Memperkuat Foto Pemandangan dengan Objek Manusia



Pada dasarnya dalam foto pemandangan objek yang sering kita potret adalah pemandangan alam entah itu gunung, pantai, goa, sungai, matahari terbit, dermaga di pulau, dll. Pada saat memotret pemandangan tidak jarang kita berusaha meng-exclude (mengeluarkan) objek lain yang bukan pemandangan alam (dari frame foto) karena mungkin kita tidak ingin objek lain (yang bukan pemandangan alam tersebut) mengganggu atau mengurangi keindahan foto. Salah satu objek yang dimaksud adalah orang atau manusia.

 

Seringkali saat kita berada di lapangan, saat memotret pemandangan, ada orang/ manusia yang berseliweran di sekitar objek yang ingin kita potret. Misalnya saat memotret pantai. Mungkin ada banyak orang yang sedang bermain di pantai padahal anda sudah bersiap-siap memotret pemandangan pantai tersebut. Atau ketika anda sudah bersiap-siap memotret bentang gunung, tiba-tiba dari kejauhan muncul warga setempat yang melintas di depan objek yang hendak anda potret. Pertanyaannya adalah apakah anda akan menunggu hingga orang tersebut pergi baru kemudian memotret? Atau berusaha memanfaatkan objek orang tersebut dan memasukkannya ke dalam foto pemandangan anda?

 

Memang pada dasarnya objek yang ingin kita tonjolkan dalam foto pemandangan adalah keindahan bentang alam, namun tidak ada salahnya sekali-kali mencoba memasukkan objek orang/ manusia ke dalam foto pemandangan. Objek orang atau manusia tersebut belum tentu mengurangi keindahan foto pemandangan. Terkadang tidak jarang dengan memasukkan objek orang/ manusia ke dalam foto pemandangan anda bisa memperkuat foto pemandangan dan mengurangi kesan “datar” pada foto yang dihasilkan. Yup, salah satu cara memperkuat foto pemandangan adalah dengan memasukkan objek orang atau manusia.


Perhatikan foto pancaran cahaya di Goa Grubug berikut.

 

 

Salah seorang teman pernah berkata kepada saya, foto ini akan lebih menarik kalau seandainya objek orangnya dikeluarkan dari komposisi foto. Pada saat memotret pancaran cahaya di Goa Grubug ini beberapa orang teman sudah terlebih dahulu berada di depan saya dan sampai tepat di bawah pancaran cahaya yang masuk melalui mulut goa. Saat itu saya justru berpikiran sebaliknya, yakni berusaha memasukkan beberapa teman yang berada di bawah pancaran cahaya ke dalam komposisi foto, meskipun sebenarnya yang menarik perhatian saya adalah pancaran cahaya tersebut. Saya berusaha menunggu beberapa teman ini persis agak disebelah kanan foto dan saat teman-teman ini berada di posisi yang saya inginkan, saya mulai memotret. Saya lebih menyukai foto yang ini dibandingkan foto yang hanya berupa pancaran cahaya saja. Dengan memasukkan beberapa orang teman ke dalam komposisi, foto ini terasa menjadi lebih “hidup”. Selain itu keberadaan teman-teman ini di dalam komposisi foto bisa menjadi “scale” atau skala pembanding sehingga orang yang melihat foto ini bisa lebih mengira-ngira seluas atau seperti apa kondisi di dalam goa ini.

 

Perhatikan lagi foto berikut.

 


Foto di atas diambil saat saya berada di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu. Saat itu saya bermaksud hendak memotret pemandangan Jembatan Cinta beserta bentang laut di kiri kanan jembatan. Namun pada saat saya hendak memotret, tiba-tiba dari kejauhan dua orang gadis kecil di foto ini bergerak mendekat ke arah saya. Keberadaan dua orang gadis kecil yang muncul diluar perkiraan awal saya ini justru menarik perhatian saya. Sambil bergerak cepat, saya langsung mulai membidik dan menunggu hingga kedua gadis kecil ini berada di posisi yang saya inginkan. Ketika kedua gadis kecil ini sampai di posisi yang saya inginkan, tanpa pikir panjang saya langsung memotret. Yahaaa..! Semuanya berlangsung dalam waktu yang sangat cepat. Mungkin hanya sekitar 30 detik atau kurang. Sekali lagi, saya justru lebih menyukai foto ini dibandingkan versi foto yang hanya berisi pemandangan jembatan dan bentang lautnya saja. Kehadiran dua gadis kecil ini serasa memberikan “warna” yang berbeda terhadap foto pemandangan jembatan dan laut di Pulau Tidung ini.

 

Perhatikan foto ketiga berikut. Foto ini diambil di Sabana Selo, Merbabu. Lagi-lagi saya sengaja memasukkan salah seorang teman ke dalam komposisi. Keberadaan teman ini sekali lagi memberi “warna” tersendiri pada foto ini. Seolah-olah menarik mata saya menelusuri garis jalan di dalam foto menuju teman tersebut.


 

Keputusan untuk memasukkan objek orang/ manusia ke dalam foto pemandangan memang banyak dipengaruhi oleh selera individu. Tapi sangat menarik untuk selalu mencoba membuat versi foto pemandangan dengan memanfaatkan objek orang/ manusia untuk memperkuat foto. Terkadang foto yang hanya berisi objek pemandangan alam yang awalnya mungkin terkesan “datar” dan membosankan menjadi lebih hidup ketika kita menambahkan objek orang/ manusia kedalamnya.


Memasukkan objek orang/ manusia ke dalam foto pemandangan dengan maksud untuk memperkuat dan memberi “warna” pada foto boleh dibilang gampang-gampang susah. Salah satu tantangan saat kita berusaha memasukkan objek orang atau manusia ke dalam foto pemandangan adalah bagaimana agar objek orang/ manusia tersebut tidak lebih dominan dari pemandangan alam yang sebenarnya ingin kita tonjolkan dan tidak menggangu objek pemandangan itu sendiri. Kalau begitu, pertanyaan tricky-nya adalah kapan kita harus memasukkan objek orang/ manusia ke dalam foto pemandangan? Sebuah pertanyaan yang mungkin tidak mudah untuk dijawab. Salah satu cara untuk menjawab pertanyaan tersebut adalah dengan berusaha sebisa mungkin (jika memungkinkan pada saat anda memotret) mengambil dua atau lebih foto untuk objek yang sama. Satu foto yang berisi objek pemandangan saja dan satu lagi foto untuk objek yang sama namun dengan memasukkan objek orang/ manusia kedalamnya. Setelah itu kemudian membandingkannya dan menganalisanya di komputer setelah pulang ke rumah. Dari situ anda mungkin akan mendapatkan preferensi atau kecenderungan kapan kira-kira memasukkan objek orang/ manusia ke dalam foto pemandangan anda.

 

“Feeling” dan sensitivitas seorang fotografer juga tidak dapat dipungkiri berperan dalam hal ini. Belajar dari fotografer lain dan sesering mungkin melihat foto-foto fotografer profesional akan membantu kita meningkatkan sensitivitas dan mendapatkan “sense” kapan saatnya memasukkan objek orang/ manusia ke dalam foto pemandangan dan kapan harus menghindarinya.


Selamat bereksperimen!

 

Add comment


Security code
Refresh