Dari Pasar Bubrah Menuju Puncak Merapi

Tidak ada pohon, gersang, berbatu dan berpasir…Begitulah gambaran kondisi jalur pendakian mulai dari Pasar Bubrah menuju Puncak Merapi.

Bersama salah seorang teman yang sedang menuju bibir kawah Merapi (Foto oleh Niko TujuhLangit)

 

Batu-batu berukuran besar hingga kecil bertebaran dimana-mana. Letusan Merapi pada tahun 2010 silam telah banyak merubah jalur pendakian dan  kondisi di Gunung Merapi.  Pasar Bubrah sendiri adalah sebuah area terbuka persis sebelum menuju puncak Merapi. Areanya luas dan datar, terletak persis sebelum menuju puncak Merapi. Diperlukan waktu sekitar kurang lebih empat jam perjalanan dari basecamp Merapi di Desa Selo menuju Pasar Bubrah. Perlu diketahui bahwa saat ini hanya ada satu jalur pendakian yang dibuka untuk pendakian, yakni melalui Desa Selo. Di Pasar Bubrah inilah pendaki sering mendirikan tenda untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan menggapai Puncak Merapi. Dari Pasar Bubrah menuju puncak diperlukan waktu sekitar satu hingga dua jam tergantung stamina dan kecepatan anda.

 

Bagaimana Rute Menuju Puncak dari Pasar Bubrah?

Ketika memasuki area Pasar Bubrah anda sudah dapat melihat Puncak Merapi dengan jelas.

Pasar Bubrah. Disini biasa dijadikan tempat mendirikan tenda oleh para pendaki. Didepan langsung berhadapan dengan jalur menuju puncak.

(Foto oleh Niko TujuhLangit)

 

Terlihat pada foto di atas jalur menuju puncak yang berbatu dan berpasir dengan kemiringan sekitar 45 – 70 derajat. Selain itu anda dapat melihat bahwa banyak terdapat pilihan jalur yang bisa anda lalui untuk bisa sampai ke puncak. Anda bisa saja memulai dari arah kanan, kiri ataupun dari tengah lereng ini. Semuanya terbuka. Namun anda perlu berhati-hati, salah memilih jalur dan arah bisa membuat anda kesulitan dan menguras banyak energi atau bahkan bisa berakibat fatal terperosok ke jurang.

 

Berdasarkan pendakian yang pernah kami lakukan, ada pendaki yang mengambil jalur kiri, ada yang menjajal trek berpasir (ditengah) dan ada pula yang mengambil jalur di kanan. Lantas mana jalur yang terbaik? Kiri, tengah atau kanan? Dari Pasar Bubrah, disarankan anda langsung memilih jalur yang ke kiri, namun tepat sebelum jurang anda bergerak ke arah atas untuk kemudian menyeberang ke jalur berbatu. Melewati jalur berbatu ini anda akan lebih mudah bertumpu dan memanjat hingga menuju ke bibir kawah. Jika anda menjajal trek berpasir, salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan adalah energi kemungkinan besar akan terkuras. Tidak sedikit pendaki yang menjajal trek berpasir ini akhirnya menyeberang kembali ke jalur kiri ke arah trek berbatu. Jalur sebelah kanan sangat tidak direkomendasikan dan jarang dilalui pendaki selain karena berpasir dan sedikitnya bebatuan yang bisa digunakan untuk bertumpu, pada saat menuju puncak anda akan menghadapi trek yang cukup ekstrim, yang pada akhirnya mungkin akan memaksa anda untuk kembali menyeberang ke jalur sebelah kiri. Jika anda mengambil jalur kiri, maka setelah sampai di trek berbatu, anda relatif tinggal bergerak lurus lalu bergerak agak ke kanan, terus hingga sampai di bibir Kawah. Perhatikan foto-foto berikut untuk lebih jelasnya mengenai jalur menuju puncak.

 

Terlihat rute sebelah kiri yang sering dilalui pendaki (garis yang berwarna merah pada foto di atas). Di kejauhan anda dapat melihat trek berpasir yang dimaksud, yang dilewati oleh garis berwarna biru (Foto oleh Niko TujuhLangit)

 

 

Terlihat para pendaki sedang menuju ke arah jalur kiri lereng dari Pasar Bubrah. (Foto oleh Niko TujuhLangit)

 

 

Para pendaki melipir ke kiri. Di depan adalah trek berpasir yang dimaksud. (Foto oleh Niko TujuhLangit)

 

 

Para pendaki melipir ke kiri dan tidak masuk ke trek berpasir (Foto oleh Niko TujuhLangit)

 

 

Awal masuk di trek berbatu. Terlihat di sebelah kanan saya pendaki yang turun dari puncak melalui trek berpasir. (Foto oleh Niko TujuhLangit)

 

 

Setelah sampai di trek berbatu maka selanjutnya menuju bibir kawah akan didominasi oleh batu-batu disertai pasir. (Foto oleh Niko TujuhLangit)

 

Berhati-hatilah dalam berpegangan atau mengambil tumpuan saat menuju puncak karena banyak batu-batu rapuh dan bisa membuat anda tergelincir atau bahkan salah-salah bisa terjatuh kebawah atau ke jurang. Sebelum berpijak atau berpegangan di batu ada baiknya anda memastikan batu yang anda gunakan untuk berpegang atau berpijak tidak rapuh dengan cara melakukan pijakan/ sentuhan pendahuluan pada batu tersebut sebelum benar-benar bertumpu. Hal lain yang perlu anda perhatikan saat menjajal trek berbatu ini adalah anda harus tetap waspada terhadap kemungkinan jatuhnya batu dari atas. Batu-batu tersebut bisa saja jatuh kebawah karena pijakan pendaki di depan anda. Sebaliknya jika anda membelakangi atau berada di depan pendaki lain, berteriaklah dan beritahukan kepada pendaki di belakang anda jika ada batu yang jatuh ke bawah agar mereka bisa menghindar. Sebisa mungkin bergeraklah secara zig-zag dengan pendaki lain untuk menghindari dan meminimalisir potensi risiko kecelakaan karena tertimpa batu yang jatuh dari atas.

 

Bibir Kawah

Setelah sekitar satu hingga dua jam menjajal trek berbatu dan berpasir tersebut anda akan sampai di bibir kawah Merapi. Bibir kawah ini memanjang sekitar 200-300 meter. Sisi bibir kawah ini memiliki ketinggian yang berbeda-beda pada beberapa titik. Perhatikan foto berikut.

 

Terlihat di kejauhan para pendaki yang sampai di bibir kawah. (Foto oleh Niko TujuhLangit)

 

 

Area dibibir kawah ini cukup sempit. Darisini anda bisa melihat hamparan kawah Merapi yang menawan.


 

 

Puncak Kandang Geni

Pasca letusan Merapi di tahun 2010 lalu, puncak tertinggi Merapi dahulu (Puncak Garuda) tidak jelas dimana keberadaannya. Berdasarkan info salah seorang teman yang saya temui di basecamp, Puncak Garuda sudah tidak ada lagi.  Puncak tertinggi Merapi saat ini disebut dengan Puncak Kandang Geni, yang dalam Bahasa Indonesia berarti Puncak Sarang Api. Puncak ini terlihat dengan jelas dari bibir kawah. Untuk mencapainya, dari bibir kawah kita tinggal bergerak ke arah kanan menyusuri bibir kawah.

 

Luas area puncak ini sangat sempit, hanya bisa memuat sekitar dua hingga empat orang. Tidak banyak pendaki yang meneruskan perjalanan hingga ke Puncak Kandang Geni. Sebagian besarnya hanya sampai di salah satu sisi bibir kawah. Mengapa? Jarak menuju Puncak Kandang Geni memang tidak jauh, hanya sekitar 75-100 meter, namun jalurnya yang tipis dengan jurang di sebelah kanan dan kawah Merapi di sebelah kiri jelas menguji nyali setiap pendaki yang ingin menginjakkan kaki di puncak tertinggi ini. Apalagi jika angin berhembus kencang, tantangan dan risikonya akan semakin besar. Sedikit saja kesalahan bisa berakibat fatal. Jika anda ragu-ragu, sebaiknya jangan meneruskan perjalanan menuju Puncak Kandang Geni ini karena setiap keragu-raguan akan memperbesar potensi bahaya. Hal penting lainnya yang patut diperhatikan adalah kondisi cuaca. Jika cuaca berkabut atau hujan, ada baiknya anda mempertimbangkan kembali keinginan untuk menuju puncak. Kabut dan hujan tentunya akan meningkatkan potensi bahaya yang mungkin timbul saat menjajal trek berbatu dan berpasir ini. Jika anda benar-benar berniat menuju puncak, carilah informasi sebanyak mungkin mengenai gunung ini umumnya dan Puncak Kandang Geni khususnya. Bisa dengan bertanya kepada rekan-rekan anda yang pernah berkunjung kesana, mencari informasi melalui internet serta melihat-lihat berbagai dokumentasi tentang jalur pendakian gunung ini. Selain itu jangan sungkan-sungkan bertanya kepada setiap pendaki yang anda temui di jalan untuk lebih memahami kondisi dan jalur menuju puncak ini.

 

Tepat beberapa meter menjelang area Puncak Kandang Geni, jalur semakin tipis dan terdapat satu titik dengan panjang sekitar 2-3 meter dimana kita harus bertumpu pada pijakan yang panjangnya tidak sampai satu telapak kaki orang dewasa. Disini kita harus benar-benar berhati-hati. Tumpuan dan pegangan sangatlah krusial. Perhatikan foto-foto jalur menuju Puncak Kandang Geni berikut ini.

Jalur/ trek menuju Puncak Kandang Geni. Terlihat di kejauhan para pendaki di bibir kawah. Foto diambil dari jalur dalam perjalanan menuju Puncak Kandang Geni.

(Foto oleh Niko TujuhLangit)

 

 

Trek menjelang sampai di Puncak Kandang Geni. (Foto oleh Niko TujuhLangit)

 

 

Ketika sampai di Puncak Kandang Geni, anda sudah dapat melihat pemandangan yang menakjubkan! Dari sini view-nya 360 derajat! Jika cuaca cerah dan tidak berkabut, kita bisa menyaksikan indahnya pemandangan gunung-gunung di Jawa Tengah seperti Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Slamet, Gunung Merbabu dan Gunung Lawu. Area Pasar Bubrah terlihat begitu kecil dan jelas. Demikian juga halnya kawah Merapi. Benar-benar maha karya Sang Pencipta....

 

Kawah Merapi. Foto diambil dari Puncak Kandang Geni. Terlihat di kejauhan jalur aliran lahar Merapi. (Foto oleh Niko TujuhLangit)

 

 

Salah satu pemandangan dari Puncak Kandang Geni. Di depan terlihat Gunung Sindoro, Sumbing dan Slamet. Di sebelah kanan yang agak sedikit terpotong adalah Gunung Merbabu. (Foto oleh Niko TujuhLangit)

 

Tidak ada yang tahu seberapa rapuh Puncak Kandang Geni ini. Stuktur bebatuan dan morfologi yang terbentuk dari hasil erupsi Merapi ini bisa saja berpotensi rubuh sewaktu-waktu. Oleh karena itu, disarankan anda jangan terlalu berlama-lama di atas puncak ini.

 

Jalur Turun ke Pasar Bubrah

Untuk turun kembali ke Pasar Bubrah anda tinggal menyusuri kembali jalur saat menuju puncak, yakni jalur sebelah kiri dari Pasar Bubrah seperti yang dijelaskan di atas. Pilihan lain adalah anda bisa juga menyusuri jalur berpasir. Untuk melewati jalur berpasir ini memang membutuhkan energi ekstra saat menanjak menuju puncak, namun pada saat turun dari puncak jalur berpasir ini justru lebih mudah dan lebih menghemat waktu. Anda tinggal membenamkan tumit kaki ke dalam timbunan pasir terlebih dahulu sambil mencondongkan badan agak sedikit kebelakang lalu tinggal melangkah secara normal dan berirama. Melewati jalur berpasir ini saat turun benar-benar menyenangkan. Bahkan kami menjumpai beberapa pendaki yang berlari melewati jalur berpasir ini. Meskipun demikian ada baiknya kita tetap berhati-hati meskipun jalur berpasir ini begitu terasa empuk. Di beberapa titik di jalur berpasir ini terdapat juga batu-batu yang tertimbun oleh pasir yang bisa saja membuat anda tersandung dan terjatuh.

 

Turun dari bibir kawah menuju Pasar Bubrah. Dibawah terlihat area Pasar Bubrah. (Foto oleh Niko TujuhLangit)

 

 

Saat turun saya dan teman melewati jalur berpasir. Di sebelah kanan pendaki yang turun melalui jalur sebelah kiri; jalur yang kami tempuh saat menuju puncak

(Foto oleh Niko TujuhLangit)

 

 

Turun melalui jalur berpasir. (Foto oleh Niko TujuhLangit)

 

 

Para pendaki turun melalui jalur berpasir. (Foto oleh Niko TujuhLangit)

 

 

Perlu anda perhatikan bahwa rute pendakian dan kondisi morfologi Gunung Merapi bisa saja berubah dimasa yang akan datang mengingat gunung ini sangat aktif dan masih mungkin terjadi erupsi dan letusan. Tentunya kita tidak menginginkan hal tersebut terjadi. Tapi jika anda ingin mendaki gunung ini tetap carilah informasi yang terkini mengenai gunung ini dari berbagai sumber. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran bagi anda yang belum pernah menginjakkan kaki di Merapi, berdasarkan pendakian yang dilakukan pada Bulan Juni 2012. Selamat berkunjung ke Merapi yang indah dan kharismatik....Mari terus perkenalkan keindahan Indonesia......

 

VIEWINDONESIA.COM....Berbagi Informasi Travel dan Fotografi....Sekecil & Sesederhana Apapun Itu...

 

Artikel Lainnya:

1. Serba-Serbi 3 Gili

2. Artikel fotografi: Framing

3. Tegal Panjang; Lembah Tersembunyi di Dekat Gunung Papandayan

4. Berlibur di Danau Situgunung

5. Pancaran Cahaya di Goa Grubug

 

Coming Soon: "Pesona Senja dan Malam dari Merbabu...."

 

 

 

 

 

Comments   

 
+2 #1 bernard roeng 2013-06-06 14:35
thats greatt !!! mas, hebat...tajam, dan bikin iri...
Quote
 
 
0 #2 adhe 2014-12-29 01:42
:roll:
Sadis euyyy. ... info na setajam silet.
Sekomplit gado2, menggigit serasa ngemil cabe rawit.

Ajib badai. .. that's what we need, so educate, thanks for sharing, it's mean alot :-)
Quote
 
 
0 #3 Niko 2014-12-30 12:23
sama sama mas Adhe... trimakasih sudah berkunjung
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh