Travel Riding dan "Voluntrider", Sisi Lain dari Traveling

 Baca Juga:

1. Mengapa Batu yang Dilempar tidak Jatuh ke Danau Tolire?

2. Panduan Rute Menjelajahi Ternate

3. Menikmati Pantai Tanjung Tinggi di Depan Hotel Lor In, Belitung

4. Tegal Panjang, Lembah Tersembunyi di Dekat Gunung Papandayan

5. Naringgul, My Secret Hidden Paradise

6. Mengapa Traveler yang Sudah Menikah Jadi Jarang Jalan-Jalan Lagi


 

Kontributor: Nadya Iganov

Foto-foto oleh: Nadya dan Idrus

Check her blog at: www.dyaiganov.com

 

Belakangan, kegiatan traveling sudah menjadi sebuah kebutuhan dan trend masa kini. Rasanya belum ‘kekinian’ jika belum pernah traveling, entah itu hanya sekedar berkunjung ke tempat wisata dengan konsep-konsep kreatif, pergi melancong ke luar negeri, atau melakukan kegiatan traveling yang masuk kategori minat khusus. Beberapa kegiatan traveling yang termasuk ke dalam kategori olahraga minat khusus ini diantaranya pendakian, rafting, climbing, susur gua, dll. Dari beberapa kegiatan tersebut, dunia pendakianlah yang paling ramai dilirik oleh para traveler.

 

Saya, Dunia Pendakian, dan Sepeda Motor

Dunia pendakian bukanlah hal yang asing bagi saya. Dunia pendakian menjadi kegiatan traveling yang cukup banyak saya lakukan dan sudah menjadi hal yang akrab sejak awal 2010 lalu. Meskipun begitu, masih sangat banyak hal yang harus saya pelajari tentang dunia pendakian. Semakin lama aktif di dunia traveling, semakin banyak juga hal baru yang menarik untuk dipelajari, salah satunya kegiatan traveling selain dunia pendakian. Bisa dibilang kegiatan pendakian selama 2010 hingga kini diselingi dengan kegiatan kemping di pulau, eksplore pantai, caving, dan yang masih saya lakukan hingga saat ini yaitu kegiatan touring.

Desa Tanjung Datuk, Kabupaten Kepulauan Natuna

 

Touring yang saya lakukan ini bukanlah touring yang lazimnya dilihat di jalanan. Bukan touring bersama satu club motor lengkap dengan aksesoris yang berisi identitas suatu club atau komunitas tertentu, bukan juga yang harus selalu membunyikan sirine dan mendominasi jalan agar mendapat prioritas, dan beberapa sugesti tentang gambaran touring. Touring mungkin bukan sebutan yang pas jika memang sugestinya seperti beberapa hal yang sudah saya sebutkan sebelumnya. Begajulan, motoran blusukan, ngaprak, sampai yang sekarang lebih suka saya gunakan; Travel Riding, pun menjadi sebuah julukan yang dirasa pas untuk kegiatan traveling yang sedang saya gemari saat ini.

 

Begajulan/Travel Riding

Sebelum menekuni kegiatan traveling dengan roda dua ini, saya bergabung dengan beberapa komunitas traveling. Kebetulan, salah satu komunitas traveling yang paling aktif saya ikuti kegiatannya ini ada juga teman-teman yang tidak terlalu berminat dengan dunia pendakian dan lebih banyak tertarik dengan kegiatan traveling dengan menggunakan roda dua.

 

Awal mula perkenalan saya dengan kegiatan roda dua ini sekitar November 2012 lalu, dimana saya memutuskan untuk berhenti sejenak dari dunia pendakian karena intensitas hujan yang cukup tinggi. Berhubung memang sedang senang-senangnya bertraveling, terhentinya kegiatan pendakian dan kemping di pantai/pulau membuat saya putar otak. Akhirnya mengunjungi air terjun menjadi pilihan saya. Selain memang karena musim hujan, kegiatan yang berhubungan dengan air sepertinya cocok. Permasalahannya, bagaimana cara kami mencapai air terjun yang menjadi tujuan dengan minimnya informasi dan sarana angkutan yang ada. Akhirnya, menggunakan kendaraan pribadi (dalam hal ini sepeda motor) menjadi pilihan terbaik.

 

Rasa pegal di punggung, pinggang, tangan, bagian-bagian lainnya, mata merah karena debu, rambut lepek, muka kucel sepanjang perjalanan dengan menggunakan sepeda motor merupakan hal yang harus kami hadapai ketika itu. Setelah sukses dengan kunjungan pertama ke air terjun dengan menggunakan sepeda motor, saya seperti ketagihan untuk mengulangi lagi. Beberapa kali akhirnya kegiatan yang sama dengan tujuan yang berbedapun dilakukan. Awalnya memang mudah dan menyenangkan, tapi bagi sebagian besar teman saya yang pada dasarnya lebih menyukai kegiatan pendakian dan menjadikan kegiatan motoran ini hanya sekedar selingan menunggu musim pendakian dimulai lagi, kegiatan motoran ini pun menjadi sedikit terhambat pada saat musim pendakian tiba. Saya yang sudah terlanjur menyukai dan penasaran dengan kegiatan ini pun harus putar otak. Untunglah, ada beberapa orang di komunitas traveling ini yang punya hobi yang sama dengan saya.

Curug/Air Terjun Cikanteh, Kabupaten Sukabumi

 

Siapa sangka dari yang hanya mengunjungi air terjun dengan informasi dan akses yang mudah, beralih menjadi mengunjungi air terjun yang sama sekali tidak ada info atau ada informasi tapi terbatas dengan kondisi jalan yang makin lama semakin jauh dari kata mulus seakan sudah menjadi hal yang mutlak. Dari sinilah sebutan “Begajulan” muncul. Bukan hanya dari segi kondisi jalan yang jauh dari aspal, tapi juga dari segi jarak tempuh, waktu tempuh, dan tidak jarang setelah cukup lama di atas motor, kami masih harus treking dengan kondisi jalur yang sama sulitnya untuk mencapai tujuan kami.

Desa Cisaranten, Kabupaten Cianjur

 

Desa Cisaranten, Kabupaten Cianjur

 

Mengapa Air Terjun dan Danau?

Dari awal kunjungan saya (November 2012) ke salah satu air terjun yang sekarang mulai hits di Garut Selatan sana, ketertarikan saya pada gunung sedikit teralihkan ke air terjun. Banyak hal yang saya dapatkan dan pelajari tentang air terjun yang membuat saya semakin semangat untuk ‘mencari’ air terjun-air terjun lainnya di sekitaran Jawa Barat yang ternyata masih cukup banyak yang minim info. Kendala sarana transportasi dan jalur yang masih kurang jelas informasinya membuat saya memutuskan untuk menggunakan kendaraan pribadi (sepeda motor) karena lebih hemat, lebih praktis, dan pastinya bisa menjangkau jalur-jalur yang tidak mungkin dilewati oleh mobil. Pergantian musim pun menyebabkan cukup banyak air terjun cantik yang kehilangan airnya di musim kemarau, oleh karena itu, saya memutuskan untuk mencoba ‘mencari’ danau yang kemungkinan masih ada airnya di musim kemarau (meskipun sebagian danau di Jawa Barat pun ada yang kering total jika kemarau). Siapa sangka, akses dan informasi menuju danau pun sama sulitnya dengan air terjun. Terkadang jalan yang parah dan tanjakan serta turunan curam menjadi medan yang harus kami lewati. Tidak terasa, pergantian musimpun terjadi lagi. Daftar air terjun yang tidak sempat kami kunjungi ketika musim hujan sebelumnyapun kembali menjadi perhatian. Tidak terasa satu tahun, dua tahun berlalu dan hingga saat ini, kegiatan pendakianpun menjadi semakin jarang saya ikuti.

Curug/Air Terjun Cirajeg, Kabupaten Sukabumi

 

Situ/Danau Kabuyutan, Kabupaten Garut

Rawa Beber, Kabupaten Cianjur

Rawa Galuga, Kabupaten Cianjur

 

Travel Riding dan Kegiatan Baksos

Semakin lama menekuni kegiatan ‘Begajulan/Travel Riding ini (± 4 tahun) semakin banyak pula hal baru yang menarik untuk dipelajari. Lama kelamaan, kegiatan mencari-eksplore-berkunjung-publikasi menjadi semakin monoton. Beberapa teman begajulan pun sedikit demi sedikit mulai merasakan kejenuhan. Di tengah kejenuhan itu, tidak sengaja saya menemukan suatu kegiatan menarik lainnya dengan sepeda motor yang tidak hanya untuk sekedar refreshing saja. Ada beberapa teman yang ternyata sudah lama mengkikuti kegiatan ini.

Hutan Gunung Sumbul, Kabupaten Cianjur

 

Bakti Sosial atau Baksos mungkin suatu kegiatan yang sudah akrab di telinga, apalagi selama bulan suci Ramadhan. Selama satu bulan, pasti banyak bermunculan kegiatan baksos-baksos yang umumnya objeknya adalah anak yatim piatu, jompo, fakir miskin, dll. Ketika lepas Idul Fitri, kegiatan baksos yang undangannya ramaipun seolah tenggelam kembali. Namun, tidak untuk teman-teman ini.

 

Sebenarnya, dari beberapa teman-teman ini, ada yang memang menyebutkan mereka adalah ‘komunitas’, ada juga yang tidak memakai embel-embel apapun (tapi untuk kemudahan penyebutan secara pribadi, saya menggunakan sebutan ‘komunitas’). Idul Fitiri sudah berlalu, tetapi tidak ada habisnya kegiatan yang masih bisa tergolong baksos ini dilakukan, bahkan hampir setiap minggu. Seperti yang sudah saya ungkapkan sebelumnya, saya menemukan bahwa kegiatan dengan sepeda motor tidak hanya bisa menunjang kegiatan traveling yang terbentur dengan ketersediaan informasi, tetapi juga bisa dimanfaatkan untuk kegiatan yang lebih ‘menghasilkan’.

Pantai Keusikluhur, Kabupaten Pangandaran

 

Perkenalan sayapun belum lama dibandingkan ‘umur’ kegiatan ini. Secara garis besar, teman-teman yang tergabung dalam beberapa komunitas ini pada dasarnya adalah orang-orang yang hobi jalan-jalan hanya saja menggunakan sepeda motor. Lama-kelamaan, hobi bersepeda motor itupun mengarahkan mereka untuk berbuat ‘sesuatu’ yang lebih. Dari pengalaman berkendara dengan sepeda motor yang awalnya hanya untuk rekreasi, tidak jarang sepulang dari perjalanan tersebut malah mendapatkan informasi mengenai kondisi daerah tersebut yang masih dikatakan tertinggal. Dari sinilah, tercetus ide-ide sederhana dan kreatif untuk membantu semampunya dengan memanfaatkan hobi berjalan-jalan dengan sepeda motor tersebut. Hingga saat ini, ‘usia’ kami hampir dua tahun.

Rancadahon, Kabupaten Cianjur

 

Voluntrider

Orientasi perjalanan saya yang awalnya hanya untuk mencari sebuah objek wisata yang minim info, kali ini dibumbui dengan pencarian informasi mengenai daerah itu sendiri, sekiranya ada permasalahan-permasalahan yang bisa dibantu. Awal mulanya, permasalahan yang yang dapat dibantu dan jenis kegiatan baksos hanya berkaitan dengan ketersediaan energi listirk (dalam hal ini untuk penerangan). Tidak jarang, di lokasi-lokasi yang berdekatan dengan kota-kota besar masih ada kampung dan desa yang warganya masih belum menikmati listik negara. Disinilah, kami berusaha membantu dengan menyediakan listrik tenaga alternatif. Proses survey hingga hari H kegiatan baksos seluruhnya menggunakan sepeda motor, termasuk pengangkutan logistik. Jika masih memungkinkan, logistik dibawa di sepeda motor. Skill dan ketahanan fisik menjadi hal utama disini. Tidak jarang lokasi tujuan hanya dapat dijangkau dengan menggunakan sepeda motor dengan medan yang cukup sulit.

Desa Girimekar, Kabupaten Cianjur

 

Semakin lama, kegiatan ini pun semakin berkembang, ada juga komunitas lainnya yang menekuni kegiatan serupa lebih lama lagi (lebih dari dua tahun) hanya dengan jenis kegiatan yang lebih beragam, diantaranya membagikan buku pelajaran dan buku anak ke sekolah-sekolah yang berlokasi di tempat terpencil, memperbaiki sarana MCK, membangun perpustakaan, dll. Kegiatan ini dilakukan dengan menggunakan sepeda motor. Jarak ratusan Km dan kondisi jalan yang jauh dari mulus sudah merupakan hal yang lazim bagi kami. Bukannya mundur, semangat kami untuk menuntaskan kegiatan dan merencanakan kegiatan apa lagi yang bisa dilakukan untuk membantupun malah semakin menjadi. Tidak jarang, ada satu atau beberapa orang yang ternyata datang jauh-jauh dari luar Jawa Barat, menempuh perjalanan ratusan Km dengan sepeda motor hanya untuk bergabung dalam kegiatan sosial ini.

 

Semakin berkembang sumber daya manusia di komunitas ini, semakin beragam juga kegiatan yang dapat kami lakukan untuk membantu sesama, mulai dari renovasi total sebuah rumah warga yang hampir ambruk, renovasi madrasah, renovasi dan pemberian kursi dan meja untuk sebuah sekolah, pembagian buku-buku, pembangunan mushola, dll. Sebuah kata ‘Voluntrider’ pun tercetus. Gabungan dari Volunteer dan Rider. Bisa dikatakan, makna/arti dari Voluntrider adalah seseorang yang dengan sukarela mengikuti kegiatan sosial tetapi juga merangkap sebagai seorang rider (sepeda motor).

Desa Sangiang, Kabupaten Majalengka

 

Perempuan dan Voluntrider

Sebagai seorang perempuan, tidak jarang untuk mengikuti kegiatan tersebut terbentur dengan hal-hal lainnya, seperti izin orang tua (ketika belum menikah). Sebelum menikah, sebenarnya izin untuk kegiatan Travel Riding ini sangat ribet, kebanyakan memang sedikit memutar otak agar tetap bisa pergi. Tidak jarang, kami hanya pergi satu motor, dua motor, dan paling banyak empat motor. Meskipun sama-sama menyukai bepergian dengan sepeda motor, tetapi tidak semuanya mau jika jarak yang ditempuh cukup jauh, kondisi jalannya tidak karuan, bahkan kejelasan posisi informasi yang belum didapatpun bisa saja membuat malas beberapa teman, karena mungkin hanya akan buang-buang waktu, tapi menurut saya dan beberapa teman lainnya, justru disinilah letak keseruannya.

Desa Sangiang, Kabupaten Majalengka

 

Desa Sangiang, Kabupaten Majalengka

 

Hal yang samapun terjadi ketika mulai mengikuti kegiatan voluntrider ini. Tidak jarang, sulit sekali mencari teman yang mau untuk membonceng saya ke lokasi baksos. Selain itu, jika meminta tolong untuk dibonceng ke sesama voluntrider pun harus melihat beban bawaan untuk kegiatan nanti. Tidak jarang saya absen dari kegiatan voluntrider ini karena masalah ijin dan kesanggupan saya membawa motor sendiri. Semakin lama mengikuti kegiatan voluntrider tersebut, semakin banyak pelajaran yang saya dapat. Setelah menikah, atas izin dari suami, akhirnya saya diperbolehkan membawa sendiri sepeda motor saya, baik untuk kegiatan Travel Riding atau untuk kegiatan Voluntrider. Semakin lama, semakin bermunculan voluntrider-voluntrider perempuan, baik itu yang hanya sebagai boncengers atau pun sekaligus sebagai rider.

Talaga Denuh, Kabupaten Tasikmalaya

 

Sama halnya dengan kegiatan pendakian, banyak pelajaran yang didapat dari kegiatan Voluntrider dan Travel Riding ini, baik sebelum memulai kegiatan, selama kegiatan, dan setelah kegiatan. Traveling dengan sepeda motor yang saya dapat, pada akhirnya bukan hanya sebatas menemukan objek menarik, bersenang-senang, dan mempublikasikannya saja, tetapi diselingi dengan kegiatan yang bisa ‘menghasilkan’. Pelajaran-pelajaran yang saya dapat dari kegiatan Travel Riding/Voluntrider ini diantaranya bagaimana mengontrol emosi ketika sedang berada di atas sepeda motor, tidak arogan selama di perjalanan, menguji kesabaran jika perjalanan terhambat oleh jalan batu dan lumpur, menguji kekompakan dan kebersamaan ketika dalam kegiatan ada motor yang trouble, menguji insting untuk memilih jalur yang tercepat dan teraman untuk kegiatan, melatih interaksi dengan warga sekitar, melatih skill berkendara di trek-trek yang jauh dari seperti yang biasa kami lihat di kota besar, dan banyak hal lainnya.

 

Profil Nadya

Nad, panggilan sehari-hari Nadya. Seorang perempuan yang berasal dari Bandung yang memiliki hobby travelling. Penyuka warna Ungu ini lumayan sedikit tomboy, agak cuek dan pelupa. Sehari-harinya Nad bekerja sebagai pegawai di sebuah kantor konsultan yang menangani semua hal tentang tranportasi laut. Nad merupakan penyuka segala macam kegiatan travelling mulai dari touringhunting air tejun, mendaki gunung, camping ceria, main ke pantai atau hanya sekedar mengeksplor jalur karena penasaran. Ia mempunyai sebuah mimpi besar tentang travelling yang belum tercapai, yaitu bisa mendatangi satu persatu pulau-pulau terdepan Indonesia & berfoto di tugunya.

 

 

 

Add comment


Security code
Refresh