Pelajaran Berharga Tentang Mendaki Gunung Dari Film Everest

Baca Juga:

1. Bukan Gunung yang Kita Taklukkan

2. Hal-Hal yang Hendaknya Dilakukan Team Leader Saat Mendaki Gunung

3. Menggapai Puncak Rinjani

4. 12 Tips Tentang Tersesat Saat Mendaki Gunung

5. Dari Pasar Bubrah Menuju Puncak Merapi

 


 

Foto-foto dan tulisan oleh: Niko Tujuhlangit

 

Sekitar dua minggu lalu saya dan istri menyaksikan Film Everest. Usai menonton film tersebut saya bilang kepada istri bahwa saya akan menulis di blog tentang pelajaran berharga yang bisa dipetik dari film tersebut.

 

Meski sedikit telat, Alhamdulillah tulisan ini akhirnya jadi juga. Film ini mengisahkan tentang sejumlah pendaki yang berasal dari berbagai negara yang hendak mendaki Gunung Everest di Nepal; gunung tertinggi di dunia dan tentunya masuk dalam salah satu seven summit dunia. Film yang diangkat dari kisah nyata ini menceritakan salah satu tragedi yang cukup terkenal dalam sejarah pendakian Everest yaitu tragedi 10-11 Mei di tahun 1996, dimana beberapa pendaki yang dikoordinir oleh Adventure Consultants dan Mountain Madness (semacam EO gitulah ya) tewas dalam pendakian tersebut akibat cuaca buruk.

 

Tragedi ini dikisahkan dalam beberapa buku dan banyak tulisan/artikel sehingga kisahnya menjadi mendunia. Salah satu buku terkenal yang menceritakan tentang tragedi ini adalah “Into Thin Air” karya John Krakauer. John Krakauer sendiri adalah salah satu peserta yang selamat dari tragedi Everest 1996 tersebut.

 

Adapun beberapa pendaki yang tewas (sebagaimana dapat kita saksikan dalam film) dalam kejadian Everest 1996 tanggal 10-11 Mei tersebut adalah Rob Hall (guide dari Adventure Consultants) yang merupakan salah satu tokoh utama dalam film ini, Scott Fischer (guide dari Mountain Madness), Andy Harris (guide dari Adventure Consultants), Doug Hansen (peserta), dan Yasuko Namba (peserta).

 

Ada beberapa pelajaran penting bagi kita yang bisa dipetik dari Film Everest ini. Kisah ini dapat menjadi reminder bagi kita yang hobby mendaki gunung.

 

1. Alam Tak Bisa Ditebak dan Gunung Tak Bisa Ditaklukkan

Apakah para korban tewas dalam Tragedi Everest tersebut adalah pendaki-pendaki amatir? Tentunya kita pikir tidak. Rob Hall merupakan salah satu pendaki yang telah mencapai seven summit dunia. Ia sendiri telah lima kali mencapai puncak Everest, sebuah prestasi yang luar biasa tentunya. Yasuko Namba, pendaki wanita asal Jepang, sebelum tragedi 1996 dia telah mendaki 6 dari 7 gunung tertinggi di dunia. Ia akhirnya berhasil mencapai puncak Everest, meski akhirnya tewas pada pendakian tersebut. Demikian juga dengan Scott Fisher dan peserta-peserta lainnya. Mereka adalah pendaki-pendaki yang berpengalaman.

 

Namun mengapa akhirnya beberapa diantara mereka harus meregang nyawa dan menemui ajalnya pada tragedi tersebut? Jawabannya adalah karena alam tak bisa ditebak dan gunung tak bisa ditaklukkan. Rob Hall, Yasuko Namba, Scott Fisher, Doug Hansen, Andy Harris telah menjadi “saksi” bahwa alam dan gunung tak bisa ditaklukkan.

 

Dalam salah satu scene di film tersebut Anatoli Boukreev berkata pada Scott Fisher:

“The last words always belongs to the mountain”

 

Ya, kita tak mungkin menaklukkan gunung. Kita hanya mendaki “tubuh” gunung dan bukan sedang menaklukkannya.

 

 

Bagaimana dengan kita? Yang telah mendaki 7 puncak tertinggi dunia saja tewas dan harus “mengakui” bahwa alam dan gunung tak bisa ditaklukkan, lantas kita?

 

Kita mungkin belum pernah mendaki satupun dari 7 puncak tertinggi di dunia. Kemampuan dan skill kita tentang mendaki gunungpun belum ada apa-apanya dibandingkan Rob Hall, Scott Fisher, Anatoli Boukreev, dan lain-lain. Maka sudah seharusnya kita lebih rendah hati dan tidak sombong dalam hal mendaki gunung. Jangan pernah merasa paling hebat hanya karena sudah mendaki Gunung Rinjani, Kerinci, atau gunung-gunung lainnya di Indonesia. Diluar sana, berjamuran pendaki-pendaki kelas dunia yang rendah hati yang telah mencapai atap-atap tertinggi dunia.

 

 

Persiapan dan skill memang diperlukan dalam mendaki gunung, tapi kerendahan hati adalah sisi lain yang tak kalah pentingnya bagi seorang pendaki. Keep humble, berdoalah sebelum mendaki gunung, jangan takabur. Dalam mendaki gunung, ada hal-hal yang tidak cukup diatasi hanya dengan skill saja. Ada banyak hal yang diluar “kuasa” kita. Mendakilah dengan niat yang benar, bukan untuk pamer.

 

Sir Edmund Hillary berkata:

“It is not the mountain we conquer, but ourselves…”

 

 

Sebuah kalimat yang mungkin tidak asing bagi sebagian besar pendaki gunung. Sebuah quote dari Sir Edmund Hillary, seorang pendaki New Zealand sekaligus manusia pertama yang menginjakkan kaki di puncak gunung tertinggi dunia; Everest. Kalimat yang singkat namun memiliki makna yang sangat dalam. Sesungguhnya saat kita berhasil mencapai puncak-puncak gunung kita tidak sedang menaklukkan gunung karena memang kita tidak akan sanggup menaklukkannya. Saat kita mendaki gunung kita hanyalah seperti semut-semut kecil yang sedang melewati jalan-jalan kecil yang terdapat di badan-badan gunung. Jalan-jalan yang terus membawa kita hingga sampai menuju puncak. Kita hanya melewatinya. Bukan gunung yang kita taklukkan, tapi diri kita sendirilah yang mesti kita taklukkan. Ketika terbersit rasa sombong karena berhasil mencapai puncak, maka rasa itulah yang harus dikikis segera. Ketika ada rasa bangga saat melangkahkan kaki menyusuri hutan-hutan di gunung yang lebat dan ekstrim, maka rasa itulah yang mesti cepat-cepat dihilangkan. Ketika diri merasa paling kuat dan paling cepat dan tangguh saat mendaki gunung, maka itulah saatnya kita segera mengintrospeksi diri. Ketika kita merasa keren karena membawa keril yang besar dihadapan banyak orang, maka itulah yang harus segera ditekan.

 

 

2. Kenali Kemampuan Diri Anda

Di dalam Film Everest ada beberapa scene yang mengajarkan kita tentang pentingnya mengenali kemampuan diri yaitu ketika Doug terkesan memaksakan dirinya untuk tetap menuju puncak, padahal sudah terlihat betapa kelelahan dirinya. Demikian juga Back Weathers yang mengalami kelelahan dan gangguan penglihatan namun sempat bersikeras untuk melanjutkan perjalanan meski akhirnya ia berhenti.

 

Tubuh kita ini memiliki limit atau batas kemampuan. Dan setiap kita bisa mengetahui apakah kita telah melewati limit atau batas tersebut. Pernahkah anda merasakan hal tersebut saat mendaki gunung? Ketika mendaki gunung, tak jarang kita mencapai limit yang mana pada saat itu kita TAHU bahwa kita harus berhenti memaksakan diri kita melanjutkan pendakian.

 

 

Jangan memaksakan diri anda untuk melanjutkan pendakian ketika anda sadar bahwa anda sudah tidak sanggup. Jangan memaksakan diri hanya karena gengsi dihadapan teman-teman pendakian anda. Gengsi karena khawatir akan dianggap lemah.

 

Saya memiliki seorang teman mendaki yang jujur saja menarik perhatian. Menurut saya ia agak berbeda. Dan jujur saja saya pribadi salut dengannya. Dalam beberapa pendakian ia tak pernah memaksakan diri menuju puncak. Ketika tak sanggup, ia memutuskan tinggal di tenda. Sampai sampai terkadang saya berpikir apakah dia benar tidak sanggup atau justru memang tidak terlalu tertarik dengan puncak dalam artian bahwa puncak bukanlah segala-galanya baginya dalam mendaki gunung.

 

Apa bahayanya jika memaksakan diri? Selain membahayakan diri sendiri, memaksakan diri melanjutkan pendakian pada saat kondisi tubuh sudah tidak memungkinkan juga akan membebani dan membahayakan teman-teman mendaki kita yang lainnya. Jika sakit, kecelakaan atau tewas maka yang akan repot adalah teman dan tim kita.

 

 

3. Puncak Bukan Segalanya

Dalam beberapa tulisan saya sering menekankan hal ini, karena memaksakan diri menuju puncak pada saat kondisi tidak memungkinkan (kelelahan, badai, dan lain-lain) adalah sebuah tindakan yang akan membahayakan jiwa kita dan teman-teman kita.

 

Doug yang sudah dalam kondisi kelelahan tetap bersikeras memaksakan dirinya menuju puncak. Pada saat itu Rob Hall telah melarang dan mengajaknya untuk segera turun. Selain itu batas waktu aman untuk menuju puncak Everest (jam 14.00) telah lewat dan cuaca semakin memburuk. Namun Doug tetap tak bergeming dan memaksa dirinya menuju puncak. Rob Hall entah mengapa akhirnya mengizinkan dan menemani Doug menuju puncak padahal ia tahu bahwa tindakan tersebut sangat berbahaya. Dan benar saja, selepas turun dari puncak cuaca semakin memburuk dan Doug sudah sangat kelelahan. Akhirnya Doug dan Rob Hall tewas. Tidak cukup sampai disitu, Andy Harris yang datang bermaksud memberikan pertolongan kepada Rob dan Doug juga akhirnya tewas. Mungkin hal ini bisa dihindari jika seandainya Doug tidak memaksakan dirinya menuju puncak.

 

Biasanya alasan yang sering menggoda kita untuk menuju puncak padahal kita tahu bahwa kondisi sudah berbahaya dan tidak memungkinkan antara lain:

1. Gengsi.

Gengsi adalah salah satu perasaan yang berbahaya yang membuat orang memaksakan melakukan sesuatu yang sebenarnya sudah tak sanggup ia lakukan. Demikianlah dalam mendaki gunung. Gengsi bisa menyebabkan seorang pendaki memaksakan dirinya padahal ia sadar bahwa ia tak sanggup lagi. Gengsi karena takut dianggap lemah, gengsi dianggap pendaki amatir, dll.

 

2. Merasa “sayang”.

Sayang sudah datang jauh-jauh tapi gak muncak. Sayang sudah beli tiket mahal-mahal tapi gak muncak. Sayang kalo gak muncak, belum tentu bisa balik lagi.

 

Namun pernahkah kita berpikir bahwa:

1. Jiwa kita ini bergitu berharga. Hidup hanya sekali, dengannya kita bisa melakukan banyak hal positif. Jangan sampai jiwa kita melayang, karena tindakan kita memaksakan diri pada saat kita tahu bahwa kita sudah tak sanggup. Bukankah memaksakan diri pada saat kita sadar bahwa tubuh kita sudah tak sanggup itu sebuah perbuatan yang menganiaya diri?

 

2. Keluarga kita menanti di rumah. Beberapa gunung sudah saya daki, namun bagi saya keluarga adalah tempat menemukan kasih sayang dan ketenangan yang terbaik. Gunung memang adalah tempat yang indah dan menentramkan jiwa, namun tempat “beristirahat” yang terbaik tetaplah bersama keluarga yang kita cintai.

 

Ketika dalam kondisi sekarat, Back Weathers terbayang-bayang wajah istrinya yang memanggil-manggilnya untuk segera bangkit. Penampakan istrinya tersebut membuatnya tersadar dan bangkit dan memberikan energi dan kekuatan tersendiri baginya untuk bangkit dan mempertahankan hidupnya. Akhirnya Back Weathers berhasil berjalan menuju camppadahal kondisinya boleh dibilang sudah sangat parah. Pendaki-pendaki lain yang menyaksikan hal tersebut takjub dibuatnya.

 

Keluarga adalah tempat terindah dan sumber energi besar dalam hidup. Jangan jadikan gunung sebagai tempat lari dari segala permasalahan hidup dan keluarga kita. Jadikanlah gunung sebagai tempat kita meresapi makna hidup yang membuat kita semakin berani dan kuat menghadapi segala problematika hidup. Pendaki yang “kuat” dan berhasil memahami makna mendaki gunung harusnya kuat dan berani pula dalam menghadapi “kegelisahan” dan kenyataan hidup. Bukan malah sebaliknya menjadikan aktivitas mendaki gunung sebagai “pelampiasan” atau “pelarian” dari kenyataan dan problematika hidup.

 

3. Masih banyak waktu lain. Pernahkah kita berpikir bahwa sebenarnya kita masih punya banyak waktu suatu saat nanti untuk kembali lagi ke gunung tersebut. Apalagi jika kita masih muda. Jangan mempertaruhkan nyawa kita hanya karena berpikir “belum tentu bisa balik lagi”. Jangan pertaruhkan nyawa kita hanya karena ambisi menggapai puncak gunung.

 

4. Jangan mempertaruhkan nyawa anda menuju puncak hanya karena merasa telah membeli tiket dan mengeluarkan biaya mahal. Ingat, uang bisa dicari, namun nyawa hanya sekali. Ketika nyawa hilang, kita tak bisa lagi mencari uang. 

 

5. Meresapi makna mendaki gunung tak harus mencapai puncak. Kita bisa belajar banyak hal tentang hidup dan memahami kebesaran Tuhan dari aktivitas mendaki gunung, namun itu semua tak mesti harus ke puncak.

 

 

Ketika mendaki Rinjani tahun 2013 silam saya dan beberapa teman dihantam badai pada ketinggian sekitar 3200 mdpl. Simak kisahnya disini. Waktu itu jujur saja masih sempat timbul godaan untuk memaksakan diri menuju puncak. Namun syukurlah akhirnya kami memutuskan kembali turun. Demikian juga ketika mendaki Kerinci, kami juga dihantam angin kencang dengan jarak pandang sangat terbatas dalam perjalanan menuju puncak. Godaan ke puncak juga muncul kala itu, namun Alhamdulillah kami memutuskan untuk turun dan tidak melanjutkan perjalanan menuju puncak.

 

Saya yakin banyak diantara kita yang mengalami godaan-godaan serupa saat mendaki gunung. Ingatlah satu hal bahwa puncak bukan segala-galanya. Silahkan menuju puncak sepanjang cuaca baik, kondisi diri kita baik dan memungkinkan, aturan mendukung, dan lain-lain. Sebaliknya jangan paksakan diri anda menuju puncak jika cuaca tidak bersahabat, kondisi fisik dan mental anda tidak memungkinkan, dan lain-lain.

 

Buat yang belum nonton, silahkan sempatkan nonton yaa..Mumpung belum turun... :)

Comments   

 
0 #1 Imam 2015-09-27 08:46
Woooh niceeee :lol:
Quote
 
 
0 #2 Tirta Wahyu 2015-09-29 05:09
nice :-) baru rencana mau nonton film ini :lol:
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh