18 Tips Memotret Saat Mendaki Gunung

Link artikel lainnya:

1. Tips Memotret Orang: Tatapan Mata, Senyum, Tawa, Ekspresi dan Cahaya

2. Teknik 2: Mendapatkan Fokus Pada Pemotretan Malam Hari dengan Cara Infinity Focus

3. Teknik 1: Mendapatkan Fokus Pada Pemotretan Malam Hari

 


 

Oleh: Niko Tujuhlangit 

Memotret saat melakukan pendakian gunung memiliki tantangan tersendiri dibandingkan memotret di tempat-tempat lain. Bagaimanapun biasanya tujuan utama kita mendaki gunung adalah menikmati keindahan alam selama pendakian, berharap bisa mencapai puncak gunung tersebut dan yang terpenting menyelesaikan pendakian tersebut dengan aman dan selamat. Memotret hanyalah hal kedua alias pelengkap yang bertujuan untuk mengabadikan setiap momen di perjalanan. Lain halnya jika anda memang secara khusus ingin melakukan sesi pemotretan di gunung.

Cuaca dan keadaan alam yang berubah-ubah, jalur pendakian yang terkadang berbahaya, waktu yang terbatas, keharusan untuk tetap selaras dengan jadwal pendakian yang telah disepakati bersama dengan tim, kesiapan fisik, dll, menuntut kita untuk lebih siap dan cekatan dalam mengabadikan pemandangan dan momen-momen selama pendakian berlangsung. Namun dengan berbagai tantangan dan keterbatasan tersebut bukan berarti kita tidak bisa mengabadikan keindahan pemandangan dan setiap momen dengan baik. Berikut beberapa tips yang mungkin bisa dicoba.

 

1. Persiapkan Fisik dengan Baik

Tidak bisa dipungkiri mendaki gunung adalah aktivitas yang membutuhkan kesiapan fisik dan stamina. Membawa kamera dan perlengkapannya pada saat mendaki gunung jelas akan menambah beban dan memerlukan energi ekstra, apalagi jika anda membawa kamera DSLR. Selain menambah beban, energi dan konsentrasi kita sedikit banyak akan tersita untuk memastikan kamera dan perlengkapannya tetap aman selama dalam perjalanan, baik dari benturan, hujan, dll. Oleh karena itu, persiapkan fisik dan stamina anda sebaik mungkin menjelang pendakian. Stamina dan fisik yang bugar akan membuat anda lebih bersemangat dan siap pada saat memotret di gunung.

 

2. Cari Informasi dan Lihat Foto-Foto dari Gunung yang Hendak Didaki

Mencari informasi mengenai gunung yang hendak dituju dari berbagai sumber baik internet, dari teman-teman yang pernah kesana, dll, akan membantu kita memahami seperti apa kondisi gunung tersebut. Biasanya setiap gunung memiliki tempat-tempat yang sangat terkenal dan menjadi icon, misalnya Danau Ranukumbolo di Gunung Semeru, Danau Segara Anak di Gunung Rinjani, dll. Hal ini akan memberikan gambaran kepada kita berbagai kemungkinan untuk melakukan pemotretan bentang alam gunung tersebut.

Jika memungkinkan cobalah melihat-lihat terlebih dahulu foto-foto yang pernah terekam oleh fotografer-fotografer yang pernah berkunjung kesana. Hal ini akan memberikan gambaran mengenai objek-objek disana dan kemungkinan-kemungkinan yang bisa anda lakukan untuk menghasilkan foto-foto yang berbeda dari yang sudah pernah diabadikan sebelumnya.

 

3. Bawalah Lensa yang Benar-Benar Dibutuhkan

Anda mungkin punya seabrek lensa di rumah. Namun membawa semua lensa tersebut saat mendaki gunung tentunya bukan keputusan terbaik karena akan menambah beban selama pendakian dan menguras energi, kecuali jika anda menggunakan jasa porter atau asisten pribadi khusus untuk membawa perlengkapan-perlengkapan tersebut selama pendakian.

Pilihlah lensa yang benar-benar dibutuhkan. Objek yang paling dominan pada saat pendakian adalah pemandangan/ bentang alam. Setelah itu mungkin mengabadikan aktivitas teman-teman anda selama pendakian dan yang terakhir adalah objek-objek makro dan close up seperti bunga, serangga, dll. Dari ketiga objek tersebut, pemandangan/ bentang alamlah yang paling mendominasi foto-foto selama pendakian.

