenang sekalian snorkling & kemudian mendarat dengan sukses di Pink Beach kami hanya bertemu satu orang turis dari Amerika. Serasa pantai milik sendiri. Uhuhuy,, Penasaran dengan warna pink-nya, ternyata warna ini sepertinya terbentuk karena pasir putih bercampur dengan semacam pecahan koral (karang) berwarna Merah atau semacamnya sehingga dari kejauhan warnanya menjadi pink. Snorkling disini lumayan bagus dengan terumbu & ikan warna-warni tetapi cukup berarus. Walaupun kami belum puas, waktu tampaknya tak mau berkompromi. Hari sudah menjelang sore saat kami balik ke kapal & menuju Loh Buaya.

 

LIVE ON BOARD; SERUU..!

Setelah dua jam perjalanan, tibalah kami di suatu teluk yang merupakan dermaga Loh Buaya, kapal bersandar & kamipun bergantian membilas dengan air bersih. Oya, di kapal yang kami tumpangi ada toilet kecil di bagian ujung belakangnya & sebuah drum berisi air bersih. Di sisi lain ada dapur kecil tempat memasak. Senja hari kami nikmati di dermaga Loh Buaya yang dikelilingi bebukitan hijau & laut tenang. Sesekali bunyi air memecah dinding kapal. Sesuatu banget deh... J. Malam itu hanya ada satu kapal kecil pembawa material bangunan yang juga bersandar untuk menginap. Ngeri juga sebenarnya kalau-kalau ada Komodo yang berkunjung. Hmm.. Tapi menurut informasi walaupun Komodo bisa melihat hingga sejauh 300 meter, namun karena retinanya hanya memiliki sel kerucut hewan ini agaknya tak begitu baik melihat di kegelapan malam (sumber: wikipedia). Ini berarti cukup aman karena komodo tidak akan berkeliaran kalau malam. Walaupun gak yakin banget & masih sedikit was-was juga.

Setelah makan malam, kapalpun disulap jadi tempat nge-camp, matras digelar dilapisi selimut garis-garis merah, kapal ditutup dengan tirai-tirai dari terpal plastik yang ternyata sudah ada sebelumnya, hanya saja digulung ke atas jadi tidak terlihat saat siang hari. Senja berganti malam & bintang-bintang bertaburan di langit, bulan sabit menampakkan diri dari balik awan. Menikmati malam bertabur bintang di atas laut Flores sepertinya sayang untuk dilewatkan...Namun akhirnya kami terlelap juga...

Saat pagi menjelang, membuka tenda eh tirai, terasa segarnya udara pagi yang jauh dari polusi, sambil termangu di buritan kapal memandang teluk yang tenang, menanti mentari bersinar. Satu kata yang tepat buat menggambarkannya; damai rasanya.....Setelah sarapan kami bersiap memasuki gerbang Loh Buaya. Pak Dahri sang nakhoda sudah siap dengan tongkat kayu berujung dua (seperti huruf Y) untuk mengantar kami sampai ke dalam.

 

NARSIS DENGAN KOMODO SANG DRAGON

Gerbang Loh Buaya tertutup bukit di belakangnya sehingga kami tidak bisa melihat langsung dataran pulaunya. Setelah belok ke arah kanan & kiri mengitari bukit kecil sampailah di dataran luas & gersang Loh Buaya. Tampak di kejauhan bangunan taman nasional. Ups, sebelum sampai di kantor taman nasional ada Komodo yang sedang leyeh-leyeh, tapi sepertinya dia hanya melirik kami saja. Saat masuk ke area bangunan yang tampaknya sedang direnovasi kami bertemu dengan petugas taman nasional. Karena kami sudah membeli tiket di Loh Liang maka petugas hanya memeriksa  tiket dan menyiapkan seorang ranger untuk mengantarkan kami trekking keliling pulau. Masuk lagi ke arah dalam terdapat kumpulan tengkorak binatang-binatang yang telah disantap Komodo. Ada Sapi, Banteng, Rusa, dll. Ada juga guest house disini, siapa yang berani ya menginap disini?? Di kejauhan terdapat rumah-rumah panggung tempat tinggal jagawana. Nah, disini Komodo lebih banyak terlihat, ada sekitar delapan Komodo sedang berkumpul di area rumah panggung, selain karena pulaunya lebih kecil dari Loh Liang disini savananya lebih luas. Saatnya narsis bareng Komodo Sang Dragon walaupun sambil dag-dig-dug & ngelirik-lirik si dragon. Takut kalau dia mendekati, sambil meminta si bapak ranger agar jangan jauh-jauh dan yang memotret segera menjepret. Loh Buaya (Pulau Rinca) merupakan pulau yang menurut saya merupakan tempatnya untuk bernarsis bersama Komodo Sang Dragon, karena selain lebih banyak jumlahnya yang sedang berkumpul, lokasinya lebih lapang sehingga terlihat dengan jelas.  

Trek kali ini pun kami mengambil short trek. Dari arah belakang kantor menuju bukit tandus ada satu pohon yang tegak berdiri sedangkan lainnya berupa rumput. Sampai di puncak bukit kami berbelok ke kiri menuruni bukit. Di sepanjang jalur trek kita harus waspada karena banyak ‘ranjau’ (kotoran sapi) yang masih setengah kering. Masuk ke area yang banyak pohon & rimbun, ranger menunjukkan dua bekas galian lubang. Dia menjelaskan di salah satu dari lubang itu terdapat telur-telur Komodo. Lantas satunya lagi? Satunya lagi ternyata sebagai tipuan!

Musim kawin Komodo terjadi antara bulan Mei dan Agustus, dengan musim bertelur pada bulan September (Seekor komodo bisa bertelur 15-30 butir telur). Selama periode ini, jantan berebut betina dan wilayah dengan bergulat satu sama lain menggunakan kaki belakang mereka dengan pecundang yang dirobohkan ke tanah (sumber: wikipedia). Setelah telur menetas biasanya anak-anak Komodo ini akan naik di batang pohon paling atas untuk menghindari dimangsa oleh Komodo dewasa atau hewan lain. Oya, ranger menjelaskan kalau musim kawin Komodo akan lebih jarang menampakkan diri dibanding musim lainnya karena si betina akan bersembunyi sementara si jantan menunggu sampai si betina keluar. Meskipun kami datang saat musim kawin, kami beruntung bisa bertemu dengan Komodo-Komodo tersebut.

Jalur trek terakhir yang kami tempuh agak rimbun & sudah terlihat rumah-rumah panggung. Ternyata banyak Komodo yang dari jauh terlihat berjalan-jalan. Disini Komodo memang terlihat lebih banyak. Ranger sempat bercerita kepada kami bahwa pada waktu shooting salah satu minuman berenergi beberapa bulan lalu yang diperankan oleh beberapa artis ibukota, nyaris semua kru jagawana menonton, sehingga lupa mengunci pintu dapur (belakang). Nah pada saat asyik menonton ternyata ada satu Komodo berhasil masuk ke dapur & sukses mengobrak-abrik dapur. Habislah isi dapur berantakan.... O_o .

 

ANGEL OH ANGEL....

Selesai trekking, kami kembali ke kapal menuju ke Pulau Bidadari. Di perjalanan banyak bertemu turis asing & hanya beberapa turis domestik. Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya bukit-bukit savana yang eksotis menyejukkan mata. Ditemani angin semilir, secangkir kopi & sepiring pisang goreng hangat menu coffee break, kapal melaju menuju pulau tujuan.

Sampai di Pulau Bidadari, terlihat pantainya tidak sebersih pantai yang kami kunjungi sebelumnya. Dari sini Labuan Bajo hanya selemparan pandang. Menurut info kru kapal sisi pulau satunya dikelola oleh bule & dibuat resort, makanya sampah-sampah dibuang ke arah belakang, biasanya kalau ada satpamnya malah tidak diperbolehkan bersandar. Cerita klasik seperti di Pulau Seribu saja. Kami snorkling hanya sebentar saja karena spotnya terasa kurang oke. Terumbunya & ikannya sedikit. Selain itu keseringan menabrak sampah plastik & rumput serta ranting pohon. Ah.. ternyata waktu sudah mendekati jam 12 siang, kami harus segera kembali ke Labuan Bajo. Another day ended perfectly...

Masih belum puas rasanya, tapi suatu pengalaman tersendiri bisa bertemu Komodo Sang Dragon; binatang purba, di habitat aslinya. Binatang yang sempat menjadi kontroversi dalam pemilihan New 7 Wonders of Nature. “Someday i’ll be back...”, satu kalimat  muncul saat kapal merapat kembali di dermaga Labuan Bajo .

 

 

Kontributor: Fitri Hawa Nurhayati

 

Nama panggilan kecilnya Vita. Pemilik akun facebook dan email: This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. ini sehari-hari bekerja sebagai Internal Auditor di sebuah perusahaan swasta. Pekerjaannya tersebut memberikan kesempatan baginya untuk mengenal kota-kota di berbagai propinsi di tanah air. Hobby-nya ber-traveling dimulai sejak tujuh tahun lalu setelah bergabung dengan milis Indobackpacker. Indonesia Timur adalah salah satu destinasi favoritnya. Selain tempat tinggi dan dingin, dunia bawah laut juga menarik minatnya. Salah satu pengalaman paling seru dan berkesan baginya adalah saat mencoba underwater di Wakatobi dan saat itu segerombolon Ikan Baracuda melintas di atas kepalanya. Penikmat alam sekaligus kuliner ini terobsesi mencicipi kopi dari seluruh nusantara. Traveling membuat dia lebih mengenal berbagai warna kehidupan dan membuatnya semakin merasa kecil dihadapan-Nya.

Comments   

 
0 #1 uth 2013-11-15 22:31
dulu kami jg ke pulau komodo, ma pulau rinca pas musim kawin, alhasil pas trekking kami-nya malah yg ngejar komodo, komodonya yg lari cepet bgt, tau mau di foto kayaknya :lol:
Quote
 
 
0 #2 NIko 2014-01-06 15:09
@uth: he..he..he...te rimakasih sudah berkunjung Mas/Mbak.... :-)
Quote
 
 
0 #3 Trihakni Putra 2014-12-16 19:06
Mantap banget travelingnya!! biasa naik gunung jadi berasa beda pas baca ini artikel. :lol:
Quote
 
 
0 #4 Niko 2014-12-16 21:57
Terimakasih Mas Trikhani...
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh