Memotret Objek Dengan Background Berwarna Putih

Link artikel lain:

1. Menggunakan Flash untuk Memperkaya Foto Landscape Kita

2. Horizon

3. Tips Memotret Orang; Tatapan Mata, Senyum, Tawa, Ekspresi dan Cahaya

4. Teknik 2: Mendapatkan Fokus pada Pemotretatn Malam Hari dengan Cara Infinity Focus

5. Exposure (Bagian 1): Apa Itu Exposure?

 


Saat kita memotret sebuah objek dimana di belakangnya terdapat background berwarna putih yang sangat dominan, maka kamera cenderung berusaha menggelapkan area berwarna putih tersebut. Perhatikan contoh foto berikut. Foto berikut ini bermodalkan kamera dan bunga kertas yang saya beli di jalanan. Tanpa tambahan cahaya apapun. Bunga saya taruh di depan dinding berwarna putih. Dapat anda lihat bahwa ternyata dengan menggunakan ISO 200 dan Aperture f2.8, kamera merekomendasikan setting shutter speed 1/1600.

f2.8, ISO 200, Shutter Speed 1/1600. Metering Mode: Center Weighted Metering

 

Dapat anda lihat bahwa ternyata dengan menggunakan ISO 200 dan Aperture f2.8, kamera merekomendasikan setting shutter speed 1/1600. Kalau seandainya kameranya bisa bicara kira-kira begini mungkin kalimatnya:


"Wah, Si Niko milih setting ISO 200 dan aperture f2.8. Oke berarti saya harus ngasih shutter speed brapa nih yaa....Ada bunga dan bakcground warna putih nih. Ah, terlalu terang dan banyak warna putih. Saya gelapin dikit ah. Hei..Niko! Shutter speednya 1/1600 yaa...."

 

Begitulah kira-kira. Kamera merekomendasikan kepada saya untuk menggunakan shutter speed 1/1600. Apa yang terjadi? Yup. Bisa ditebak. Seperti dijelaskan di atas, karena dominannya area berwarna putih, kamera cenderung berusaha merekomendasikan setting yang menggelapkan area berwarna putih tersebut dari yang seharusnya. Akibatnya dinding yang berwarna putih dan bunga akan sedikit gelap dari yang seharusnya. Warna putih dinding tidak lagi terlihat putih seperti kondisi aslinya.

 

Mari sekarang perhatikan foto kedua berikut. Masih di tempat dan dengan objek yang sama. Namun bedanya kali ini, meskipun kamera merekomendasikan shutter speed 1/1600, namun kali ini saya memilih untuk tidak mematuhi perintah kamera. Saya menurunkan shutter speed ke 1/800 (alias menaikkan exposure sebesar 1 Stop). Akibatnya foto kedua ini akan lebih terang daripada foto pertama.

f2.8, ISO 200, Shutter Speed 1/800. Metering Mode: Center Weighted Metering

 

Sekarang mari kita lihat kembali kedua foto tersebut side by side.


Foto kiri: f2.8, ISO 200, Shutter Speed 1/1600. Foto kanan:  f2.8, ISO 200, Shutter Speed 1/800

 

Apa yang anda lihat? Yup, foto yang sebelah kiri terlihat lebih terang dibandingkan foto sebelah kanan karena saya menaikkan exposure foto sebesar 1 Stop, yakni dengan menaikkan shutter speed dari 1/1600 ke 1/800 yang berarti naik sebesar 1 Stop (beda dari 1/1600 ke 1/800 adalah sebesar 1 Stop). Sekali lagi bisa kita lihat bahwa kamera cenderung berusaha menggelapkan area berwarna putih ini. Akibatnya bunga kertas yang menjadi objek utama juga menjadi lebih gelap. Permasalahan sebaliknya juga terjadi saat memotret sebuah objek dimana terdapat warna hitam/gelap yang sangat dominan. Kamera cenderung berusaha membuat area gelap atau hitam tersebut lebih terang dari yang seharusnya, sehingga objek utama anda akan ikut-ikutan menjadi lebih terang.

 

Jadi, kesimpulannya adalah kamera memiliki keterbatasan dalam melihat sebuah objek tidak seperti mata kita yang bisa membedakan dengan jelas setiap warna dan perbedaan terang gelap yang ada pada objek yang kita foto. Mata kita jauh lebih canggih dibandingkan kamera. Tidak selamanya setting (ISO, Aperture dan Shutter Speed) yang direkomendasikan oleh kamera adalah setting yang benar atau paling tepat untuk objek yang anda potret. Pada beberapa kondisi bahkan setting yang direkomendasikan oleh kamera justru jauh dari harapan kita. Misalnya foto menjadi sangat underexposed atau overexposed. Oleh karena itu, pada kondisi-kondisi tertentu kita terkadang perlu melakukan kompensasi atau tidak mematuhi setting yang direkomendasikan oleh kamera. Misalnya dengan membuat foto sedikit lebih gelap atau sedikit lebih terang.

 

Apa yang saya maksud dengan “setting (Aperture, ISO, Shutter Speed) yang direkomendasikan oleh kamera?” Pada saat kita memotret, kamera memberikan rekomendasi berapa shutter speed, aperture dan ISO yang "paling pas" menurut versi kamera. Setting atau indikator yang "paling pas" menurut versi kamera ditandai dengan garis penunjuk exposure (indikator exposure) yang jatuh di titik 0. Indikator exposure ini bisa dicek atau diliat saat membidik di viewfinder kamera. Yang ditandai dengan angka-angka -3 , -2 , -1 , 0 , +1 , +2, +3 . Nah angka2 ini merupakan indikator exposure. Angka-angka indikator exposure tersebut bisa diliat juga di LCD monitor kamera.

Tampilan di LCD Monitor Kamera Canon EOS 7D. Terlihat indikator exposure. Indikator exposure ini bisa juga dilihat saat membidik di viewfinder kamera.


Kalau garis penunjuknya jatuh di titik 0, itulah setting shutter speed, aperture dan ISO foto yang "paling oke" menurut kamera. Seperti contoh foto bunga kertas di atas, setting yang “paling pas” menurut kamera adalah f2.8, ISO 200 dan shutter speed 1/1600. Namun karena foto yang dihasilkan dengan menggunakan setting tersebut menurut saya foto sedikit terlalu gelap, saya tidak mematuhi rekomendasi kamera tersebut dan merubah shutter speed menjadi 1/800 (membuat foto sedikit lebih terang).

 

Jadi sekali lagi untuk contoh di atas, setting yang “paling pas” menurut kamera adalah f2.8, ISO 200 dan shutter speed 1/1600 (foto 1). Namun saya memilih menggunakan setting f2.8, ISO 200 dan shutter speed 1/800 (foto kedua). Perlu dicatat bahwa kedua contoh foto di atas diambil dengan menggunakan Mode Metering yang sama, yakni Mode Center Weighted Metering.

 

Add comment


Security code
Refresh