Salah satu lensa yang mungkin patut dipertimbangkan untuk dibawa pada saat mendaki gunung adalah lensa wide (wide lens). Lensa ini biasanya memiliki panjang focal length sekitar 10-40 mm. Dari namanya, wide, dengan lensa ini kita bisa menangkap/ memasukkan view yang lebar/ luas dalam sebuah bidang foto, sehingga sangat cocok untuk memotret pemandangan atau bentang alam pegunungan. Beberapa contoh lensa wide di pasaran misalnya Canon EF-S 10-22 mm f/3,5-4,5 USM, Tokina 11-16 mm f/2,8 DX, Nikon AF-S DX 10-24 mm f/3,5-4,5 DX, dll.

Salah satu pemandangan di Danau Ranukumbo, Semeru

 

Foto di atas diambil dengan menggunakan lensa wide 10-22 mm. Dapat dilihat bahwa dengan lensa wide memberikan keleluasaan untuk mengambil view pemandangan selebar mungkin. View selebar ini tentunya tidak akan bisa diperoleh jika menggunakan lensa telephoto, katakanlah misalnya lensa 55-250 mm, dari posisi yang sama seperti gambar di atas.

Lantas apakah lensa telephoto atau lensa standard zoom yang umumnya memiliki sudut pandang atau view lebih sempit dibanding lensa wide tidak bagus untuk dibawa pada saat mendaki gunung? Tentu saja tidak demikian. Setiap lensa dirancang memiliki fungsi dan kelebihan masing-masing. Lensa telephoto atau lensa standard zoom dengan rentang focal length yang cukup panjang memiliki kelebihan tersendiri. Salah satunya adalah lensa ini memungkinkan kita untuk memotret objek dari jarak yang cukup jauh.

Pagi di Danau Ranukumbulo, Semeru

 

Foto di atas diambil dengan menggunakan lensa 24-70 mm (lensa standard zoom), dengan melakukan zoom-in lensa ke focal length 64 mm. Sudah bisa dipastikan saya tidak akan bisa mengambil foto seperti ini dari posisi yang sama jika menggunakan lensa wide 10-22 mm yang saya miliki, karena focal length terpanjangnya hanya 22 mm. Inilah salah satu kelebihan lensa telephoto atau lensa standard zoom dengan focal length yang cukup panjang dibandingkan dengan lensa wide.

Berapa buah lensa yang harus dibawa pada saat mendaki gunung? Jawabannya ditentukan oleh berbagai faktor diantaranya beban dan kebutuhan anda. Semakin banyak lensa yang dibawa tentunya akan semakin menambah beban selama pendakian. Biasanya dua buah lensa dengan rentang focal length yang saling melengkapi sudah lebih dari cukup untuk memotret berbagai objek di gunung. Lebih dari itu, biasanya akan jarang dipakai. Bagaimana jika seandainya anda hanya ingin membawa satu buah lensa saja karena tidak ingin repot misalnya? Mungkin lensa dengan rentang focal length yang lebar seperti lensa 18-200 mm, lensa 18-135 mm atau lensa 24-105 mm bisa jadi pilihan. Lensa seperti ini memungkinkan anda memotret berbagai objek mulai dari jarak dekat hingga jarak jauh karena rentang focal length-nya cukup lebar.

 

4. Bawalah Filter yang Benar-Benar Dibutuhkan

Pada saat memotret mungkin anda membutuhkan filter tertentu untuk mengatasi kekurangan atau menciptakan efek tertentu pada foto. Ada banyak sekali jenis filter yang dijual diluar sana, seperti Filter CPL, Filter ND, Filter GND, Filter Sunset, Warm Filter, Cool Filter, dll. Namun anda tidak perlu membawa terlalu banyak filter, karena pastinya akan semakin merepotkan dan menambah beban selama pendakian. Selain itu seperti halnya lensa, kemungkinan nantinya hanya beberapa filter yang benar-benar terpakai. Pilihlah filter yang benar-benar dibutuhkan sesuai dengan objek yang hendak difoto. Filter berikut mungkin bisa jadi pilihan anda untuk dibawa pada saat mendaki gunung.

a. Filter CPL (Circular Polarizing)

Salah satu kegunaan filter ini adalah untuk meningkatkan saturasi. Contoh sederhananya adalah pada saat mendaki gunung, ketika cuaca cerah, anda mungkin sering menjumpai langit dengan warna biru yang menawan. Jika pada saat memotret, anda kurang puas dengan warna biru langit yang tertangkap oleh kamera anda, maka tidak ada salahnya mencoba menggunakan filter ini untuk meningkatkan saturasi. Pelajarilah cara penggunaan filter ini agar hasil yang anda peroleh maksimal.

b. Filter GND (Graduated Neutral Density).

Filter ini berbentuk kaca (baik bulat maupun petak) dimana terdapat gradasi dari gelap hingga terang dari bagian atas hingga kira-kira setengah bagian filter. Perhatikan contoh gambar Filter GND berikut.

Filter GND

Filter ini berguna untuk menurunkan intensitas/ jumlah cahaya yang masuk ke lensa. Salah satu kondisi yang sering dijumpai pada saat memotret pemandangan di gunung adalah perbedaan gelap terang yang terlalu tinggi antara dua area dari sebuah objek yang difoto. Sekarang bayangkan anda sedang memotret pemandangan padang ilalang di gunung dimana diatasnya terdapat langit dan awan. Ya, bayangkan setengah dari objek yang anda foto adalah padang ilalang beserta gunung dan setengah bagian atasnya lagi langit dan awan. Lalu anda bersiap memotret, dan ”klik!”. Ternyata ketika anda melihat hasil foto, bagian padang ilalang dan gunung tertangkap dengan baik sedangkan bagian awan dan langit sangat terang dan putih sehingga tidak enak dilihat. Atau sebaliknya, bagian padang ilalang dan gunung terlihat sangat gelap sedangkan awan dan langit tertangkap dengan sempurna. Jika anda pernah mengalami hal seperti ini, Filter GND adalah salah satu solusinya.

c. Filter UV (Ultra Violet)

Saya pribadi menggunakan Filter UV lebih untuk melindungi lensa dari benturan, goresan, tetesan air, debu, dll, selama pendakian berlangsung. Filter UV hampir selalu terpasang di mulut lensa. Bagaimanapun tidak bisa dipungkiri umumnya harga lensa lebih mahal daripada filter. Oleh karena itu, lebih baik filter yang rusak daripada lensa. Selain itu dengan menggunakan filter akan memudahkan dalam perawatan. Jika terkena debu dan air cukup yang dibersihkan filter-nya bukan mulut lensanya.

 

5.   Perlukah Membawa Tripod?

Membawa tripod atau tidak pada saat mendaki gunung terkadang memang menimbulkan dilema. Tripod akan membantu mencegah kamera dari goncangan dan getaran dan  memungkinkan kita memotret pada kondisi cahaya yang minim. Pemandangan di gunung tidak hanya indah di siang hari saja, namun juga mempesona pada malam dan pagi hari sebelum hingga beberapa saat setelah matahari terbit. Pada saat-saat tersebut, kondisi cahaya biasanya minim sehingga tidak memungkinkan kita memotret sambil memegang kamera di tangan. Saat itulah dibutuhkan tripod untuk menghindari goncangan pada kamera. Namun disisi lain masalahnya adalah membawa tripod saat mendaki gunung akan menambah beban yang dibawa. Ini akan menguras energi lebih tentunya. So, which one is your choice? Pilihan ini mungkin lebih bersifat personal choice karena keduanya punya kelebihan dan kekurangan tersendiri.

Beberapa faktor yang mungkin perlu anda pertimbangkan saat hendak memutuskan akan membawa tripod atau tidak adalah jumlah beban yang anda bawa, kemampuan dan kondisi fisik anda dan kebutuhan anda dalam memotret.

 

6.   Persiapkan Memory Card dan Baterai Cadangan

Gunung menyajikan pemandangan dan momen-momen yang tidak terduga. Jadi jangan sampai anda kehilangan kesempatan dan momen berharga tersebut hanya karena memory card penuh dan energi baterai habis. Siapkan memory card dan baterai cadangan sesuai kebutuhan anda. Kosongkan memory card anda dan charge baterai sebelum memulai perjalanan.

Bagaimana jika saat ini anda belum memiliki memory card atau baterai cadangan namun ingin tetap bisa memaksimalkan daya tahan baterai dan bisa memotret lebih banyak? Mungkin beberapa hal berikut bisa dicoba:

(1) Lebih selektif dalam memotret untuk menghemat space di memory card dan memperlama daya tahan  baterai. Usahakan tidak memotret objek yang sama sampai berkali-kali. Perkirakan kapan kira-kira harus memotret. Minimalisir memotret objek-objek yang mungkin tidak terlalu penting. Jangan sampai ketika berada di puncak gunung anda tidak bisa mengabadikannya karena memory card atau energi baterai habis misalnya.

(2) Rubah kualitas foto (image quality). Misalnya kalau biasanya anda memotret dengan kualitas L (Large) mungkin bisa diganti ke M (Medium). Hal ini akan lebih menghemat space di memory card jika memang intensi anda adalah ingin memotret lebih banyak lagi.

(3) Kurangi melihat-lihat (review) foto sambil melihat di LCD Monitor kamera karena pastinya akan mempercepat habisnya energi baterai.

Saya biasanya membawa enam buah baterai dan lebih dari 30 GB memory card setiap kali mendaki gunung. Enam buah baterai cukup bagi saya untuk digunakan sepanjang pendakian mulai dari berangkat hingga turun dari gunung. Sedangkan 30 GB lebih memory card memungkinkan saya memotret dengan format RAW+JPG serta mengambil beberapa foto dari berbagai sudut dan posisi.

 

7.   Lindungi Perlengkapan Kamera Anda

Lindungi perlengkapan kamera anda dari hal-hal yang bisa merusaknya seperti hujan, benturan, dll. Persiapkan tempat atau tas yang aman dan baik. Lapisi tempat/ tas tersebut dengan pelindung hujan (cover). Jangan lupa membawa jas anti hujan (rain coat) yang cukup lebar sehingga bisa menutupi tas kamera anda.

Memotret memang menyenangkan dan tidak jarang membuat kita terlena, apalagi jika melihat pemandangan yang luar biasa. Terkadang hasrat kita untuk tidak mau kehilangan momen membuat kita tidak sungkan memotret pada kondisi yang sebenarnya bisa merusak kamera dan perlengkapannya. Hal ini pernah saya alami saat mendaki Gunung Sindoro. Waktu itu saya memaksakan diri memotret dalam kondisi hujan. Akibatnya dapat dilihat pada salah satu foto berikut.

 

8. Utamakan Keselamatan Diri Anda

Mendaki gunung bukanlah aktivitas sembarangan. Kita berhadapan dengan alam yang sulit diprediksi dan cuaca yang berubah-rubah serta jalur pendakian yang terkadang ekstrim dan berbahaya, yang setiap saat bisa mengancam keselamatan dan jiwa kita.

Jika kondisi tidak memungkinkan untuk memegang kamera misalnya karena jalur yang ekstrim dan berat, ada baiknya masukkan terlebih dahulu kamera ke dalam tas dan fokuslah pada pendakian. Jika telah keluar dari jalur berat tersebut, anda bisa kembali mengeluarkan kamera dan siap memotret kembali. Keselamatan diri anda jauh lebih penting dari apapun saat melakukan pendakian.

Ketika menuju Puncak Syarif di Gunung Merbabu, saya terporosok dan jatuh ke dalam sebuah lubang di pinggir jalur dengan kedalaman sekitar satu meter karena terlalu asik memotret. Untungnya waktu itu saya tidak mengalami cedera apa-apa dan kamera serta lensa tidak mengalami kerusakan meskipun dipenuhi pasir dan debu.

 

9. Pintar-Pintarlah Mencuri Waktu

Saat melakukan pendakian bersama tim anda, tentunya tim memiliki jadwal pendakian yang telah ditentukan. Kapan harus berangkat, kapan saat singgah, dll. Anda sebagai salah satu bagian tim tentunya tidak bisa berlama-lama memotret dan harus mengikuti jadwal tim. Pintar-pintarlah mencuri waktu! Bergeraklah dan memotretlah secepat mungkin. Jangan terlalu lama di satu tempat.

 

10. Cobalah Berbagai Spot dan Sudut

Pemandangan di gunung menyediakan berbagai kemungkinan dan variasi spot dan sudut dalam memotret. Jangan terpaku pada sebuah  spot. Cobalah semua kemungkinan. Anda akan menghasilkan berbagai foto dengan komposisi dan perspektif yang berbeda.

 

11. Selalu Ada Objek Menarik Untuk Dipotret

Mungkin ada saat-saat dimana kita merasa kehabisan akal untuk menciptakan foto yang menarik dan berbeda saat berada di gunung. Hal ini saya alami ketika mendaki Gunung Lawu. Hampir sepanjang perjalanan foto-foto yang dihasilkan terkesan datar karena pemandangan yang didominasi hutan. Ketika sampai di sebuah tempat, saya mencoba berhenti. Melihat sekeliling. Mencoba menjauh dan mendekat. Yahaaaa...! Akhirnya saya menemukan objek ini. Setidaknya foto ini sedikit mengobati rasa ”kurang puas” saya.

Sebuah Pohon di Gunung Lawu

 

Merunduklah, menjauh, mendekat, lakukan zoom-in dan zoom-out pada lensa anda, cobalah segala kemungkinan, maka bukan tidak mungkin anda akan menemukan sesuatu yang berbeda dari sebuah objek yang tadinya mungkin anda anggap biasa.

 

12. Cobalah Memotret Pada Pagi dan Malam Hari

Pemandangan di gunung tidak hanya indah di siang hari yang cerah, tapi juga pada saat-saat pagi (sebelum dan satu atau dua jam setelah matahari terbit) dan malam hari! Anda akan menemukan pemandangan yang mungkin tidak terduga-duga pada waktu-waktu tersebut.

Deretan Gunung Sindoro, Sumbing dan Perahu. Foto diambil dari Merbabu

Foto di atas saya ambil saat berada di Puncak Menara (tower), Gunung Merbabu. Waktu itu kami sampai disini sekitar jam 21.00 WIB. Setelah menaruh barang, beberapa waktu kemudian saya menyadari sepertinya akan menarik jika saya memotret dari atas sebuah bangunan yang terdapat di Puncak Menara. Dan benar saja, ketika saya naik ke atas bangunan tersebut, saya dapat melihat pemandangan malam kota Magelang dan Boyolali yang dihiasi gemerlap lampu-lampu dan deretan beberapa gunung sebagai bonusnya. Luar biasa! Akhirya tanpa berpikir panjang saya mendirikan tripod dan memasang kamera lalu mulai memotret. Saya menghabiskan waktu sekitar dua jam di atas bangunan tersebut untuk memotret dan menghasilkan puluhan foto dengan berbagai variasi komposisi dan sudut pemotretan. Foto di atas adalah salah satunya.

 

13. Ciptakan Foto Tanpa Kamera

Pernahkah anda menemukan pemandangan yang menawan di gunung tapi anda tidak bisa memotretnya karena hujan misalnya? Mungkin bisa jadi anda kesal karena tidak bisa mengabadikannya. Ups, tapi tunggu dulu! Mungkin anda harus bersabar sejenak dan menunggu kesempatan lainnya datang.

Itulah yang saya alami saat mendaki Gunung Semeru. Jika diantara anda ada yang pernah mendaki Gunung Semeru pasti sudah familiar dengan Danau Ranukumbolo, Oro-Oro Ombo dan Kalimati. Kejadian ini berawal ketika kami berangkat dari Danau Ranukumbolo menuju Kalimati (sebelum akhirnya menuju Puncak Semeru). Tepat setelah melewati Tanjakan Cinta di Danau Ranukumbolo, kita akan disuguhi pemandangan menawan Oro-Oro Ombo. Saat itu saya benar-benar dibuat terkagum-kagum dengan indahnya hamparan padang ilalang Oro-Oro Ombo dengan latar beberapa bukit dan pohon-pohon pinus. Namun apa daya waktu itu saya dan seorang teman tidak bisa mengabadikan keindahan tersebut dengan sepuas mungkin, karena waktu itu hujan mulai turun.

Lantas apa yang saya lakukan? Sebuah hal sederhana yang nantinya akan menghemat waktu saya! Meskipun saat itu saya tidak bisa memotret dengan kamera namun saya berusaha terus berpikir dan menganalisa serta ”menciptakan” foto di dalam fikiran. Saya terus mencoba berfikir kira-kira darimana saya akan memotret dan seperti apa komposisi foto nantinya yang bisa diciptakan jika datang kesempatan untuk memotret kembali disini (di Oro-Oro Ombo) saat turun gunung.

Benar saja! Setelah turun dari Puncak Semeru, kami melanjutkan rute perjalanan turun kembali dengan rute puncak- Kalimati - Oro-Oro Ombo - Danau Ranukumbolo. Kami sampai di Oro-Oro Ombo saat hari sudah hampir gelap dan hujan, sehingga lagi-lagi saya tidak mungkin memotret di Oro-Oro Ombo dan harus bersabar hingga esok paginya. Padahal sesuai rencana tim, esok paginya kami harus sudah berangkat pukul tujuh pagi! Itu artinya kesempatan saya untuk mengabadikan keindahan Oro-Oro Ombo terbatas! Tapi untungnya sebelumnya (saat menuju puncak ketika melewati Oro-Oro Ombo) saya sudah membayangkan dan menganalisa kira-kira darimana dan komposisi seperti apa yang bisa saya ciptakan. Malam itu saya tinggal mengingat-ingat kembali dan memperkirakan esok pagi harus bangun jam berapa dan berapa lama waktu yang saya perlukan untuk bisa mengabadikan keindahan Oro-Oro Ombo seperti yang sudah saya imajinasikan.

Esok paginya sekitar jam lima kurang saya langsung mempersiapkan kamera, tripod, filter dan pelengkapan lainnya. Pertama saya menyempatkan diri memotret sejenak di Tanjakan Cinta sekitar kurang lebih 20-30 menit lamanya. Mengingat saya belum sempat mengabadikan keindahan Oro-Oro Ombo, akhirnya saya langsung bergegas beralih ke Oro-Oro Ombo. Sesampainya di Oro-Oro Ombo, saya tidak terlalu lama menghabiskan waktu untuk menganalisa dan mengira-ngira darimana harus memotret, karena sebelumnya ketika berangkat saya sudah membayangkan hal tersebut. Saya tinggal menuju ke spot-spot yang sudah dibayangkan sebelumnya dan mulai memotret sepuasnya! Kurang dari satu jam saya sudah mengabadikan puluhan foto keindahan Oro-Oro Ombo dari berbagai sudut dan komposisi yang saya inginkan! Jadi, tetaplah ”memotret” pada saat-saat anda tidak bisa mengeluarkan kamera. Tetaplah menganalisa sekeliling anda.

Pagi di Oro-Oro Ombo

 

14. Manfaatkan Fitur Exposure Bracketing

 Anda pernah menghasilkan foto seperti berikut?     

 

Di foto di atas kita bisa melihat bagian langit terlihat terlalu terang sedangkan bagian daratan (rumput, pohon dan bukit) tertangkap dengan baik sebagaimana kondisi aslinya.  Hal di atas terjadi karena perbedaan gelap terang antara bagian daratan (rumput, pohon dan bukit) dengan bagian langit terlalu tinggi. Pada kondisi seperti ini kamera tidak mampu menangkap kedua bagian tersebut secara sempurna atau dengan kata lain kamera kita akan “memilih” salah satu dari kedua bagian tersebut untuk “dikorbankan”. Hasilnya? Yup, di foto di atas bagian langit “dikorbankan”. Langit terlihat “washed out” sehingga foto tidak enak dilihat mata.  

 

Kondisi seperti di atas akan sering anda jumpai pada saat mendaki gunung. Lalu bagaimana caranya agar bisa menghasilkan foto dimana kedua area pada foto di atas bagian daratan (rumput, pohon dan bukit) dan bagian langit bisa tertangkap dengan baik? Salah satu solusinya adalah dengan menggunakan Filter GND (Graduated Neutral Density).

Bagaimana jika seandainya anda tidak memiliki Filter GND? Solusi lainnya adalah dengan melakukan exposure bracketing. Exposure bracketing adalah salah satu teknik dimana kita memotret sebuah objek yang sama dengan beberapa exposure yang berbeda (biasanya tiga exposure dimana satu foto dengan normal exposure, satu foto dibuat underexposed  dan satu foto lagi dibuat overexposed). Dengan teknik ini kita akan menghasilkan beberapa foto dengan terang gelap yang berbeda-beda.

Beberapa foto dengan exposure yang berbeda tersebut nantinya tinggal digabung di software pengolah foto untuk menghasilkan sebuah foto dimana bagian daratan dan bagian langit menjadi jelas dan lebih enak dilihat. Saat ini ada banyak software yang tersedia untuk menggabung beberapa buah foto dengan exposure yang berbeda menjadi sebuah foto yang lebih dinamis.

Untuk lebih detail tentang bagaimana menggunakan fitur exposure bracketing di kamera, anda dapat membaca manual kamera yang anda miliki.

 

15. Bukan Hanya Foto Pemandangan

Pemandangan/ bentang alam adalah objek yang paling dominan saat mendaki gunung, tapi jangan biarkan diri anda terpaku hanya memotret pemandangan/ bentang alam saja. Anda bisa membuat variasi misalnya dengan memasukkan objek lain dan memotret aktivitas pendaki di sepanjang perjalanan. Ada banyak momen-momen berkesan dari aktivitas dan gerak-gerik rekan-rekan anda selama pendakian.

 

16. Cobalah Membuat Foto Siluet

Anda mungkin bisa mencoba membuat foto-foto siluet saat mendaki gunung. Foto siluet memiliki kekuatan dan nuansa tersendiri bagi yang melihatnya. Foto-foto siluet akan menambah variasi dan warna pada koleksi foto-foto pendakian gunung anda. Ada banyak peluang untuk membuat foto siluet saat berada di gunung. Anda hanya perlu memperhatikan setiap kesempatan dengan seksama.

Foto oleh Dwie Indrajie. Diambil di Puncak Mahameru, Semeru

Foto di atas diambil saat pendakian Gunung Semeru. Tepat beberapa meter menuju Puncak Semeru, saya yang saat itu berada di belakang seorang teman melihat sebuah momen yang menarik untuk membuat foto siluet. Posisi matahari berada di belakang teman tersebut. Suasana awan dan langit yang sedikit gelap dan berkabut memungkinkan  membuat foto siluet lebih dramatis. Setelah sampai di puncak, saya mengambil pose berdiri sambil memegang sebuah tiang yang terdapat di Puncak Semeru dan meminta teman tersebut memotret dari arah depan. Klik! Jadilah foto di atas.

 

17. Coba Pada Kondisi Cuaca dan Pencahayaan yang Berbeda

Satu hal yang sering saya lakukan jika saya memiliki kesempatan dan waktu lebih adalah memotret objek yang sama pada kondisi cuaca dan pencahayaan yang berbeda. Kondisi cuaca dan cahaya di gunung dapat berubah dengan dramatis hanya dalam waktu singkat. Bisa jadi beberapa waktu lalu cuaca mendung, namun siapa sangka beberapa menit kemudian tiba-tiba cerah. Perubahan kondisi cuaca dan cahaya bisa memberikan efek yang berbeda pada foto yang dihasilkan yang mungkin tidak pernah disangka-sangka! Foto sebuah objek yang pagi ini terkesan datar mungkin esok pagi bisa menjadi spektakuler dan dramatis karena perubahan kondisi cuaca dan cahaya. Saya juga sering menunggu beberapa menit dan mengambil foto kedua dan seterusnya setelah memotret foto yang pertama untuk sebuah objek yang sama. Hal ini saya lakukan untuk melihat apakah ada perubahan kondisi cahaya agar bisa menghasilkan beberapa foto dengan pencahayaan yang berbeda.

 

18. Potretlah Sebanyak-Banyaknya

Kamera sekarang sudah sedemikian canggihnya sehingga memungkinkan kita untuk memotret sepuas-puasnya dan sebanyak mungkin. Anda hanya perlu mempersiapkan memory card yang memadai untuk melakukan hal ini. Jadi potretlah sebanyak-banyaknya! Jangan sungkan-sungkan! Cobalah berbagai sudut dan komposisi serta titik pemotretan karena belum tentu suatu saat anda memiliki kesempatan lagi untuk kembali ke gunung tersebut.

Semoga tips-tips di atas bermanfaat. Jika anda memiliki tips-tips memotret saat mendaki gunung, silahkan berbagi disini. Selamat mendaki gunung dan selamat memotret! Salam ViewIndonesia!

 

Comments   

 
0 #1 imanshan 2016-02-03 01:31
Thanks a lot bray untuk semua artikelnya sangat membantu sekali,,,slm
Quote
 
 
0 #2 imanshan 2016-02-03 01:33
Thanks a lot bray,,artikelny a smua gamblang banget,,,smoga ente tmbh sukses y,,,slm
Quote
 
 
0 #3 Niko 2016-02-03 16:53
Mas Imanshan: sama sama mas...terimakas ih Mas. Sukses juga untuk mas
Quote
 
 
0 #4 Eksapedia 2016-07-20 12:57
Wah sangat menarik sekali gan infonya. Cocok banget buat pemula seperti saya :D
Quote
 
 
0 #5 grosir spon mandi mu 2017-03-22 04:07
Terima kasih atas informasinya. Semoga sukses selalu.
http://grosirsponmandi.klikspo.com/
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh