Mengapa Traveler Yang Sudah Menikah Jadi Jarang Jalan-Jalan Lagi

 

Baca Juga:

1. 3 Cara Agar Tetap Bisa Traveling Setelah Menikah

2. Honeymoon di Frii Bali Echo Beach Dengan Kamar Terhubung ke Kolam Renang

3. Teman Traveling Yang Menyebalkan dan Merepotkan

4. Hal-Hal Yang Hendaknya Dilakukan Oleh Seorang Team Leader Dalam Pendakian Gunung

 


 

 

Penulis: Niko Tujuhlangit

 

Ada sebuah hal yang menjadi perhatian saya selama menjalani hobby traveling, yaitu tentang teman-teman traveling saya yang sudah menikah. Hal menarik yang saya amati adalah semenjak menikah sebagian besar dari mereka jadi jarang traveling atau jalan-jalan seperti halnya ketika dahulu masih single. Kalau dulu semasa masih single travelingnya “ugal-ugalan”, eh ketika sudah menikah jadi jarang kelihatan lagi. Kalaupun ada, frekuensi jalan-jalannya sudah sangat jarang sekali.


 

Waktu itu saya juga masih single. Saya terus memikirkan dan bertanya-tanya mengapa hal tersebut bisa terjadi. Orang-orang yang tadinya gila traveling kemudian berubah setelah menikah. Why? Why? And Why? *Sok dramatis :D

 

Lalu kemudian tibalah waktunya giliran saya menikah di tahun 2014 silam. Nah, sejak itu barulah saya mendapatkan jawaban seutuhnya mengenai hal tersebut. Saya jadi lebih paham mengapa dulu banyak teman-teman traveling yang telah menikah jadi “menghilang” dari dunia jalan-jalan.

 

Nah, saya yakin mungkin bisa jadi tidak sedikit diantara kamu yang disatu sisi hobby dan mania traveling, namun disisi lain sudah sangat, ngebet, kebelet ingin menikah. Dilema antara jalan-jalan dan keinginan untuk menikah ini bisa melanda siapapun. Salah satu pertanyaan besar yang mungkin hinggap adalah mungkinkah saya bisa jalan-jalan lagi setelah menikah nanti? Pertanyaan ini erat kaitannya dengan apa yang akan saya paparkan dibawah.


 

Nah bagi kamu yang sedang mengalami dilema antara traveling dan menikah, ada baiknya kamu mengetahui kira-kira apa saja faktor yang mungkin menjadi penyebab seorang traveler jadi jarang jalan-jalan lagi setelah menikah? Semoga dengan memahami ini, kamu bisa lebih yakin dan mantap dalam menentukan keputusan. Enjoy it :)

 

1. Biaya Hidup

Namanya hidup pasti butuh biaya. Butuh income. Buat makan, buat beli pakaian, dan salah satunya ya buat ngejalanin hobby seperti traveling. Ketika masih single, tentunya tanggungan seseorang hanya terbatas pada dirinya sendiri. Artinya jika kamu punya income, income itu kemungkinan besar hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup kamu sendiri. Maka tidak heran mengapa ketika masih single seseorang bisa sering jalan-jalan.

 

Kondisinya akan berubah ketika kamu memutuskan menikah. Sedikit banyak akan terjadi perubahan. Salah satunya adalah dalam manajemen biaya hidup. Yang namanya menikah dan berkeluarga pasti ada kebutuhan-kebutuhan tambahan dari kebutuhan-kebutuhan ketika masih single. Ketika sudah menikah, kamu dan pasanganmu pasti akan mulai memikirkan untuk membeli rumah. Saat single, mungkin kos-kosan saja sudah lebih dari cukup. Ketika menikah, kamu mau gak mau harus mengalokasikan biaya untuk perawatan dan pendidikan anak. Dulu ketika single, kan belum punya anak. :D  Ketika menikah, kamu dan pasanganmu mulai memikirkan membeli berbagai perabotan rumah. Dulu ketika single hal tersebut tentunya belum ada dan tidak terlalu penting. Dan berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya.

 

Apa dampaknya? Ya jelas, artinya income kamu sekarang menjadi terbagi. Harus ada alokasi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Nah, inilah yang bisa menjadi salah satu faktor penyebab mengapa orang-orang yang dulunya pecandu traveling, ketika menikah jadi jarang jalan-jalan lagi. 


 

2. Waktu

Kalau single, boleh dibilang mau ngapain bebas. Belum ada tanggung jawab disana-sini. Waktu yang dimiliki juga masih relatif fleksibel. Maka wajar mengapa anak-anak muda dan eksekutif-eksekutif muda sekarang banyak yang kegandrungan dengan traveling. Energi besar, status single, dan waktu yang masih luang cenderung akan membutuhkan kompensasi. Salah satunya adalah dengan ber-traveling!

 

Dulu, ketika masih single, kerjaan saya jalan-jalan melulu. Gak tahan kalau ngeliat ada jadwal-jadwal libur. Pengennya segera menenteng keril menjelajahi nusantara.

 

Ketika menikah, akan terjadi perubahan siklus dan ritme waktu. Itu pasti! Jangan berharap anda akan seleluasa seperti ketika masih single. Karena saat berkeluarga akan muncul urusan-urusan baru yang memerlukan waktu tambahan, seperti mengurus surat-surat rumah, mengurus anak-anak, bercengkrama dengan istri, dan berbagai hal lainnya.

 

Perubahan siklus dan ritme waktu itu jugalah yang dapat mengakibatkan penurunan frekuensi traveling seseorang.


 

3. Orientasi Hidup

Ini agak berat dan dalam nih. :D …. Salah satu “efek” yang sering terjadi ketika seseorang memutuskan menikah adalah terjadinya perubahan orientasi hidup. Setelah menikah dan berkeluarga, banyak “hal-hal” baru yang akan kamu dapatkan tentang bagaimana cara melihat hidup, yang tidak kamu peroleh dari traveling dan jalan-jalan. Mungkin bisa jadi sekarang kamu berfikir bahwa traveling adalah “tujuan hidup”. Mungkin kamu berpikir bahwa banyak nilai-nilai hidup yang akan didapatkan dari traveling dan menjelajah. Itu benar! Tapi kamu akan mendapatkan lebih banyak lagi pelajaran hidup setelah menikah dan berkeluarga. Pelajaran-pelajaran yang akan menempa dan mungkin akan merubah pola pikir kamu tentang memaknai tujuan hidup.

 

Perubahan orientasi hidup ini juga bisa menjadi faktor penyebab mengapa orang tadinya addicted to traveling jadi berubah dan mengalami penurunan frekuensi traveling.

 

4. Kebahagiaan Baru!

Di dalam hidup ini ada banyak hal yang bisa membuat kita bahagia. Dan kamu tahu, salah satu kebahagiaan hidup yang paling membahagiakan itu adalah menikah! Bertemu dengan lelaki atau wanita impian kita lalu merajut ikatan cinta lewat pernikahan adalah satu hal yang paling sakral dan indah dalam hidup. Momen-momen ketika kamu melafazkan janji sehidup semati lewat akad nikah, momen ketika pertama kali kamu memulai kehidupan baru bersama pasanganmu, momen-momen ketika kamu berduaan jalan-jalan ke berbagai tempat, ah indah sekali. Semua penghuni langit merahmati kemesraan kamu berdua. Hal-hal kecil yang sederhana bisa menjadi menyenangkan dan indah jika dilakukan berdua. Memang benar bahwa berumahtangga tak melulu menyenangkan, tapi ada banyak kebahagiaan baru yang akan kamu dapatkan dari menikah yang tidak kamu temukan dari hal-hal lainnya.


Ketika menikah dengan pasangan kita, ada rasa bahagia baru. Ketika anak lahir, bertambah lagi sebuah kebahagian baru, ketika bercengkerama dengan buah hati, semakin bertambah-tambahlah kebahagian itu. Kebahagiaan yang sulit untuk digambarkan.

 

Kebahagaiaan baru yang diperoleh dari menikah inilah yang terkadang membuat seseorang akhirnya “melupakan” dunia traveling. Ya, ia sudah terpesona dengan kenikmatan dan kebahagiaan serta ketentraman yang diperoleh dari menikah. Ketika masih sendiri dahulu mungkin jiwa seseorang masih melakukan pencarian ketenangan dan kebahagiaan hidup. Itulah yang terkadang menuntun kita mencari aktivitas-aktivitas yang bisa membuat hati berbahagia dan terhibur. Salah satunya adalah dengan ber-traveling. Namun ketika menikah, tak sedikit orang yang akhirnya baru “menyadari” bahwa ada kebahagiaan besar yang baru saja ia temukan, yaitu kebahagiaan melalui pernikahan.

 

Jadi, jangan heran kalau misalnya kamu menyaksikan ada temanmu yang dulu petualang alias adventurer banget :D namun sekarang hanya berdiam di rumah bercengkerama dengan anak-anaknya sebagai seorang ayah atau ibu. Karena bisa jadi ia telah menemukan kebahagiaan sesungguhnya bersama keluarganya.  Karena bisa jadi ia telah menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya di keceriaan senyum pasangan dan anak-anaknya.

 

Traveling memang menyenangkan dan membahagiakan, tapi kesenangan dan kebahagiaan yang kamu dapatkan dari traveling dan jalan-jalan tak dapat menggantikan kesenangan dan kebahagiaan yang diperoleh dari menikah. Jadi, kalau sekarang diantara kamu ada yang bertekad memutuskan untuk tidak menikah seumur hidup hanya karena ingin menjelajah dan traveling ke berbagai tempat, saya sarankan sebaiknya pikir-pikir dengan matang lagi deh.. :D  …Karena hidup itu hanya sekali :)…


 

5. Keterikatan Bathin

Mungkin banyak orang mengira bahwa semakin jarangnya seseorang traveling setelah menikah itu adalah karena masalah biaya. Itu benar. Namun tidak sepenuhnya benar juga. Setiap orang berbeda-beda. Ada salah satu faktor lain yang menjadi penyebab hal tersebut yaitu keterikatan bathin.


 

Menikah akan menciptakan sebuah keterikatan bathin antara kita dan pasangan kita. Ada jalinan perasaan yang terbentuk disana. Saya pribadi tak jarang akhirnya membatalkan rencana trip/traveling karena ternyata istri tidak bisa ikut karena sesuatu hal. Sebenarnya saya pribadi bisa saja tetap pergi traveling sendirian dan istri juga oke-oke saja, namun keterikatan bathinlah yang membuat saya akhirnya memutuskan membatalkan rencana traveling tersebut. Ada semacam bagian perasaan yang hilang jika harus meninggalkan istri sendirian di rumah sementara saya pergi melanglang buana menjelajah. Nah apalagi jika harus meninggalkan anak ya! L  Itulah salah satu bedanya dengan saat masih single.

 

Akibat hal tersebut, akhirnya sekarang kebanyakan trip yang saya lakukan adalah bersama istri. Sebisa mungkin kami selalu traveling bersama. Nyusun planning bersama, ngatur jadwal yang cocok dan sesuai bersama, jalan-jalan bersama :). 

 

Itulah beberapa hal yang bisa menyebabkan seorang pecandu berat traveling jadi jarang jalan-jalan lagi setelah menikah.  Kamu para traveler yang sudah menikah, kira-kira yang mana yang bikin kamu jadi jarang traveling lagi? :)

 

Buat kamu para traveler yang masih single, adakah diantara kamu yang saat ini sudah sangat ingin sekali menikah namun mengalami keraguan karena khawatir nanti tidak bisa jalan-jalan lagi setelah menikah? Kalau ada, saran saya jangan ragu-ragu. Kalau kamu sudah yakin dan merasa sudah waktunya untuk menikah, buruan menikah! Jangan korbankan kebutuhanmu untuk menikah hanya karena khawatir tidak bisa jalan-jalan. Setelah menikah kamu masih bisa jalan-jalan kok. Masih ragu? Simak sedikit tipsnya disini.

 

Sebagai penutup, dulu ketika masih single dan asyik menjelajah, seringkali saya merenung di hamparan savana gunung, di pinggiran pantai, dibawah indahnya langit biru dan bintang-bintang malam dan bertanya pada diri saya: “kapan saya akan menikah”? Pertanyaan itu hadir berkali-kali.  Hingga suatu waktu akhirnya saya bergumam: “ini saatnya saya menikah”. Sekarang apa yang terjadi? Tidak ada masalah apa-apa dengan traveling saya. Sekarang malah saya menemukan model traveling baru; traveling bersama istri! I have my best partner now in life and traveling…. :)

Sukses buat kamu semua … :)

 

 

Add comment


Security code
Refresh