Pengaruh Spot Metering Pada Foto

Baca Juga:

1. Menggunakan Spot Metering Untuk Memahami Cahaya dalam Fotografi

2. Apa yang Dimaksud dengan STOP Dalam Fotografi?

3. Horizon dalam Fotografi

4. Teknik 1: Mendapatkan Fokus Pada Pemotretan Malam Hari

5. Autofocus dan Manual Focus pada Kamera DSLR

 


 

Oleh: Niko TujuhLangit 

 

Salah satu hal penting yang perlu dipahami untuk menghasilkan foto dengan eksposur (exposure) yang tepat dan oke adalah perihal Mode Metering. Untuk memahami apa itu eksposur, anda dapat membaca tulisan saya di link berikut ini:

 

 http://www.viewindonesia.com/index.php/artikel-fotografi/19-exposure

 

Apa itu metering? Metering adalah cara kamera menentukan eksposur atau dengan kata lain metering adalah bagaimana cara kamera menentukan nilai shutter speed (kecepatan rana) dan aperture (F), berdasarkan/tergantung pada jumlah cahaya yang masuk ke kamera dan sensitivitas sensor kamera.

 

Belajar menggunakan Mode Metering yang berbeda pada kamera adalah keterampilan penting karena dengan mempelajari hal tersebut kita akan lebih memahami bagaimana cara kamera menangkap scene atau bagian-bagian tertentu dari objek yang kita potret.

 

Terdapat beberapa Mode Metering di kamera:

1) Evaluative Metering

2) Partial Metering

3) Center Weighted Metering

4) Spot Metering

 

Mohon diperhatikan bahwa istilah di atas adalah istilah yang digunakan pada kamera merk Canon. Terdapat perbedaan istilah pada merk lainnya, misalnya pada Nikon istilah yang digunakan untuk Evaluative Metering adalah Matrix Metering. Jadi silahkan merujuk kepada manual kamera anda.

 

Mode-mode metering di atas dapat anda akses di menu kamera anda. Silahkan baca buku manual kamera anda untuk mengakses Mode Metering ini.

 

Nah, setiap tipe Mode Metering yang saya sebutkan di atas memiliki cara atau pendekatan yang berbeda dalam mengukur atau “membaca” cahaya yang dipantulkan oleh objek ke kamera. Akibatnya adalah setiap Mode Metering akan menghasilkan exposure foto yang berbeda-beda.

 

Pengaruh Spot Metering Pada Foto

Nah kali ini saya akan sharing sedikit tentang bagaimana pengaruh Spot Metering terhadap foto yang dihasilkan. Sebagian besar kita saat memotret mungkin jarang menggunakan Spot Metering. Umumnya Mode Metering yang paling sering digunakan adalah Mode Evaluative Metering atau Mode Center Weighted Metering. Belajar menggunakan Spot Metering membantu kita memahami proses metering itu sendiri dan meningkatkan pemahaman mengenai perilaku cahaya.

 

Penjelasan berikut ini bertujuan untuk memahami bagaimana pengaruh Spot Metering terhadap foto yang dihasilkan. Penjelasan saya jabarkan dalam bentuk poin-poin untuk memudahkan memahaminya step by step.

 

1) Foto berikut ini saya ambil di Pulau Payung sebagai contoh untuk memudahkan memahami bagaimana dampak Spot Metering terhadap foto.

 

2) Pada percobaan ini saya mengambil 3 buah foto yang dihasilkan dari melakukan Spot Metering pada tiga spot (titik) yang berbeda yang terdapat dalam objek yang saya potret.

 

3) Pada foto yang saya potret ini terdapat beberapa bagian atau objek diantaranya kapal, jembatan, bagian langit, pepohonan, dll.

 

 

4) Tiap-tiap bagian tersebut (bagian langit, kapal, jembatan, dll) memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam memantulkan cahaya ke kamera. Akibatnya adalah pada saat kita melakukan Spot Metering pada bagian-bagian yang berbeda tersebut akan dihasilkan bacaan atau setting shutter speed dan aperture yang berbeda-beda.

 

5) Berikut adalah 3 foto yang dihasilkan dengan menggunakan setting shutter speed dan aperture yang dihasilkan dari melakukan Spot Metering pada 3 spot/titik yang berbeda, yakni pada bagian kapal, bagian jembatan kayu dan bagian langit.

 

Foto 1

Foto 1 dihasilkan dengan menggunakan shutter speed dan aperture yang didapat dengan melakukan Spot Metering pada bagian jembatan kayu. 

 

 

Foto 2

Foto 2 dihasilkan dengan menggunakan shutter speed dan aperture yang didapat dengan melakukan Spot Metering pada bagian kapal. Shutter speed  dan aperture yang dihasilkan adalah 1/160 dan f13.

 

Foto 3

Foto 3 dihasilkan dengan menggunakan shutter speed dan aperture yang didapat dengan melakukan Spot Metering pada bagian langit. Shutter speed  dan aperture yang dihasilkan adalah 1/320 dan f13.

 

 

Apa yang bisa kita saksikan dari eksperimen di atas?

Anda dapat melihat bahwa foto yang dihasilkan dengan melakukan Spot Metering pada 3 titik yang berbeda akan menghasilkan foto dengan eksposur dan terang gelap yang berbeda-beda. Pada Foto 1 bagian jembatan kayu terekspos dengan baik dan mendekati seperti yang terlihat oleh mata, namun bagian langitnya terlihat overexposed dan terlalu terang dibandingkan kondisi nyatanya. Pada Foto 2, bagian kapal terekspos dengan baik dan mendekati seperti yang terlihat oleh mata, namun bagian jembatan kayu justru terlihat agak lebih gelap dari kondisi sebenarnya. Sementara pada Foto 3, bagian langit terlihat oke, namun bagian kapal dan jembatan kayu terlihat sangat gelap dibandingkan kondisi sebenarnya.

 

Disini kita dapat melihat bahwa setiap benda-benda dalam objek yang ingin kita potret memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam memantulkan cahaya dari sumber (untuk kasus ini sumber cahaya adalah cahaya matahari) ke kamera. Akibatnya exposure dan terang gelap foto yang dihasilkan juga berbeda-beda. Selain itu, dapat kita lihat bahwa dengan menggunakan Spot Metering akan lebih memudahkan kita untuk menentukan kira-kira bagian mana dari objek yang hendak kita foto yang ingin kita tonjolkan dan terekspos dengan baik karena untuk menghasilkan foto yang oke tidak selamanya semua bagian dalam sebuah objek foto harus terekspos dengan tepat. Bagian-bagian yang kurang/tidak penting terkadang perlu dibuat “underexposed” agar bagian utama/subjek utama yang ingin kita sampaikan lewat foto tersebut terlihat lebih menonjol.

 

Add comment


Security code
Refresh